Sudut Sejarah

Kiai Zakaria, Kebun Kopi, dan Islamisasi Batu #1

Macari adalah nama sebuah perkampungan yang terletak di sebelah barat Alun-alun Kota Batu, dengan jarak kurang lebih 1,5 kilometer. Secara administratif, wilayah ini termasuk dalam Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Kampung Macari memiliki jejak sejarah yang panjang dan menarik, yang memadukan antara sejarah dakwah Islam, tradisi lokal, serta memori kolektif masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Nama Macari secara umum disandarkan kepada sosok pendiri kampung ini, yang dalam istilah Jawa dikenal sebagai bedah krawang, yakni orang pertama yang membuka dan menetap di suatu wilayah. Tokoh tersebut dikenal masyarakat dengan nama Mbah Macari, yang oleh sebagian sumber keluarga disebut pula sebagai Kiai Zakaria. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, Kiai Zakaria merupakan seorang ulama besar yang disebut-sebut berasal dari wilayah Cirebon, salah satu pusat penyebaran Islam penting di pesisir utara Jawa sejak abad ke-15.

Kedatangan Kiai Zakaria ke wilayah selatan lereng Gunung Arjuno diperkirakan terjadi pada paruh pertama abad ke-19, tidak lama setelah berakhirnya Perang Jawa (1825–1830)—sebuah perang besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Hindia Belanda. Perang ini bukan hanya konflik militer, tetapi juga mengandung dimensi keagamaan dan kultural yang kuat. Pasca kekalahan Diponegoro, banyak pengikut, ulama, dan simpatisannya memilih melakukan hijrah kultural, menyebar ke berbagai pelosok Jawa untuk melanjutkan perjuangan melalui jalur dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat.

Dalam konteks inilah, Kiai Zakaria disebut datang ke wilayah Batu bersama beberapa tokoh lain, antara lain Kiai Abul Ghonaim, Singodrono, Hardjo Suwito, Haji Mustofa, dan lain sebagainya. Mereka diyakini sebagai bagian dari jaringan ulama dan pejuang yang berupaya melanjutkan semangat perjuangan Diponegoro melalui penyebaran Islam di pedalaman Jawa Timur, termasuk kawasan Batu yang pada masa itu masih relatif sepi dan didominasi hutan serta lahan pertanian.

Menurut cerita yang hidup di tengah masyarakat, sesampainya di wilayah Bumiaji, Kiai Zakaria mendengar suara tabuhan bedug yang bergema bertalu-talu. Pada masa itu, wilayah Batu dikenal masih sunyi, sehingga suara bedug dapat terdengar dengan jelas dari jarak yang cukup jauh. Rasa penasaran mendorong Kiai Zakaria untuk menelusuri sumber suara tersebut. Setelah ditelusuri, suara bedug itu berasal dari sebuah surau kecil, yang kelak berkembang dan kini dikenal sebagai Masjid Al-Mukhlisin, yang oleh banyak sejarawan lokal dianggap sebagai masjid tertua di Kota Batu.

diskon

Di lokasi itulah, Kiai Zakaria bersama istrinya, Nyai Zakaria, akhirnya memutuskan untuk menetap. Mereka mendirikan rumah sederhana sekaligus mengembangkan surau tersebut menjadi pusat ibadah dan dakwah. Meski demikian, Kiai Zakaria bukanlah orang pertama yang menempati Kampung Macari. Indikasi ini diperkuat oleh berbagai temuan dan cerita lisan yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah dihuni jauh sebelum kedatangan beliau.

blimbang
Blumbang Macari sebelum dibangunoleh warga sekitar

Salah satu peristiwa penting yang sering dirujuk adalah kejadian pada sekitar tahun 1950, ketika seorang warga Macari bernama Pak Troliman, yang berprofesi sebagai pembuat batu bata, menemukan sebuah arca di sudut barat laut Blumbang Macari. Arca tersebut ditemukan saat Pak Troliman menggali tanah liat untuk bahan baku batu bata. Arca itu sempat dibawa pulang ke rumahnya, namun tak lama kemudian Pak Troliman mengalami serangkaian peristiwa yang dianggap tidak lazim oleh masyarakat setempat. Karena merasa resah, arca tersebut akhirnya dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa ini disaksikan dan diketahui oleh sejumlah sesepuh kampung.

Secara geografis dan kultural, lokasi Blumbang Macari memang memiliki ciri khas yang menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut pada masa lampau pernah menjadi tempat pertapaan atau pemujaan, yang dalam tradisi Hindu-Buddha dikenal sebagai ashram atau padepokan. Keberadaan sumber air menjadi unsur penting dalam hampir semua tradisi keagamaan, baik sebagai sarana penyucian diri maupun sebagai bagian dari ritual spiritual.

Dalam kerangka ini, muncul dugaan etimologis bahwa nama ‘Macari’ berasal dari kata Brahmacari, yakni istilah dalam tradisi Hindu yang merujuk pada seseorang yang menjalani laku spiritual dan pengendalian diri. Seiring waktu, istilah tersebut diduga mengalami pelesapan dan penyesuaian bunyi sesuai dengan dialek Jawa setempat, hingga menjadi ‘Macari’.

Di bawah area Blumbang Macari, menurut sebagian warga, dahulu terdapat sebuah makam kuno yang kini tidak lagi diketahui jejak pastinya. Makam tersebut diyakini sebagai makam pendiri awal kawasan tersebut. Sejumlah orang yang melakukan lelaku atau tirakat di Blumbang Macari mengaku pernah menjumpai sosok gaib yang digambarkan sebagai seorang pria bertubuh tinggi besar, berwajah ke-arab araban, mengenakan jubah dan imamah. Sosok ini disebut-sebut mengaku sebagai figur spiritual yang membimbing Kiai Zakaria agar melanjutkan dakwah Islam di Macari. Selama hidupnya, sosok tersebut diyakini sering bermeditasi dan bermujahadah di sudut barat laut blumbang, tepat di bawah pohon lo (Ficus racemosa), yang kini telah beralih fungsi menjadi tandon air.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah-kisah tersebut, masyarakat Macari memaknainya sebagai bagian dari warisan spiritual kampung yang hingga kini masih dihormati. Kebenaran hakiki dari kisah-kisah itu, tentu saja, hanya Allah Swt. yang Maha Mengetahui.

Untuk mendukung kegiatan dakwahnya, Kiai Zakaria dan Nyai Zakaria mendirikan sebuah masjid yang dilengkapi dengan blumbang sebagai tempat bersuci. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1282 Hijriah, yang bertepatan dengan 1861 Masehi. Informasi ini berasal dari penuturan KH. Mahfudz Ilyas, salah satu keturunan Kiai Zakaria. Ia menuturkan bahwa semasa kecil, sebelum masjid direnovasi, ia pernah melihat tulisan beraksara Jawa dan ornamen bunga padma di bagian mihrab masjid, dengan angka tahun 1282 H tertera di bawahnya. Berdasarkan temuan itu, disimpulkan bahwa tahun tersebut merupakan tahun pendirian Masjid Al-Mukhlisin. Hingga kini, tahun tersebut masih diabadikan di mihrab masjid sebagai penanda sejarah.

mihrab
Mihrab tua Masjid Al-Muhlisin (kiri)

Perjuangan Kiai Zakaria dalam memulai dakwah di Kampung Macari bukanlah perkara mudah. Pada masa itu, wilayah ini dikenal angker dan wingit, sehingga jarang ada orang yang berani memasukinya. Dalam tradisi lisan diceritakan bahwa ketika Kiai Zakaria dan Nyai Zakaria hendak membuat blumbang, mereka harus berhadapan dan ‘bernegosiasi’ dengan entitas halus yang diyakini menghuni kawasan tersebut. Dengan kesabaran dan ketelatenan, Kiai Zakaria dan Nyai Zakaria digambarkan memindahkan satu per satu makhluk halus tersebut ke wilayah Kedung Manten. Meski demikian, hingga kini sebagian warga masih mengaku sesekali melihat penampakan di sekitar Blumbang Macari.

Setelah masjid dan blumbang selesai dibangun, kegiatan dakwah Kiai Zakaria berkembang pesat. Para santri datang berbondong-bondong dari berbagai daerah untuk menimba ilmu agama. Jumlah santri yang belajar kepada beliau disebut mencapai ratusan orang. Dalam mengajar, Kiai Zakaria sering terlihat mengenakan jubah putih dan imamah, mencerminkan kewibawaan seorang ulama. Namun dalam keseharian di luar aktivitas mengajar, beliau kerap mengenakan pakaian surjan layaknya warga setempat, sebagai bentuk kedekatan dengan masyarakat.

Selain mengajar, Kiai Zakaria juga dikenal gemar melakukan meditasi dan mujahadah di bawah pohon lo di tepi blumbang—tempat yang secara simbolik menyatukan jejak spiritual masa lalu dengan dakwah Islam yang beliau kembangkan. Dari sinilah Kampung Macari tumbuh sebagai ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, dan tradisi lokal yang masih hidup hingga kini.

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

2 Comments

  1. Tentang sebuah fokus yang tak pernah separuh jalan. Sebab baginya, setiap inci detail adalah harga mati. Ia menyelam begitu dalam, memastikan tak ada satu pun prasangka yang tertinggal di permukaan—agar mereka yang menelusuri jejaknya tak tersesat dalam keraguan. ❤️🙏🏻

    Lanjut #2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button