Lintasan Pemikiran

Merenungi Arti Merdeka

“Merdeka itu apabila tidak terbelenggu dari penilaian orang lain terhadap diri kita, sehingga kita kehilangan jati diri. Merdeka itu bila kita tidak membelenggu orang lain dengan penilaian negatif kita (suudzon) atas perilaku yang tampak atas mereka. “

Minggu siang, 17 Agustus 2025, kutipan dari kajian rutin selapanan, di mushalla itu sudah terselesaikan dengan baik. Saya tulis seadanya, seingat saya. Kajian yang diasuh oleh KH. Mubayyin Sayafii. Hasil dari kajian itu, terposting di grup keluarga, for self circle, untuk kalangan sendiri. Dengan harapan, yang tidak sempat hadir masih bisa menikmati isi kajian tersebut meski hanya sekadar lewat tulisan. Sambil menunggu review, apabila ada yang mempertanyakan keberadaan tulisan itu, atau apabila ada yang terlewat dan terlupakan tentang hal-hal penting dalam kajian. Sehingga, catatan itu lebih mempunyai manfaat secara lebih luas. Alhamdulillah tidak ada masalah. Respon yang masuk masih bersifat normatif. Seperti ucapan terimakasih atau emotikon penyemangat yang muncul.

Cukup sudah tema tentang kajian itu berlalu. Setelah itu saatnya rehat sebentar sambil rebahan dan menonton Motor GP yang disiarkan dari Red Bull Ring, Spielberg, Austria. Pada Minggu malam itu, pembalap yang tangguh, Marques keluar sebagai juara. Usai menonton ajang motor GP, ketika hari sudah agak sore, kemudian saya bersiap-siap untuk istirahat. Namun masih di penghujung malam, hari itu juga, tiba-tiba saya terbangun, ada dorongan untuk segera terjaga. Tidak seperti biasa, ada keresahan yang menganggu, tentang postingan tadi siang. Tentang catatan kutipan dari kajian bidayatul hidayah itu.

Dalam postingan itu saya tulis, “Sesuatu yang ditakutkan Baginda Rasulullah saw, lebih dari kehawatiran beliau atas pengaruh buruk Dajjal pada umatnya adalah akan munculnya Ulama Su (ulama yang jelek), mereka berpakaian seperti ulama tapi tingkah lakunya jauh dari kebaikan.”

Dari sini kita mendapatkan gambaran bahwa ulama su adalah ilmuwan atau ulama yang menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi apapun bentuk kepentingannya. Bukan ulama yang ikhlas, mengajarkan ilmu dengan hikmah, dan mendidik umat dengan keteladanan.

Ada sebuah kisah tentang Syaikh Abu Hasan As-syadzili, salah satu wali yang terkenal, pendiri tarekat Syadziliyah. Ia adalah wali yang tergolong kaya raya secara materi. Suka memakai baju yang bagus, mewah, dan terbaik. Makanan yang dikonsumsinya selalu memilih yang enak-enak. Pun dalam memilih kendaraan, selalu memilih kuda terbaik.

diskon

Suatu hari, seorang murid disuruh gurunya menghadap Syaikh Abu Hasan As-syadzili, sosok yang di acapkali ceritakan gurunya sebagai salah satu wali besar, quthbun minal aqhtab. Pergilah sang murid ke kediaman sang Wali Agung itu. Ketika sampai dikediaman Sang wali itu, hati si murid merasa masygul. Penuh tanda tanya. “Katanya wali besar kok kaya raya begini? ” katanya dalam hati.

Sang wali bisa mengkasyaf, ia tahu isi hati si murid (biasanya salah satu kelebihan dari hikayat para umat yang di kasihi Allah Swt adalah diberi ketajaman mata batin atau kewaskitaan). Karena kemasygulan ini, akhirnya si murid malah ditunjukkan dengan kekayaan yang dimiliki oleh sang Wali. Kekayaan yang berlimpah ruah.

Akhirnya diajaklah si murid naik bendi atau delman, kendaraan termewah di era itu. Oleh Syaikh Syadzili si murid disuruh membawa segelas air, dan ia dilarang menumpahkan selama naik delman. Atas kehatian-hatian, Si murid hanya konsentrasi ke gelas tanpa pernah tahu apa yang dikelilingi, pemandangan atau situasi dalam perjalanan itu.

Seketika Syaikh Abu Hasan As-syadzili berkata, “Ketika nama Allah telah bersemayam di hati kita, maka semua yang kita punya dan ada disekeliling, tak ubahnya seperti pemandangan di sekeliling kita saat ini. Seperti fokus kita kepada gelas, yang tidak boleh tumpah airnya, begitu juga hati, tidak boleh berpaling dari Allah Swt.” Alhasil, si murid itu kemudian berguru kepada Syaikh Abu Hasan As-syadzili. Si murid tersebut menjadi santri kesayangan Syaikh Syadzili. Ia bernama Syaikh Abul Abbas Al-Mursi, guru dari Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari pengarang kitab Al-Hikam.

Dari postingan ini, rasanya ada yang belum tuntas dan khawatir apabila membuat seseorang terpicu menilai seorang, apalagi sosok ulama secara sepihak. Membuat siapapun menjadi gampang suudzon. Ada kehawatiran dari postingan itu tidak termaknai dengan baik, atau setengah-setengah.

Dalam hati, saya bergumam, maafkan ya Allah hamba-Mu yang daif ini.

Sekedar mengutip dan memposting saja, saya sudah sangat merasa bersalah dan tak mampu, bahkan ingin rasanya nenarik tulisan itu. Karena kitab ini menurut beliau (KH. Mubayyin Syafii) diawal kajian (kajian halaman pertama) adalah sebuah kitab yang membahas tentang amalan keseharian, sampai jalan akhir kehidupan. Dari urusan syariah, hakikat, sampai pada inti ibadah yakni Ma’rifat. Sehingga, kitab ini juga disebut sebagai kitab pusaka dikalangan para santri. Yang idealnya senantiasa menjadi pegangan laku keseharian mereka.

Namun, menjelang subuh ada sesuatu melegakan hati. Dari postingan yang mengungkapkan dua paparan itu. Momen kajian malam itu ternyata sejalan dengan tema hari kemerdekaan. Sejalan dengan tema renungan kulminasi dari sebuah perjuangan untuk merdeka, para pejuang bangsa telah ikhlas menyerahkan jiwa raganya untuk kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajah.

Paparan tentang gambaran ulama su’ dan ditutup dengan cerita tentang sosok waliyullah Syaikh Abu Hasan Assadzili dengan segenap kemewahan dan kekayaannya, bisa membuat orang memberikan penilaian negatif tentang seorang ulama besar, sekelas beliau. Bisa jadi, makna dari kajian itu, beliau, KH. Mubayyin Syafii memberikan pesan moral tersirat, bahwa “Merdeka itu apabila kita tidak terbelenggu akan penilaian orang lain terhadap diri kita. Sehingga kita kehilangan jati diri. Merdeka itu apabila kita tidak membelenggu orang lain dengan penilaian negatif kita (suudzon) atas perilaku yang tampak atas mereka.” Demikian.

Wallahu’alam.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button