Ansor Terkini

In Memoriam Saifuddin Zuhri : Sosok Ikhlas, Penggerak, dan Penjaga Persahabatan

Sebuah kaleng kecil merah bertuliskan Coca-Cola—yang kala itu masih menjadi barang mewah bagi kantong mahasiswa—keluar dari sakumu yang baru turun dari sepeda motor di depan kampus Unisma Malang. Kau membukanya, lalu kita menikmatinya bersama. Kebiasaan sederhana seperti itu menjelma menjadi bumbu manis yang merawat kewarasan dan kehangatan persahabatan kita.

Di lain kesempatan, hari sudah menjelang sore ketika aku baru teringat harus melakukan konsultasi dan meminta tanda tangan skripsi kepada Dosen Pembimbing II, Prof. Dr. Ir. Nurhidayati, M.P. Beliau tinggal di kawasan Sempal Wadak, Bululawang—sebuah wilayah yang cukup jauh dari pusat Kota Malang dan saat itu belum terjangkau oleh angkutan umum. Langkah ini harus berkejaran dengan waktu agar aku bisa segera menghadap Dosen Pembimbing I, Prof. Dr. Ir. And. Mukri Prabowo, M.Agr., sebelum beliau bertolak ke Australia untuk tugas belajar.

Di tengah kebingungan di depan Gedung Rektorat Unisma, sebuah solusi datang menyerupai takdir. Seorang pemuda dengan tinggi di atas rata-rata yang mengendarai GL Pro—sepeda motor yang cukup keren di era itu—menghampiriku. “Mau ke mana?” tanyanya. Begitu mendengar kata “Sempal Wadak”, serta-merta ia menyodorkan kunci motornya tanpa ragu, “Pakai saja. Temui aku atau simpan di kosmu kalau sudah selesai.”

Mungkin ini hanya satu dari sekian banyak serpihan kebaikan Sahabat Udin—begitu kami biasa memanggil Saifuddin Zuhri, pemuda yang rumahnya berada di Jalan Arjuna No. 28, Batu. Ini adalah kesaksian personal tentang sifatnya yang dalam tradisi Jawa disebut gampangan: sebuah kelenturan jiwa yang tidak pernah rumit dalam mengulurkan tangan kepada sesama.

Bagi Udin, menolong orang lain bukanlah sebuah beban kalkulatif, melainkan sebuah refleks alami dari jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

diskon

Saya yakin sebagian besar mahasiswa jurusan Agronomi seangkatan kita tidak akan pernah melupakan betapa horornya tahapan akhir skripsi kala itu. Sebelum sebuah penelitian melahirkan kesimpulan, kami harus melewati labirin rumit bernama analisis ANOVA (Analysis of Variance / Analisis Ragam) untuk melihat pengaruh perlakuan, yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Lanjut seperti BNT (Beda Nyata Terkecil) atau Duncan dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) atau Rancangan Acak Kelompok (RAK). Di era ketika aplikasi statistik belum jamak di genggaman tangan, tahapan manual itu terasa begitu menyiksa.

Namun, kamu hadir menjadi “aplikasi hidup” bagi sahabat-sahabatmu. Hingga larut malam, bahkan menjelang fajar, di depan sebuah komputer tabung (PC) yang cukup tangguh kala itu—sebuah fasilitas mewah yang tidak semua orang beruntung memilikinya—kamu menyediakan waktu dan energimu. Dengan sabar, jemarimu memasukkan angka demi angka hasil pengamatan yang rumit, hingga akhirnya tersaji menjadi data analisis yang akurat, cepat, dan mudah dibaca. Kamar pojok di lantai dua Jalan Arjuna No. 28, Batu, telah sah menjadi saksi bisu bagi keikhlasanmu yang tanpa pamrih.

Setelah hampir lima tahun garis hidup memisahkan kita, pada awal tahun 2000-an kita kembali dipertemukan. Kamu tampak lebih bijaksana. Banyak motivasi dan saran bernas yang kau berikan untuk rintisan usahaku. Analisis visimu tentang masa depan dunia usaha ternyata sama akuratnya dengan caramu menganalisis angka-angka penelitian di komputermu dulu.

Sejak saat itu, berkunjung ke Kota Batu rasanya tidak akan pernah lengkap tanpa memarkirkan kendaraan atau sekadar melintas di depan ruko Jalan Arjuna No. 28. Rute itu seperti ritual wajib yang sengaja kupilih demi merawat tali silaturahmi. Di masa-masa akhir ini, pertemuan kita sering kali diisi oleh obrolan ngalor-ngidul tentang Nahdlatul Ulama, tentang Gerakan Pemuda Ansor, hingga dinamika PKB. Ternyata, khidmah dan pengabdianmu di ketiga organisasi ini seakan menjadi kalimat penutup yang manis (khusnul khatimah) bagi jalinan persahabatan kita di dunia.

Sebulan yang lalu kita masih bertatap muka. Kamu tampak bugar seperti sedia kala; sisa-sisa trauma dari kecelakaan waktu itu telah sirna sepenuhnya. Namun, takdir sering kali bekerja dalam rahasia yang senyap.

Kemarin, seorang sahabat dari Batu mengirimkan pesan di grup WhatsApp, meminta tambahan doa (ziadah doa) untuk seorang kader Ansor Batu yang sedang terbaring kritis di rumah sakit. Aku sudah menjadwalkan siang ini untuk menjengukmu. Namun, pagi ini, ketika aku menghubungi nomor ponselmu, suara perempuan di ujung telepon—perempuan yang dulu kau kenal saat sama-sama menimba ilmu di Fakultas Pertanian Unisma—menyambutku dengan isak tangis yang pecah.

Allah SWT telah memanggilmu pulang. Kamu telah melangkah lebih dulu untuk bersimpuh di hadapan Sang Kekasih Tertinggi, mendahului kami semua yang masih tertatih di fana ini.

Keikhlasanmu adalah warna dasar yang selalu kau goreskan di setiap kanvas kehidupan, di mana pun kamu berada. Kamu sengaja berjalan mendahului kami, mungkin karena sifat gampangan-mu itu kembali bekerja: kamu ingin bersiap di sana, menyambut sahabat-sahabatmu yang kelak menyusul, dan memastikan kami mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Seperti tempat indah yang tengah kamu tempati saat ini, Rawdah min riyad al-jannah… Semoga makammu menjadi bagian dari taman-taman surga. Amin.

Selamat jalan, Sahabat Saifuddin Zuhri. Khidmahmu telah usai, dan namamu abadi dalam doa. Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Editor & Ilustrasi: Alfi Saifullah

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button