Catatan-catatan

Dari Jalanan ke Hati Kita—Solidaritas untuk Affan Kurniawan

"Tragedi Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meninggalkan luka mendalam. Bagi Pemuda Ansor, peristiwa ini adalah panggilan untuk memperkuat solidaritas dan memperjuangkan keadilan sosial, demi demokrasi yang sehat dan perlindungan hak rakyat kecil."

Nyawa Rakyat, Luka Bangsa

Di jalanan yang ramai, di tengah riuhnya tuntutan dan teriakan, seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan berpulang. Ia seorang pengemudi ojek online—pekerja keras yang setiap hari mengarungi panas, hujan, dan kemacetan demi sepotong rezeki. Mungkin bagi sebagian orang ia hanyalah sosok biasa, tetapi justru dari yang ‘biasa’ itu kita belajar makna luar biasa??tentang keteguhan, tentang ketulusan, dan tentang keberanian hidup sederhana.

Kabar meninggalnya Affan di depan Gedung DPR adalah luka yang menembus jauh ke hati kita. Luka itu bukan hanya milik keluarga yang ditinggalkan, melainkan milik kita semua. Sebab nyawa rakyat, siapa pun dia, adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan alasan apa pun. Life is priceless—dan ketika satu nyawa hilang karena sebuah peristiwa publik, maka sejatinya yang terguncang bukan hanya keluarga, melainkan juga martabat bangsa.

Demokrasi dan Suara dari Jalanan

Demokrasi bukanlah sekadar simbol, melainkan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan isi hati tanpa takut kehilangan nyawa. Kita anak muda, sering bicara tentang demokrasi. Tapi mari kita jujur—demokrasi bukanlah sekadar kursi empuk dan mikrofon di ruang sidang. Demokrasi adalah keberanian rakyat untuk bersuara, dan keberanian negara untuk mendengar. Affan adalah bagian dari suara itu. Ia mewakili wajah-wajah yang sering kita temui di jalan—pengemudi ojol, pedagang kaki lima, buruh harian. Mereka inilah denyut nadi bangsa. Mereka bukan statistik, bukan ‘angka’ di data ekonomi, melainkan manusia dengan mimpi, dengan keluarga, dengan doa yang setiap hari dipanjatkan.

Maka tragedi ini bukan sekadar insiden. Ia adalah wake up call—sebuah pengingat keras—bahwa kita harus membangun bangsa ini di atas keadilan dan kemanusiaan. Kita tidak ingin menambah luka dengan saling menyalahkan. Pemuda Ansor tidak datang untuk menyulut kebencian, melainkan untuk menyalakan lilin solidaritas. Dalam konteks ini pula, Pemuda Ansor menegaskan sikap—tidak untuk memperuncing perpecahan, melainkan untuk menyalakan api solidaritas.

Solidaritas, Bukan Kebencian

Kita mendesak agar pengusutan dilakukan dengan adil dan transparan. Justice must be seen and felt. Keadilan itu bukan sekadar kata dalam undang-undang, ia harus hidup, nyata, dan hadir di tengah rakyat. Karena tanpa keadilan, kepercayaan akan runtuh, dan tanpa kepercayaan, bangsa ini tak akan pernah kuat.

Kita juga ingin mengingatkan, aparat dan rakyat sejatinya bukan musuh. Mereka adalah saudara sebangsa. Aparat adalah penjaga, rakyat adalah yang dijaga. Bila keduanya saling berhadap-hadapan dengan kekerasan, maka yang runtuh adalah jembatan persaudaraan. Aparat harus hadir untuk protect, not hurt; serve, not silence. Hanya dengan cara itu kepercayaan publik bisa dijaga, dan demokrasi tetap sehat. Dan mari kita jadikan tragedi ini sebagai pengingat untuk terus memperjuangkan keadilan. Pemuda Ansor mengajak seluruh anak muda untuk tidak berhenti bersuara, dengan cara yang damai, humanis, dan penuh empati.

diskon

“Solidaritas dan keadilan sosial adalah napas demokrasi, dan Pemuda Ansor akan selalu berdiri di sisi hak rakyat.”

Pemuda Ansor percaya—suara anak muda adalah suara keadilan. Kita ingin dikenal bukan karena teriakannya paling keras, melainkan karena keberanian berdiri di sisi kemanusiaan. Solidaritas ini adalah warisan moral yang harus kita rawat. Affan mungkin sudah tiada, tetapi kisahnya akan terus hidup sebagai pengingat bahwa bangsa ini harus selalu berpihak pada mereka yang paling lemah.

Dan pada akhirnya, kita semua akan sampai pada satu kesadaran—keadilan sosial bukanlah mimpi, melainkan kewajiban. Jika sebuah bangsa ingin maju, maka yang pertama-tama harus dijaga adalah nyawa rakyatnya. Karena tanpa kemanusiaan, setiap pencapaian hanyalah kosong belaka.

Renungan dan Doa

Tragedi yang menimpa almarhum Affan Kurniawan bukan hanya sekadar kabar duka, tetapi sebuah cermin bagi kita semua bahwa keadilan adalah napas dari sebuah bangsa. Jika napas itu terhenti, maka bangsa akan tersengal. Dari kisah ini, kita belajar betapa pentingnya menjaga hak rakyat, betapa mahalnya nilai kemanusiaan, dan betapa rapuhnya sebuah negeri jika keadilan dikesampingkan.

Sebagai anak muda, sebagai bagian dari Pemuda Ansor, kita tidak ingin tragedi ini hanya menjadi berita yang lalu begitu saja. Kita ingin ia menjadi doa, menjadi seruan, dan menjadi pengingat bahwa bangsa ini harus terus dibangun dengan kasih, keadilan, dan solidaritas.

“Ya Allah, ampunilah saudara kami Affan, lapangkanlah kuburnya, terimalah ia sebagai syuhada yang Engkau muliakan, dan berikanlah kesabaran kepada keluarganya. Jaga bangsa ini dengan keadilan dan kasih sayang-Mu, dan jauhkanlah kami dari segala bentuk kedzaliman.”

Maka, izinkan pula kami menutup dengan doa para ulama terdahulu, doa yang senantiasa dilantunkan agar negeri ini selalu dalam lindungan Allah:

Allahumma aj’al hadza al-balad baladan aminan, mutma’innan, saqiyyan, wasa’iran bil-khairati wa ni’amin.”
Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, penuh keberkahan, serta dilimpahi kebaikan dan nikmat-Mu.

Doa yang sama pernah diucapkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan diwariskan hingga kini—bahwa tugas kita sebagai bangsa bukan hanya menjaga tanah air ini, tetapi juga merawatnya dengan kasih, keadilan, dan keberanian untuk berpihak pada rakyat.

Sebagaimana pesan Imam Ali bin Abi Thalib yang tak lekang oleh waktu: “Sebuah negeri bisa tegak meskipun kafir, tetapi tidak akan tegak jika dipenuhi dengan ketidakadilan.”

Keadilan sosial adalah fondasi bangsa. Solidaritas adalah napas anak muda. Dan kemanusiaan adalah jalan yang tak boleh kita tinggalkan.

Aethera Aditi

Seseorang yang tinggal di Kota Batu. Suka dengan berbagai jenis novel, dan terutama dunia Literasi secara umum. Berharap bermanfaat luas bagi orang lain. Mempunyai motto, "Jangan biarkan dunia digital membuatmu lupa akan kekuatan kata-kata. Literasi bukan tentang membaca, tapi tenang berpikir kritis, menganalisis, dan menciptakan. Tetaplah menjadi pembaca yang cerdas, bukan hanya konsumen informasi."

Related Articles

7 Comments

  1. semoga indonesia Aman. Dan seperti doa yang dipanjatkan di artikel ini ‘Allahumma aj’al hadza al-balad baladan aminan, mutma’innan, saqiyyan, wasa’iran bil-khairati wa ni’amin’

  2. Paling penting kita jg keutuhan NKRI saling berbenah diri. Jgn sampai saling menyalahkan. Semoga Mas Affan diterima di sisiNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button