Aswaja Universal

Jagongan Rabu Malam Lesbumi Batu: Cangkrukan Santai Sambil Bedah Serat Wulang Reh

Wathan.id – Suasana Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Batu di Jalan Agus Salim Nomor 21 pada Rabu malam (29/7) jauh dari kesan kaku. Tidak ada deretan kursi formal. Sejak pukul 19.30 WIB atau bakda Isya, puluhan pegiat budaya, santri, dan warga tampak duduk lesehan bersila di atas lantai, membentuk lingkaran akrab layaknya sebuah forum cangkrukan gayeng.

Malam itu, ruang lantai dua tersebut mendadak riuh oleh gelak tawa dan obrolan renyah. Mereka berkumpul dalam perhelatan perdana Jagongan Rabu Malam (Jagorama), sebuah ruang ngaji dan diskusi budaya yang diinisiasi oleh Pengurus Cabang Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) Kota Batu dengan mengkaji Serat Wulang Reh karya Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV.

Acara sarat makna yang dikemas santai ini dibuka langsung oleh Ketua PC Lesbumi Kota Batu, Amadjie. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya merawat akar tradisi nusantara di tengah gempuran modernisasi yang kian deras.

“Jagorama ini sengaja kita buat lesehan agar tidak ada jarak. Ini ruang temu rasa, ngaji budaya agar nilai-nilai luhur para leluhur tidak tercerabut dari dada generasi muda kita,” ujar Amadjie di hadapan para peserta.

WhatsApp Image 2026 07 30 at 06.48.59

Langkah pembuka itu kemudian dihangatkan oleh sang sekretaris, Alfi Saifullah. Bertindak sebagai pemantik diskusi sambil duduk melingkar, Alfi memantik nalar kritis audiens dengan merajut benang merah antara pesan moral masa lampau dan realitas sosial kekinian. Suasana yang awalnya khidmat perlahan mencair tatkala canda tawa bersahutan antarpeserta.

Puncak kehangatan malam itu hadir ketika Ki Sutopo mulai berbicara di tengah-tengah peserta. Dengan tutur kata yang renyah namun sarat bobot filosofis, ia menguraikan bait demi bait tembang Dandanggula dari Serat Wulang Reh pupuh 1 hingga 3.

diskon

Sambil lesehan, Ki Sutopo mengajak audiens meresapi makna di balik setiap pilihan kata yang diramu oleh sang raja Surakarta tersebut. Ia memaparkan bagaimana tembang Macapat tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, melainkan sarana syiar, kritik sosial, dan panduan moral (budi pekerti) bagi manusia dalam menapaki jalan kehidupan.

“Tembang Macapat itu perjalanan hidup manusia dari alam ruh hingga menghadap Sang Khalik. Setiap pupuh di Wulang Reh adalah cermin koreksi diri,” tutur Ki Sutopo, disambut anggukan kepala dan senyum hangat dari peserta yang duduk bersila di sekelilingnya.

Malam itu, sekat antara pemateri dan audiens seolah runtuh total. Gelak tawa pecah tatkala Ki Sutopo menyelipkan humor-humor segar di sela-sela penjelasan filosofinya, membuktikan bahwa warisan budaya klasik bisa dikemas hidup, membumi, dan gayeng ala cangkrukan.

Melihat antusiasme yang membuncah dan hangatnya suasana cangkrukan sepanjang acara, Lesbumi Kota Batu memastikan gelaran ini tidak berhenti pada malam kemarin saja. Jagorama diproyeksikan menjadi agenda rutin berkala yang diselenggarakan setiap hari Rabu malam, dua minggu sekali.

Harapannya, tradisi “ngaji rasa” dengan konsep lesehan ini mampu terus menyalakan obor literasi budaya, merawat kearifan lokal, sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang perjumpaan intelektual yang guyub di Kota Batu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button