Ansor Terkini

Transformasi GP Ansor Kota Batu

Merdeka… Merdeka… Merdeka…

Sebuah kata yang begitu banyak mengandung makna dan juga kisah dibaliknya. Tentu menjadi kata yang ditunggu-tunggu oleh sekitar 61 juta jiwa penduduk Indonesia pada 80 tahun yang lalu. Ya, kini negeri kita sudah berusia 80 tahun. Sebagaimana rutinitas setiap peringatan kemerdekaan, aku bersama anak bangsa yang lain mengikuti Upacara Bendera sebagai salah satu tanda rasa cinta tanah air masih ada di dalam dada. Namun, dari tahun ke tahun aku bertanya di dalam pikiranku sendiri tentang apa makna kemerdekaan yang sebenarnya. Secara umum, kemerdekaan dapat diartikan sebagai kebebasan dari penjajahan dan penindasan, serta kemampuan untuk mengatur diri sendiri sebagai bangsa yang berdaulat.

Tentunya untuk mewujudkan itu semua bukanlah hal mudah. Sebagaimana dawuh Sang Wasilah berdirinya Nahdlatul Ulama, KH. As’ad Syamsul Arifin. Beliau mengatakan bahwa “Kalau kalian tidak mau repot, jangan berjuang, karena perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan”. Mungkin kalimat ini menggambarkan betapa hebatnya para pejuang kemerdekaan Indonesia. Mereka menyerahkan segala sesuatu yang dimiliki untuk kemerdekaan negeri ini. Harta yang mereka punya diberikan untuk kebutuhan perjuangan. Dan nyawa pun dipertaruhkan untuk mewariskan kemerdekaan bagi anak cucu mereka. Sungguh kita tidak akan mampu melukiskan kebesaran perjuangan yang sudah dilakukan oleh para pejuang dan pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga, kita sebagai pewaris kemerdekaan bisa mengambil hikmah dan mampu mengambil tongkat estafet perjuangan pada masa kini. Aamiin..

Ketika berbicara soal perjuangan dan pengorbanan, aku menjadi teringat salah satu sahabatku. Sosok yang saat ini menjadi Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Batu masa khidmat 2024-2028, Sahabat Mochamad Rizal Fakhruddin. Sahabat yang sering dipanggil Gus Rizal ini menjadi pionir pembawa perubahan di dalam Gerakan Pemuda Ansor Kota Batu yang terdiri dari 3 Pimpinan Anak Cabang, 23 Pimpinan Ranting yang ada di setiap desa dan kelurahan. Gus Rizal seringkali menyampaikan dalam forum-forum formal maupun nonformal bahwa “Perjuangan dan pengorbanan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.” Ungkapan ini menjadi spirit berjuang di organisasi warisan Muassis Nahdlatul Ulama’, yaitu Mbah KH. Wahab Chasbullah.

Hal ini sangat relevan dengan kondisi pemuda saat ini, di tengah zaman digitalisasi yang rentan terhadap menurunnya interaksi sosial, bahkan berkurangnya empati kepada orang-orang di sekitar. Gerakan Pemuda Ansor hadir sebagai jawaban atas harapan masyarakat untuk menjadi benteng kokoh bagi pemuda dalam beragama,berbangsa dan bermasyarakat. Di dalam organisasi yang berdiri pada 24 April 1934 ini kita diajarkan nilai-nilai spiritual, sosial, dan kemandirian. Dalam implementasi nilai-nilai tersebut sangat erat sekali dikaitkan dengan perjuangan dan pengorbanan sahabat-sahabat pengurus Gerakan Pemuda Ansor. Dengan intensitas perjuangan ini mampu membuahkan semangat persatuan dalam berpikir dan bertindak dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Melalui kegiatan berorganisasi pula, diharapkan para pemuda mampu menjadi solusi atas permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Gerakan Pemuda Ansor dalam beberapa waktu terakhir fokus kepada mobilisasi massa secara fisik hingga akar rumput yang tak bisa diragukan lagi kesetiaannya. Saat ini, dalam menghadapi disrupsi digital dan perubahan demografi, membuat Ansor perlu menggeser paradigma tanpa meninggalkan nilai-nilai khittah perjuangan, melainkan melakukan pendekatan baru yang lebih relevan dan berdaya saing. Selaras dengan hal tersebut, melalui Visi “Transformatif, Kuat dan Berkemandirian” Gus Rizal berharap Ansor di Kota Batu bisa melakukan percepatan pergerakan untuk mencapai kemandirian organisasi.

diskon

Seiring bergulirnya waktu, tentu banyak perubahan yang terjadi di sekitar kita. Ansor Kota Batu perlu melakukan transformasi untuk adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa mereduksi nilai-nilai keansoran yang fundamental. Jika hal ini bisa dilakukan, maka organisasi ini akan bertumbuh, dinamis dan berkembang untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat Kota Batu. Beberapa langkah konkret sudah ditunjukkan oleh Ansor Kota Batu dengan kegiatan yang menyentuh langsung kepada masyarakat. Sebagai contoh adanya kegiatan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor dari satu desa ke desa lain dalam setiap 3 bulan sekali. Keistimewaan yang ada dalam kegiatan ini, sebelum kegiatan Pembacaan Sholawat di lakukan di malam hari selalu diawali dengan aksi peduli dengan memberikan sembako gratis kepada kaum dhuafa yang ada di sekitar lokasi kegiatan.

Hal ini menjadi wujud empati Ansor Kota Batu kepada masyarakat Kota Batu. Upaya lain yang telah dilakukan adalah aktivitas ekonomi pada momentum Hari Raya Idul Adha 1446 H. Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Batu membentuk Sobat Farm yang merupakan wadah perekonomian di bidang peternakan yang bergerak dalam jual beli hewan qurban. Dalam pelaksanaannya, aktivitas ekonomi ini banyak melibatkan kader Ansor sebagai peternak, investor, distributor hingga konsumen. Langkah ini sangat positif bagi perkembangan sebuah organisasi yang ingin mencapai kemandirian dalam ekonomi. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi Sumber Daya Manusia kader Ansor juga menjadi prioritas program PC GP Ansor Kota Batu. Dalam waktu dekat, akan dilakukan penguatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk kader maupun masyarakat umum melalui program Ansor University. Mari kita tunggu kabar baik dari Ansor Kota Batu untuk terus memberikan kemanfaatan kepada masyarakat Kota Batu. Semoga.

Ayufi Sholichodin

Pria berpembawaan kalem, teduh, dan tenang ini merupakan Sekretaris Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Batu. Setiap hari ia berprofesi sebagai pengajar di SDN Ngaglik 04 Kota Batu. Baginya, mengabdi di Nahdlatul Ulama merupakan lahan beribadah dan lahan perjuangan.

Related Articles

3 Comments

  1. Kader Ansor mengupayakan diri tetap menjunjung keluhuran budi pekerti, santun dan kritis dalam artian:
    Santun dalam menyampaikan aspirasi, kader Ansor menggunakan bahasa yang bijak, menghormati pihak lain, serta mengedepankan musyawarah. Bersikap kritis yaitu tetap berani mengoreksi kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat, khususnya yang berdampak pada lingkungan, sosial, dan pembangunan daerah. Kritik disampaikan dengan solusi, bukan sekadar penolakan.
    Selain itu kader Ansor selalu memiliki kepekaan serta kepedulian kepada lingkungan termasuk turut serta mendukung pembangunan daerah. Pada program lingkungan kader Ansor dapat terjun langsung pada pelestarian, pengelolaan sampah, konservasi air, hingga kampanye hidup bersih. Turut mendukung pembangunan desa/daerah dengan ikut dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) sampai pada konteks dapat mempengaruhi suatu kebijakan strategis. bahkan menjadi mitra pemerintah dalam mengawasi pembangunan supaya tepat sasaran, serta menyalurkan ide-ide segar untuk kemajuan ekonomi lokal.

    1. Kados e Mas Khitam harus ikut menuangkan pemikirannya dalam Wathan.id. komennya terlalu panjang, alangkah baiknya bila dirubah menjadi artikel. Bisa dibaca banyak orang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button