Sekali Lagi Tentang Lazisnu

“Jangan menyerah dengan keadaan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 6).
Sekitar tahun 2017, pasca pelaksanaan PKPNU pertama di MWC NU Pacet, salah satu amanat penting yang lahir adalah pembentukan lembaga ekonomi NU berupa Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Beberapa kali pertemuan telah dilaksanakan, dan pada pertemuan terakhir alumni PKPNU yang berlangsung di ndalem Ketua PAC Muslimat, Almarhumah Ibu Hj. Rosyidah, dengan menghadirkan penanggung jawab BMT Sidogiri yang berada di Gondang. Langkah berikutnya adalah melakukan studi tour ke MWC yang telah berhasil mengelola BMT, yaitu MWC Ngasem, Bojonegoro.
Dari kunjungan tersebut lahirlah embrio Lazisnu, yang pada saat itu masih berbentuk Kelompok Kerja (Pokja) Koin. Saran yang diberikan tokoh sentral BMT Ngasem cukup jelas: MWC NU Pacet sebaiknya tidak terburu-buru mendirikan BMT, melainkan terlebih dahulu melaksanakan dan mengelola program koinisasi dengan sebaik-baiknya. Bahkan, hasil studi tiru ke BMT Sidogiri juga tidak jauh berbeda. Dengan semangat tinggi, dibentuklah kelompok kerja penggalangan dana melalui program koinisasi. MWC NU Pacet tercatat sebagai salah satu pelopor di kawasan PCNU yang melaksanakan pengelolaan dana koin secara masif melalui kaleng. Program ini berjalan baik dan berhasil menghimpun dana dalam jumlah yang cukup besar.
Namun, tanpa disadari, distribusi kaleng secara luas tanpa sistem registrasi yang rapi menimbulkan persoalan tersendiri. Kaleng-kaleng tersebut beredar tanpa kode identifikasi yang jelas: tidak diketahui siapa yang mendistribusikan, siapa yang menerima, serta bagaimana pemantauan keberadaannya. Kondisi lapangan yang beragam serta kebijakan antar-ranting yang tidak seragam semakin menambah kerumitan. Selain itu, petugas kolektor kaleng yang seharusnya diseleksi dengan mempertimbangkan kemampuan administrasi dan pelaporan, justru lebih banyak dipilih berdasarkan semangat. Akibatnya, potensi kaderisasi yang seharusnya mendukung pengembangan BMT di masa depan tidak terpenuhi dengan optimal. Kini, masa awal tersebut sudah berlalu. Saatnya kita duduk bersama kembali untuk mencari solusi dan langkah terbaik demi kemajuan Lazisnu. Era pendirian sudah lewat, lingkungan MWC pun telah berubah, dan teknologi digital berkembang sangat pesat.
Karena itu, sudah seharusnya para perintis menyerahkan estafet kepada generasi muda. Mereka, dengan energi dan kemampuan baru, perlu diberi ruang untuk berkembang. Rangkap jabatan serta beban-beban lama justru menjadi titik lemah. Masa transisi yang telah berlangsung dua tahun terakhir sudah cukup untuk membuka jalan menuju era baru. Pada masa lalu, pernah ada upaya membangun basecamp Lazisnu yang representatif, mudah diakses, dan terkontrol dengan baik. Sayangnya, dengan berbagai kendala, proyek strategis tersebut harus tertunda. Ironisnya, lembaga ekonomi baru yang instan justru memperoleh tempat terbaik, meski kontribusinya terhadap MWC tidak sebanding dengan Lazisnu. Sementara itu, Lazisnu yang telah berkontribusi besar justru mengalami keterpinggiran.
Kondisi ini tentu berpotensi menimbulkan persoalan serius bila tidak segera diantisipasi. Perlu kita ingat bersama, Graha ini bukan milik kelompok tertentu apalagi perseorangan, melainkan milik kita semua. Karena itu, mari kita melangkah maju. Era telah berubah dengan begitu cepat. Para tokoh terdahulu idealnya menjadi motivator bagi generasi penerus, bukan justru menjadi penghambat. Dalam 5, 10, hingga 20 tahun ke depan, ketika kita sudah tidak lagi aktif, generasi muda-lah yang akan melanjutkan perjuangan. Sudah saatnya kita menciptakan lahan yang subur bagi tumbuhnya kader-kader NU yang tangguh, agar kelak hasilnya dapat kita nikmati bersama. “NU tidak boleh kehilangan regenerasi. Harus selalu muncul kader-kader muda yang mampu menjawab tantangan zaman.” demikian kutipan dhawuh dari Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, dalam Pidato Harlah NU ke-91.
Untuk para aktivis Lazisnu masa kini, jangan mudah putus asa atau kehilangan semangat. Berhidmah di NU memang penuh tantangan, baik internal maupun eksternal. Namun, semua itu justru akan menempa pribadi kita menjadi lebih matang dan kuat. Yakinlah bahwa hari esok akan selalu lebih baik. Tantangan yang kita hadapi hari ini adalah pelajaran berharga untuk menjadikan lembaga dan Banom-Banom MWC lebih siap menghadapi masa depan. Keberhasilan tidak akan pernah tercapai jika hanya berhenti pada diskusi, konsep, atau angan-angan.
Sebagaimana dhawuh ketua umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, Muktamar NU ke-34 di Lampung, “Kemandirian organisasi akan lahir dari tata kelola yang baik dan profesional, bukan sekadar semangat.” Tulisan ini berdasar pengalaman kami di MWC NU Pacet, namun semoga esensi dan substansi-nya dapat bermanfaat untuk di MWCNU yang lain.
Demikian, semoga bermanfaat.



