Aswaja Universal

Nafas Regenerasi Kaum Santri: Mengapa NU Harus Tetap Berjiwa Muda?

Momentum refleksi historis kembali bergelora pada perayaan Hari Lahir (Anniversary) Himpunan Santri Majapahit (HISMA) Tebuireng yang ke-59 di Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto pada 5 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, pakar tafsir Al-Qur’an kontemporer sekaligus hafiz terkemuka asal Tebuireng, Almukarrom Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag., menyampaikan sebuah renungan mendalam yang sangat kontekstual dengan dinamika jamiah saat ini.

Kiai Musta’in mengutarakan bahwa ketika berziarah ke Maqbarah Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, membaca Yasin dan Tahlil tentu sebuah kebaikan. Namun, idealnya, ada satu surat favorit Hadratussyaikh yang sangat dianjurkan untuk dibaca, yaitu Surah Al-Kahfi. Lebih lanjut, beliau membedah substansi terdalam dari Al-Kahfi, yang esensinya mengisahkan tentang Ashabul Kahfi: representasi pemuda yang tangguh, idealis, berprinsip, dan adaptif terhadap tren zamannya.

Pesan tersirat ini seolah menjadi lonceng pengingat yang berdentang tepat waktu. Hanya berselang sepekan, tepatnya pada 12 Juli 2026, Nahdlatul Ulama di wilayah Kecamatan Pacet, Mojokerto, menggelar agenda krusial: Konferensi Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pacet yang ke-11.

Membaca 55 Tahun Kiprah NU Pacet

Secara historis, usia NU di Kecamatan Pacet telah menginjak 55 tahun—sebuah usia yang matang dan sarat pengalaman. Berbagai prestasi telah diukir dan rekor khidmah telah dipecahkan oleh para pengurus dari masa ke masa. Namun, di tengah kematangan usia tersebut, Konferensi ke-11 ini harus dijadikan momentum keberanian untuk berubah, berbenah, lebih terbuka, dan peka terhadap disrupsi zaman.

Sejarah mencatat bahwa gagasan kemajuan sering kali lahir dari benturan pemikiran antargenerasi. Sebagai contoh, pada medio 2010-an saat teknologi internet berbasis Wi-Fi mulai menjamur, Telkom memberikan penawaran pemasangan gratis untuk fasilitas sosial, termasuk Graha NU Pacet. Saat itu, respons pengurus struktural didominasi kekhawatiran atas dampak mudarat internet, seperti pornografi, sehingga usulan tersebut ditolak.

Tiga tahun berselang, digerakkan oleh kepanitiaan Hari Lahir (Harlah) yang didominasi generasi muda, Wi-Fi akhirnya dipasang secara mandiri. Hasilnya? Fasilitas tersebut justru menjadi magnet yang menghidupkan basis perkumpulan. Narasi kecil ini adalah potret nyata dari disparitas pemikiran antara golongan senior dan junior yang jamak terjadi di tubuh organisasi.

diskon

Agar friksi serupa tidak terulang, MWC NU harus bertransformasi menjadi organisasi yang “ramah anak muda”. NU secara spirit harus selalu “muda”. Gaya kepemimpinan dan aksi khidmahnya wajib menjaga keberadaan organisasi agar tetap segar (fresh). Berdasarkan regulasi internal organisasi, kader-kader potensial alumni GP Ansor dipagari oleh batasan usia maksimal 40 tahun. Alangkah bijaknya jika struktur Tanfidziyah MWC NU Pacet mulai berbenah dengan menyerahkan estafet kepemimpinan operasional kepada kader-kader visioner yang berusia di bawah 50 tahun.

Tantangan Burnout Kaderisasi dan Siklus “Bibit” Organisasi

Kader, dalam definisi sosiologi organisasi, adalah sekelompok orang yang dibina untuk menjadi pilar utama penopang visi lembaga. Proklamator kita, Mohammad Hatta, secara puitis menganalogikan kader seperti “bibit pohon”. Sejalan dengan itu, pemikir Islam Ahmad Wahib pernah menegaskan bahwa syarat mutlak organisasi kader yang sehat adalah melahirkan anggota yang “sadar”, bukan sekadar pengikut yang “penurut”.

GP Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU adalah kawah candradimuka yang memproduksi kader-kader andal ini. Keberlanjutan pengaderan mereka harus terwadahi secara struktural di NU pasca-demisioner dari badan otonom (banom). Jika ruang tumbuh di internal NU tersumbat, bukan tidak mungkin potensi hebat mereka justru akan menguap atau justru ditampung oleh kelompok lain (minhum).

Tantangan ini kian nyata di era keterbukaan informasi. Mengutip ulasan NU Online terkait dinamika organisasi, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) pernah mengingatkan bahwa NU dan pesantren terancam larut begitu saja dalam pusaran zaman tanpa kontribusi berarti jika tidak diimbangi strategi yang kuat. Gus Yahya menekankan pentingnya tiga pilar: Visi masa depan yang valid, Komitmen kepemimpinan yang kokoh, dan Konstruksi (tandhim) organisasi yang koheren.

Jika kader adalah bibit, maka tugas struktural MWC adalah menyediakan tanah yang subur, air yang cukup, dan unsur hara yang pas. Mengabaikan ruang gerak generasi muda sama saja dengan membiarkan “panen kader” dipetik oleh pihak lain, atau membiarkan kapasitas sang kader mengalami stagnasi.

Fenomena ini diperparah oleh ancaman psikologis yang nyata. Pakar psikologi organisasi sekaligus alumni PMII dan IPNU, Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A., dalam ulasannya di NU Online (3 Juli 2026), memperkenalkan istilah burnout kaderisasi. Kondisi ini merupakan kelelahan emosional akut akibat tingginya ritme aktivitas organisasi yang tidak diimbangi oleh manajemen regenerasi dan penguatan motivasi yang sehat.

“Jika kaderisasi hanya menekankan loyalitas struktural tanpa memperhatikan kebutuhan aktualisasi diri sang kader, mereka akan kehilangan makna berorganisasi. Tantangan NU hari ini bukan sekadar mengajak kader masuk, tapi membuat mereka merasa bertumbuh, dihargai, dan relevan dengan masa depan profesi mereka,” tulis Dr. Aguswan.

Relevansi Demografis Gen Z dan Milenial di Tubuh NU

Fakta demografis tidak bisa didebat. Sebuah ulasan di harian Jawa Pos baru-baru ini membedah fenomena birokrasi Indonesia yang lambat berkembang karena masih didominasi kultur kerja Baby Boomers dan Generasi X. Akibatnya, Generasi Z dan Milenial yang memiliki karakteristik praktis, dinamis, digitalis, dan transparan merasa tidak betah (enjoy).

Sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar, NU menghadapi replika realitas yang sama. Dalam lima tahun ke depan, komposisi warga dan pengurus NU di tingkat akar rumput akan didominasi oleh generasi kelahiran tahun 1990-an ke atas (Milenial akhir dan Gen Z). Karakteristik mereka membutuhkan organisasi yang kosmopolit, mampu menjembatani jaringan usaha (networking), serta peka terhadap isu-isu profesionalitas.

Konferensi XI MWC NU Pacet bukan sekadar ritual lima tahunan untuk merebut atau mempertahankan kursi kepengurusan. Ini adalah momentum emas untuk meneguhkan arah kompas perjuangan. Organisasi yang besar bukanlah organisasi yang keras kepala mempertahankan cara-cara lama, melainkan yang mampu menjaga kesucian nilai luhurnya sembari tangkas beradaptasi dengan realitas zaman.

Regenerasi bukanlah ancaman yang menggeser peran para senior, melainkan jaminan agar warisan perjuangan mereka tidak punah. Sebaliknya, kaum muda tidak boleh jemawa; pengalaman para kiai dan tokoh senior adalah kompas hikmah yang menjaga laju kereta organisasi agar tidak keluar dari rel syariat.

Al-muhafazhatu ’alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Kaidah ushul fikih yang menjadi jargon NU ini harus dibumikan di Pacet. Menjaga NU tetap muda tidak akan mengikis tradisi para muassis (pendiri), melainkan memastikan obor perjuangan mereka tetap menyala di tangan generasi berikutnya.

Mari bentangkan karpet merah, ciptakan iklim yang kondusif, dan biarkan yang muda berkarya demi kejayaan Nahdlatul Ulama.

Editor: Alfi Saifullah

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button