Dan Tuhan Tersenyum Melihat Ndan Bahrul #5

Kullu Mutsu Wal Dirot: Ketika Banser Ambil Alih Mimbar
Pukul 11.30 WIB, Siang itu, Sang Surya sedang pamer kekuatan. Panasnya tidak tanggung-tanggung, menerobos tepat di atas tenda pernikahan. Hari itu—Rifki, anggota GP Ansor melangsungkan pernikahan. Rifki akhirnya memutuskan menyudahi masa lajangnya. Ia duduk di pelaminan dengan takzim. Wajahnya tegang, antara grogi dan menahan gerah di balik jas tebal berwarna hitam.
Acara temu berikut serah terima pengantin baru saja selesai. Di sudut halaman, para personel Banser berseragam lengkap tampak berjaga dengan dedikasi tanpa batas. Pasukan baret doreng ini dikomandoi oleh Ndan Bahrul, seorang Banser senior yang wajahnya selalu kaku, sekaku beton cor—tapi hatinya selembut bubur sumsum.
Ketegangan dimulai ketika MC mengumumkan bahwa agenda berikutnya adalah mauidoh hasanah (ceramah pernikahan). Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Senyap. Ada ketegangan yang merayap di antara deretan kursi undangan. Gus Makin, kiai muda kondang yang dijadwalkan memberi petuah, belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Ndan, Gus Makin belum datang. WA-nya centang satu. Sepertinya beliau terjebak kemacetan akhir pekan,” bisik Udin, seorang santri senior.
Tuan rumah mulai panik. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras. Menunggu Gus Makin dalam ketidakpastian. Para hadirin di bawah tenda pun juga terjebak dalam kecemasan.
Dalam situasi darurat dan nyaris putus asa, pandangan tuan rumah tertuju pada satu sosok: Ndan Bahrul. Sebagai Banser senior, Ndan Bahrul adalah lambang otoritas, benteng terakhir pertahanan moral.
“Ndan, demi kemaslahatan dan demi harga diri keluarga kami, panjenengan harus naik panggung. Gantikan Gus Makin!” rintih perwakilan tuan rumah, setengah memaksa.
Ndan Bahrul tercekat. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa tak berdaya, bingung. Namun, dengan langkah gemetar dalam sepatu larasnya, Ndan Bahrul akhirnya melangkah juga. Langkah yang mantap demi menutupi kepanikan Sohibul Bait. Sejurus kemudian ia segera memegang mik. Suaranya berdehem, menggema membelah udara.
“Ehem. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
Para hadirin, yang mayoritas adalah anggota Ansor dan santri-santri, langsung menegakkan duduk. Najib, Yahya, dan Salman saling berpandangan. Ini adalah anomali sejarah. Seorang Banser, yang biasanya bertugas menjaga keamanan, kini berdiri di mimbar panggung.
Ndan Bahrul memulai ceramahnya dengan gaya bahasa yang lugas meliuk-liuk, sembari memegang perutnya yang agak buncit.
“Pernikahan, Saudara-saudara… adalah sebuah dermaga tempat dua hati berlabuh. Menikah itu penting bagi manusia. Mengapa? Karena kalau kamu sendirian terus, kamu akan lelah ditanya ‘kapan nikah’ setiap kali lebaran. Menikah itu melengkapi separuh agama,” ujar Ndan Bahrul, mulai sok tahu tapi terdengar meyakinkan.
Mendengar itu, Rifki di pelaminan cuma bisa pasrah sambil komat-kamit berdoa agar ceramah ini cepat selesai. Hadirin mulai saling berbisik. Ndan Bahrul semakin percaya diri. Aura panggung mulai merasuki jiwanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap tajam ke hadirin,
“Dalam bab pernikahan, ada satu kaidah tertinggi yang harus dipahami oleh pengantin baru seperti Sahabat Rifki ini. Kaidah ini adalah puncak dari segala ilmu rumah tangga. Dengarkan baik-baik…” Ndan Bahrul menjeda kalimatnya demi efek dramatis. “…Kaidah itu berbunyi: Kullu mutsu wal dirot.”
Suasana mendadak hening seketika.
Kullu mutsu wal dirot?
Najib, yang merupakan santri senior lulusan pesantren ternama dan khatam berbagai kitab, mulai fathul qarib hingga ihya ulumuddin, langsung mengerutkan dahi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan struktur nahwu-shorof kalimat tersebut. Otak santrinya berputar, mencari-cari di memori, tapi tidak ketemu. Ini istilah asing yang tidak ada dalam tata bahasa Arab.
Najib langsung mengangkat tangan. “Instruksi, Ndan! Mohon maaf, potong kompas sedikit. Sebagai santri yang pernah ngaji, saya belum pernah dengar kaidah itu. Kalimat Kullu mutsu wal dirot itu tidak ada di kitab fiqih mana pun! Di kitab Uqudul Lujain sampai Qurrotul Uyun juga mboten wonten. Itu dari kitab apa, Ndan? Sampeyan ngarang bebas ya”
Udin ikut menimpali, “Betul Ndan!”
Menghadapi gelombang kritikan, Ndan Bahrul tidak gugup. Alih-alih turun panggung dengan malu, ia justru tersenyum tipis—senyuman seorang senior yang kenyang makan asam garam kehidupan. Ia membetulkan posisi baretnya.
“Sahabat Najib, Sahabat Udin, dan para hadirin sekalian…” kata Ndan Bahrul dengan nada suara yang sangat tenang. “Kalian ini terlalu tekstual. Hidup ini tidak melulu soal apa yang tertulis di lembaran kertas kitab. Kebenaran juga tersembunyi dalam realitas tindakan.”
Ndan Bahrul berdehem lagi, memastikan semua telinga tertuju padanya.
“Kalian tanya Kullu mutsu wal dirot itu dari kitab apa? Itu bukan dari kitab, tapi itu adalah akronim adiluhung bahasa kearifan lokal yang mengatur tahapan sakral hubungan suami istri setelah ijab kabul!”
Ndan Bahrul menarik napas, lalu merincinya dengan wajah tanpa dosa:
“Catat ini! Kullu… artinya Ngrangkul Gulu (merangkul leher) Mutsu… artinya Ngemut Susu (memainkan payudara) Wal Dirot… tak lain dan tak bukan adalah Suwal Di-lorot (celana dipelorot)”
Ha-ha. Ha ha ha ha ha ha ha. Tawa hadirin pecah mendengar Ndan Bahrul mengartikan kaidahnya. Detik itu juga, seluruh hadirin—mulai dari anak-anak Ansor, Banser yang tadinya pasang muka sangar, semua undangan—langsung meledak dalam gelak tawa yang luar biasa. Najib menepuk jidatnya sendiri, menyadari dirinya baru saja dikerjai oleh singkatan kreatif bikinan Ndan Bahrul. Udin tertawa terpingkal-pingkal sampai hampir terjungkal dari kursi plastiknya. Bahkan Rifki, sang pengantin yang sejak pagi tegang, akhirnya tertawa lepas, melupakan hawa panas kemarau.
“Ini adalah tahapan seorang pengantin baru. Pertama bersentuhan dengan kasih sayang dengan merangkul leher. Kemudianmemainkan payudara, sebuah ekspresi cinta yang mendalam dan biologis. Dan yang terakhir, Wal Dirot… Suwal Di-lorot (celana dipelorot) sebagai babak final! Paham kalian?!”, lanjut Ndan Bahrul.
Mendengar penjelasan yang luar biasa ngawur namun logis, keheningan acara langsung pecah. Dus, di tengah absennya Gus Makin, Ndan Bahrul berhasil membuktikan bahwa humor mesum yang dikemas dalam bungkus kearifan lokal adalah juru selamat terbaik untuk mencairkan ketegangan.
ilustrasi: Alfi Saifullah



