Catatan-catatan

Dan Tuhan Tersenyum Melihat Ndan Bahrul #4

Gus, Panwas, dan Rokok

Malam itu di sebuah warung kopi di pojok desaKecamatan Bumiajimendadak lebih ramai dari biasanya. Enam anggota Ansor: Rizal, Yayak, Khitam, Alfi, dan Ayufi tampak duduk melingkar diantara para pengunjung yang lain. Mereka ngopi, diskusi, sesekali mengasapi langit malam dengan bau rokok seperti cerobong pabrik kecil-kecilan.

Yang paling kalem dintara mereka tentu Ayufi. Sekretaris Ansor, seorang guru SD negeri, wajahnya teduh seperti wali kelas yang baru selesai menenangkan murid yang rebutan penghapus. Di sebelahnya, Ahsanul Khitam. Bijaksana. Politis. Warga Kapru sekaligus anggota Panwaslu. Cara bicaranya pelan, tapi auranya seperti orang yang kalau senyum saja sudah terasa ada anggaran turun.

Di tengah lingkaran duduk Ismu Adit dengan rambutnya sedikit acak. Ia kader Ansor, tetapi lebih akrab dengan kambing daripada podium organisasi. Lelaki asli Betawi itu memilih menetap di Jawa Timur. Baginya hidup sederhana jauh lebih menenangkan daripada sibuk mengejar pengakuan.

Alfi duduk di sebelah Adit. Ia pimred Wathan.idterbiasa menyusun kata menjadi peluru pemikiran. Artikel dan kolomnya yang tersebar di berbagai media. Namun di balik idealismenya, ia tetaplah lelaki yang gemar bercanda dan sering menjadi bahan olokan kawan-kawannya.

Ketua AnsorRizalduduk paling depan seperti sedang memimpin sidang darurat negara. Ketua Ansor itu memang punya bakat alami menjadi pusat keributan. Bola matanya besar seperti habis melihat laporan kas Ansor yang tiba-tiba minus. Kalau mulai bicara, teman-temannya otomatis diam. Bukan karena hormat. Tapi takut kebagian volume suaranya yang menggelegar.

Sementara Yayak, tepat disamping Rizal. Di setiap acara Ansor, Yayak seperti orang yang tidak bisa diam. Saat yang lain masih sibuk ngobrol atau menunggu instruksi, ia sudah mondar-mandir menata kursi, mengangkat galon, mengecek sound system, sampai memastikan kopi panitia tidak kosong. Badannya kecil, tapi tenaganya seperti tidak habis-habis.

diskon

—0—

Malam itu Rizal menyalakan rokok dengan gerakan lambat, lalu menghembuskan asap panjang. Setelah itu tangannya menghantam meja warung sampai gelas kopi Ayufi bergetar kecil.

“Masalah umat hari ini…” kata Rizal berat.

Semua menoleh.

“…adalah mental pamer!”

Nada suaranya menggelegar seperti toa musholla habis diservis teknisi sound horeg. Bahkan bapak-bapak yang main ceki di sebelah sempat nengok, mengira ada keributan kecil. Rizal makin panas.

“Sedikit-sedikit upload sowan. Sedikit-sedikit foto cium tangan. Sedikit-sedikit bilang ‘nderek dawuh gus’. Padahal yang didawuhi kadang cuma disuruh nganter galon!”

Alfi, yang tak jauh dari Ayufi hampir muncrat kopinya. Namun Rizal belum selesai. Kalau sudah pidato, remnya seringkali blong.

“Sekarang ukuran kewalian itu aneh!” lanjutnya sambil nunjuk udara. “Semakin banyak rokok di meja, semakin dianggap alim. Semakin sering bilang ‘iki rokok gak tau tuku’, makin dianggap karomah!”

Ayufi hanya senyum tipis. Sementara Ahsanul Khitam cuma mengangguk bijak sambil membuka bungkus rokok ketiganya. Sikapnya seperti pejabat yang tahu situasi negara sedang lucu tapi ia memilih tetap elegan.

Tiba-tiba Yayak nyeletuk dari pojokan. Kader Ansor satu ini memang berperawakan mungil dengan muka perpaduan pelawak Srimulat dan karyawan ekspedisi. Kaosnya masih bau sayur karena baru setor kubis dan sawi ke SPPG terdekat. Pun di kepalanya masih nempel satu daun seledri kecil yang entah sudah berapa jam ikut rapat.

“Sing penting…” katanya santai sambil nyeruput kopi.

Rizal berhenti bicara.

“…dudu mental nyicil, Zal.”

Sunyi dua detik. Lalu warung pecah.

Alfi tertawa sampai batuk. Ayufi nunduk sambil nepuk meja pelan. Sementara Ismu Adit sampai mukul paha sendiri sambil bilang, “Bangke dah, ni orang emang kagak ada obat.”

Bahkan penjual kopi yang dari tadi pura-pura tidak mendengarkan ikut ketawa sambil nyeletuk, “Iyo, sing pamer rokok kadang utange nang warung luwih akeh.”

Sejurus kemudian Ismu Adit sibuk mbenerin rambut gondrongnya yang tampak kalah rapi dibanding kandang kambingnya sendiri.

“Gue mah bingung ye,” katanya dengan aksen Betawi ke-Jawa Timur-an, “kenape sekarang banyak para gus ngomongnya kayak motivator MLM?”

Alfi cuma cengar cengir sambil nyatet. Baginya, ini bahan tulisan yang asyik, lebih nikmat daripada secangkir kopi. Obrolan tersebut menyikapi ke fenomena oknum gus yang suka pamer akan banyaknya tamu dan sowan membawa rokok atau salam tempel.

“Ngene iki rokok ora tau tuku…” kata Rizal menirukan gaya gus sambil dadanya dibusungkan.

Ayufi yang biasanya kalem tiba-tiba nyeletuk pelan, “Iyo gus… gak tuku. Tapi sing ngekeki yo tetep ae tuku.”

Semua langsung ngakak sampai Yayak keselek.

Di tengah tawa itu, mata mereka tertuju pada rokok milik Ahsanul Khitam yang berjajar di meja. Ji Sam Soe. Surya. Dan satu lagi rokok tanpa cukai yang bentuknya seperti hasil fotokopi rokok asli.

Yayak melongo memandang Khitam. “Sampeyan iki ngalahno koperasi ae, Cak.”

Ismu mengangguk kagum. “Buset dah. Rokoknya saja tumpuk tiga.”

Tiba-tiba Rizal mendadak berdiri agak dramatis.

“Saudara-saudara!” katanya menggelegar. “Malam ini kita mendapat kesimpulan penting!”

Semua diam.

“Untuk mendapat rokok tumpuk tiga… kita tidak perlu capek-capek jadi gus!”

“Terus?” tanya Alfi.

Rizal memandang Ahsanul Khitam penuh semangat.

“Cukup jadi anggota Panwaslu Kecamatan!”

Warung kopi meledak oleh tawa. Bahkan penjual kopi sampai nyeletuk pelan, “Pantesan biaya pemilu sangat mahal.” hahahahaha

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button