Menjaga Api Estafet: Ikhtiar Sebutir Benih dalam Arus Zaman

Gugatan Digital dan Oase di Kaki Welirang
Tanggal 17 Mei 2026 menjadi sebuah penanda yang personal sekaligus komunal. Bagi siapa saja yang pernah melarungkan masa mudanya dalam dekap hangat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), rahim organisasi ini senantiasa menjadi cinta pertama yang tak pernah benar-benar usai. Sebagai badan otonom paling bungsu di rahim Nahdlatul Ulama—yang secara historis dilahirkan pada 24 Februari 1954 di Semarang untuk IPNU dan 2 Maret 1955 di Surakarta untuk IPPNU—ia mengemban beban sejarah yang tidak ringan: menjadi gerbang pertama penyaringan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Pagi itu, jarum jam baru melewati angka tujuh ketika kabut tipis Pacet masih menggantung. Saya berkesempatan hadir memfasilitasi materi terakhir—Leadership (Kepemimpinan)—dalam Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) yang digawangi oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Candiwatu di bawah naungan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Pacet.
Sebuah Kontras Zaman, berdasarkan laporan We Are Social (2025/2026), rata-rata generasi Z menghabiskan waktu hingga 6 sampai 8 jam sehari berselancar di dunia maya, terjebak dalam labirin scrolling tanpa akhir.
Namun di lereng gunung ini, sebuah anomali yang indah terjadi. Sebanyak 50 kader muda berkumpul secara luring. Mereka menolak menjadi generasi yang pasif di balik layar gawai. Di mata mereka, ada binar idealisme yang mencari bentuk. Salah satu peserta di antaranya adalah junior saya, seorang remaja yang sedang berada di fase untub-untub—fase transisi emosional dan intelektual—setelah menyelesaikan studinya di madrasah dan pesantren, bersiap melangkah ke sebuah perguruan tinggi vokasi di Surabaya.
Melihatnya berdiri di sana, saya teringat akan sebuah kritik otentik (auto-critic) yang sangat keras namun disampaikan dengan bersahaja oleh KH. Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) dari Pondok Pesantren Ploso dalam sebuah dawuh yang sempat viral. Beliau mengutip penuturan Almaghfurlah KH. Mahrus Ali Lirboyo:
“Pengurus NU yang anaknya tidak masuk pesantren adalah haainun kadzabun (pengkhianat yang pembohong).”
Kalimat ini laksana tamparan spiritual bagi kita semua yang mengemban amanat kepengurusan. Ia adalah sebuah gugatan: bagaimana mungkin kita sibuk mengurus umat, sementara benteng keimanan di dalam rumah tangga kita sendiri rapuh? Kehadiran sang junior di arena Makesta pagi itu menjadi secercah jawaban, sebuah bukti bahwa ikhtiar menjaga tradisi pesantren dan khidmah jam’iyah belum sepenuhnya padam di dalam bilik keluarga kita.
Hukum Kekekalan Kader: One Alumni, One Kader
Dalam sebuah ruang diskursus di grup digital alumni IPNU, saya pernah melempar sebuah tesis sederhana yang diadopsi dari hukum alam: One Out, One Enter. Satu alumni yang purna tugas, harus melahirkan minimal satu kader baru sebagai pengganti. Secara genetis dan ideologis, jika bapak atau ibunya adalah alumni IPNU-IPPNU, maka secara alamiah dari rahim keluarga itu harus mekar minimal satu tunas kader baru.
Kaderisasi tidak boleh berhenti sebagai jargon di atas kertas laporan pertanggungjawaban (LPJ). Ia adalah hukum mutlak keberlanjutan. Jika sebuah organisasi gagal melakukan reproduksi kader, maka ia sedang berjalan sukarela menuju liang kuburnya sendiri. Pagi itu, di sela-sela riuhnya forum Makesta, saya melihat manifesto One Alumni, One Kader itu menemukan jalannya yang nyata, direstui oleh semesta.
Dialektika Kafe Sawah dan Risalah Sajen
Matahari bergeser ke atas kepala. Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika langkah kaki membawa saya ke sebuah kafe di pinggir hamparan sawah kawasan Sajen, Pacet. Kafe yang didirikan oleh seorang alumni IPNU ini menjadi saksi sebuah pertemuan yang tidak kalah sakral. Sebuah banner membentang statis di depan pintu: “Selamat Datang Pengurus Majelis Alumni IPNU Mojokerto (MA IPNU)”. Ini adalah jajaran pengurus baru yang dikukuhkan bertepatan dengan momen Harlah IPNU ke-72 dan IPPNU ke-71 pada 25 April lalu.
Jika di pagi hari saya melihat “embrio”, maka di siang hari ini saya melihat “arsitek”. Sekitar 20 aktivis IPNU pada masanya berkumpul melakukan brainstorming. Di bawah panduan sahabat Ayyuhan Nafi—Mantan Ketua KPU Kabupaten Mojokerto yang kini mengemban amanat sebagai koordinator MA IPNU—forum berjalan dengan metode dialektika yang ketat: setiap kepala yang hadir wajib menumpahkan gagasan.
Hujan deras kemudian turun mengguyur Pacet, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, ruang diskusi justru menghangat oleh perdebatan yang sosiologis dan strategis. Forum ini barangkali menjadi salah satu ruang paling serius dalam sejarah kontemporer Alumni IPNU Mojokerto. Beberapa risalah penting berhasil dinotulensi, antara lain:
Intensifikasi Kaderisasi Berbasis Epistemologi Baru: Pendekatan kaderisasi tidak lagi bisa disamakan dengan dekade 90-an; ia harus adaptif terhadap psikologi Gen-Z dan Alpha.
Sensus Anggota dan Digitalisasi Data Alumni: Penataan database alumni yang terintegrasi untuk memetakan potensi distribusi kader di ranah profesional.
Revitalisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU: Menjadikan sekolah-sekolah di bawah naungan Ma’arif sebagai supply chain (rantai pasok) utama kaderisasi IPNU-IPPNU, bukan sekadar pelengkap administratif.
Tercapainya berbagai rekomendasi internal ini menjadi bukti nyata besarnya rasa cinta dan perhatian para alumni terhadap organisasi yang telah membesarkan mereka. Hari itu menjadi momen paling bersejarah bagi para alumni IPNU Mojokerto; sebuah refleksi serius untuk memberikan pengabdian terbaik bagi organisasi yang menjadi tempat khidmah awal di masa remaja mereka.
Tausyiah Akhir dan Nafas Perjuangan
Hari itu, 17 Mei 2026, pada akhirnya bertransformasi dari sekadar deretan angka di kalender menjadi sebuah monumen kesadaran. Kita melihat dua generasi dalam satu hari: embrio yang sedang bersemi di Candiwatu, dan akar tua yang sedang memperkokoh topangan di Sajen.
Secara esensial, organisasi bukanlah deretan gedung megah, bukan pula tumpukan bendera yang berkibar di pinggir jalan protokoler. Organisasi adalah mahluk hidup yang jiwanya ditiupkan oleh konsistensi manusianya. Dalam sudut pandang spiritual, khidmah di IPNU-IPPNU adalah sebuah wasilah (perantara) tabungan akhirat. Kita tidak sedang menghidupkan NU, karena NU telah dihidupkan oleh karamah para wali dan air mata keikhlasan Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, kitalah yang mencari penghidupan berkah di bawah naungan panji-panji para ulama tersebut.
Semoga langkah kecil yang merayap dari tingkat Ranting, PAC, ruang-ruang MAKESTA, hingga diskursus di Majelis Alumni ini diakui sebagai barisan perjuangan. Generasi yang kita impikan adalah mereka yang tidak gagap secara intelektual, teguh dalam teologi Ahlussunnah wal Jama’ah, santun dalam ekspresi akhlak, dan memiliki loyalitas tanpa batas (sam’an wa tha’atan) kepada para masyayikh.
Di luar, hujan Pacet masih menyisakan dingin. Namun di dalam dada kita, api pergerakan itu terbukti masih menyala. Hangat, dan menolak padam. Wallahu a’lam
Editor: Alfi Saifullah Ilustrasi : Pimred Wathan.id



