Ketika Semua Menjadi Pemain: Yang Tersisa Setelah Perhelatan Konferensi MWC NU XI Berlalu

Wathan.id – Ada sebuah perbincangan menarik di grup WhatsApp panitia konferensi. Setelah beberapa foto kegiatan diunggah, sayup-sayup terdengar protes dari beberapa aktivis perempuan NU. “Mana foto yang mengabadikan aktivitas dapur? Golongan kita sering kali terlupakan,” ujarnya.
Salah satu divisi atau seksi yang tidak kasat mata wujudnya tetapi perannya sangat nyata adalah divisi konsumsi. Peran mereka mutlak tidak bisa diabaikan; logistik wajib dalam sebuah perhelatan. Semua harus terencana dan terperinci. Salah sedikit saja, itu menjadi noda yang tak termaafkan.
Sering kali mereka adalah orang-orang yang bersiap (standby) paling dini, bahkan sebelum panitia lain menghampiri. Kopi dan camilan adalah awalan sempurna untuk sebuah kegiatan kaum laki-laki. Lalu, kegiatan diakhiri dengan nasi kotak sebagai “pembuka kunci rumah”, yang akan dihadiahi senyum hangat dari istri tercinta saat menyambut kepulangan.
Namun, seksi ini sering luput dari liputan karena mereka selalu berada di belakang layar, di balik hiruk-pikuknya kegiatan. Kamera pun sering kali lupa mengabadikan seksi yang “terbelakang” secara posisi ini. Padahal, beliau-beliau itulah perempuan-perempuan hebat yang tak pernah berkata tidak untuk menjadi penentu suksesnya kegiatan.
Mengakomodasi Unsur Perempuan Di saat konferensi berlangsung, sebuah kalimat yang sedikit provokatif terunggah di grup warga NU dan panitia konferensi: “Dari telaah AD/ART Pengurus MWC, tidak ada halangan untuk mengakomodasi perempuan. Semua pengurus laki-laki itu hanya tradisi. Pacet bisa menjadi pionir sebuah tradisi yang konstruktif.”
Seketika terletuplah diskusi kritis tentang posisi perempuan di struktur MWC NU. Ada yang mendukung, ada pula yang kontra. Permasalahan di masyarakat—dan warga NU khususnya—sudah cukup kompleks dan menumpuk. Masalah-masalah tersebut membutuhkan penanganan yang berani dan progresif.
Keberadaan perempuan dalam struktur MWC, khususnya jajaran tanfidziyah, bisa menjadi ice breaker sekaligus oase dalam setiap diskusi, upaya penyelesaian masalah, dan penanganan program. Perbedaan perspektif antara perempuan dan laki-laki dalam memandang masalah justru akan memperkaya sudut pandang dan dialektika organisasi.
Filosofi Total Football
Diinisiasi oleh Rinus Michels dan dipopulerkan oleh Johan Cruyff di klub Ajax Amsterdam serta Timnas Belanda pada awal 1970-an, Total Football (atau totaalvoetbal) adalah sistem taktik sepak bola di mana setiap pemain lapangan dapat secara fleksibel bertukar posisi dan mengambil alih peran satu sama lain tanpa mengubah struktur organisasi tim. Strategi ini menuntut pemain memiliki kemampuan menyerang dan bertahan yang sama baiknya.
Jika diadaptasikan ke dalam organisasi, konsep ini mewujud dalam Kepemimpinan yang Kolektif dan Kolegial. Lancarnya kegiatan konferensi kemarin didukung oleh kebersamaan panitia yang bekerja dengan determinasi kuat. Dalam kondisi tertentu, melihat siapa yang paling siap untuk mengeksekusi tahapan kegiatan adalah komitmen awal di luar batasan job description. Target waktu menjadi ukuran utama jalannya tahapan kegiatan.
Langkah positif ini diharapkan bisa menjadi laboratorium mini pengelolaan organisasi NU di Pacet, bahkan bagi MWC NU Pacet secara keseluruhan.
Berkhidmat di NU memang membutuhkan totalitas. Namun, sosok aktivis NU bukanlah manusia super yang memiliki tenaga dan waktu tanpa batas untuk organisasi. Ada tanggung jawab keluarga, lingkungan, dan pekerjaan di luar NU yang harus dihidupi. Fenomena one-man show sering kali menjadi potret yang jamak tampil. Seorang Ketua MWC, Ketua Ranting, maupun ketua badan otonom (Banom) serta lembaga selalu menjadi figur yang sangat sentral. Tradisi representasi organisasi seakan tidak sah (afdal) tanpa kehadiran sosok ketua—sebuah gejala sentralistik akut.
Akibatnya, kegiatan di luar NU tidak jarang terbengkalai. Dampak buruknya, mereka yang punya potensi kuat sebagai pemimpin justru menjadi “alergi” untuk masuk ke dalam struktur, apalagi menjadi sosok sentral, karena kesibukan mereka di luar organisasi.
Selain itu, belum ada instrumen kuat yang membuat struktur NU menjalankan laku kebersamaan dan kesetaraan (kolektivitas dan kolegialitas) yang tersurat dalam pedoman tata laksana organisasi, sebagaimana yang dimiliki oleh PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Di PMII, ada ruang bagi Wakil Ketua dan Wakil Sekretaris untuk eksis secara legal, misalnya dalam urusan surat-menyurat. Sementara di NU, jabatan Wakil Ketua—utamanya di jajaran tanfidziyah MWC—sering kali tak lebih dari sekadar jabatan akomodatif dan pemanis belaka.
Sebagai tambahan, Timnas Spanyol adalah salah satu tim yang sangat akrab dengan filosofi Total Football ini. Kiblat sepak bola negara tersebut berada di Barcelona, klub yang akademinya rajin melahirkan pemain-pemain hebat. Ketika Johan Cruyff menjadi pelatih Barcelona, ia membawa filosofi tersebut ke Spanyol. Di akademi La Masia, prinsip-prinsip Total Football diajarkan kepada para pemain muda sejak dini.
Gaya bermain ini kemudian dimodifikasi menjadi aliran umpan-umpan pendek yang kita kenal sebagai tiki-taka. Melalui gaya ini, Spanyol dan Barcelona berhasil menguasai dunia. Bahkan jika mereka harus puas menjadi runner-up di beberapa kompetisi, itu tetap menjadi bukti sahih keampuhan filosofi ini. Apalagi, produk terbaik La Masia seperti Lionel Messi telah membuktikan bagaimana sistem kolektif mampu melahirkan magis di lapangan hijau.
Penutup
Konferensi MWC NU Pacet sesungguhnya bukan hanya tentang memilih ketua atau menyusun kepengurusan baru. Ia adalah ruang belajar bersama tentang bagaimana sebuah organisasi besar dijalankan. Di balik panggung, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa sorotan; ada perempuan-perempuan yang memastikan setiap orang terlayani, dan ada panitia yang rela bertukar peran demi memastikan setiap tahapan berjalan tepat waktu.
Dari sana kita belajar bahwa organisasi tidak dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh jejaring manusia yang saling menguatkan. Kepemimpinan yang dibutuhkan NU ke depan bukanlah kepemimpinan yang bertumpu pada satu figur (superman), tetapi kepemimpinan yang kolektif-kolegial (superteam): memberi ruang kepada perempuan, menghidupkan peran para wakilnya, dan membuka kesempatan bagi setiap kader untuk mengambil tanggung jawab sesuai kemampuan.
Jika semangat itu mampu dipelihara, maka Konferensi MWC NU Pacet tidak hanya melahirkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan budaya organisasi yang lebih sehat, lebih inklusif, dan lebih adaptif terhadap tantangan zaman. Sebab, merawat jamiah bukan sekadar memilih pemimpin, melainkan membangun ekosistem kepemimpinan yang membuat setiap orang merasa memiliki, dihargai, dan dipercaya untuk berkhidmat.
Barangkali, itulah warisan paling berharga dari sebuah konferensi: bukan tentang siapa yang terpilih, melainkan nilai-nilai apa yang tumbuh dan hidup setelahnya.
Editor: Alfi Saifullah



