Catatan-catatan

Dari Kosmologi Jawa hingga Kritik Sosial: Jagorama Session 3 Bedah Kenapa Ilmu Makin Sulit Dicari

Batu Wathan.id– Ruang Balai Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, berubah menjadi panggung pergulatan pemikiran luhur, Rabu malam (26/8). Puluhan budayawan, akademisi, hingga pemangku adat lesehan bersama meresapi bait demi bait ajaran luhur Jawa dalam Jagorama (Jagongan Rabu Malam) Session 3. Forum ngaji dan diskusi budaya yang digagas Pengurus Cabang Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) NU Kota Batu tersebut membedah tuntas pesan moral Serat Wulangreh karya Raja Surakarta, Sinuhun Pakubuwono IV.

Suasana khidmat sudah terasa sejak awal. Lantunan tembang Syi’ir Tanpo Waton dan gema istighosah bergema syahdu seusai lagu Indonesia Raya dipandukan. Kehadiran figur-figur kawakan seperti Mas Samsoe Soeid, Cak Pentol, serta Mbah Umar penggiat budaya Kota Malang makin mempertegas bobot diskusi yang dipandu oleh moderator Ki Suwandi, S.S., M.A.P.

Fokus utama pembahasan malam itu tertuju pada Pupuh Dhandhanggula pada 7 dan 8. Dua bait ini menguliti dinamika degradasi moral serta fenomena hubungan guru dan murid yang kini dinilai kian “sungsang-sumbelih”.

“Angel temen ing jaman mangkin, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong njaja ngelmune…” (Bait 7)

“Ingkang lumrah ing mangsa puniki, apan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik tingale…” (Bait 8)

WhatsApp Image 2026 08 29 at 10.25.02

Pakar Budaya dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr. Ki Riyanto Hanggendali, M.Hum., memaparkan betapa visionernya Pakubuwono IV saat meracik Serat Wulangreh pada akhir abad ke-18. Teks klasik tersebut bukan sekadar karya sastra, melainkan peta navigasi etika yang presisi melintasi zaman.

diskon

“Bait ketujuh dan kedelapan ini kritik sosial yang amat tajam. Pakubuwono IV sudah memprediksi zaman di mana ilmu dijajakan bak komoditas—njaja ngelmune—dijual demi ketenaran, eksistensi, atau materi semata,” tegas Ki Riyanto di hadapan peserta diskusi.

Ia menambahkan, disorientasi peradaban terjadi ketika hakekat menuntut ilmu terbalik: guru yang sibuk mencari panggung demi menggaet pengikut (guru ingkang golek sabat), bukannya murid yang berjuang mendatangi guru dengan keikhlasan dan laku prihatin (ngupaya ilmu).

Diskusi semakin bernas saat Ki Riyanto menarik benang merah sejarah, menjelaskan bagaimana Nusantara masa lampau disematkan predikat bak Swargaloka atau tanah surga oleh bangsa-bangsa dunia berkat kesuburan dan keagungan peradabannya, sebelum akhirnya dinamika politik menggerusnya hingga era Mataram Surakarta.

Perspektif Catur Yoga—siklus empat zaman dalam kosmologi Jawa (Kertayoga, Tretayoga, Dwaparayoga, hingga Kaliyoga)—juga dikupas tuntas. Diskusi tersebut menegaskan pentingnya pegangan etika di tengah pergeseran menuju era Kaliyoga atau zaman kegelapan, tempat di mana nilai spiritualitas dan keteladanan kerap kalah oleh kepraktisan sesaat.

Melalui majelis Jagorama, Lesbumi Kota Batu tak sekadar merawat tradisi literasi Nusantara, melainkan menyalakan kembali kompas moral masyarakat agar tidak kehilangan akar etika di tengah arus zaman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button