Lintasan Pemikiran

Kearifan yang Tergerus: Bertani di Persimpangan antara Tradisi dan Industri #1

Dahulu, di banyak sudut pedesaan Nusantara, dikenal sebuah tradisi bernama wiwit. Menjelang panen, para petani menggelar ritual sederhana: bersedekah telur dan tumpeng kecil sebagai ungkapan syukur atas hasil yang diharapkan membawa keberkahan. Sebagian dari tumpeng itu dibawa pulang ke rumah, dinikmati bersama keluarga, tetangga, dan kerabat dekat. Tidak ada kemewahan, tetapi ada rasa kebersamaan, kepasrahan, dan kesadaran akan Yang Maha Mengatur.

Di dalam ritual itu terdapat kepasrahan, sekaligus kesadaran akan sisi sakral kehidupan—bahwa hasil panen, banyak atau sedikit, bukan semata-mata buah kerja manusia, melainkan juga kehendak Sang Pencipta. Hari ini, tradisi wiwit nyaris sirna. Bukan semata ritualnya yang hilang, melainkan kesadaran spiritual di baliknya. Kesadaran bahwa hasil panen—baik melimpah maupun sedikit—bukan semata akibat kecakapan manusia, melainkan ada campur tangan Allah SWT yang mengatur kehidupan, iklim, tanah, dan seluruh makhluk di dalamnya.

Allah mengingatkan manusia:
“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala macam tumbuh-tumbuhan…”
(QS. Al-An‘am: 99)

Kini, kita lebih percaya pada produsen pestisida dan pupuk buatan sebagai penentu hasil. Kita lupa bahwa serangga memiliki perannya sendiri, iklim ada yang mengatur, dan tanah memiliki daya dukung alami. Tanaman yang bahkan baru tumbuh, belum berumur panjang, sudah dijejali berbagai input: pestisida untuk “menaklukkan” serangga—yang sejatinya banyak di antaranya adalah sahabat ekosistem; fungisida untuk melawan kelembapan dan hujan; pupuk daun atau ZPT (zat pengatur tumbuh) agar tanaman dipaksa tumbuh cepat; hingga bahan perekat kimia—sering kali produk luar negeri—agar zat-zat tersebut menempel di daun, masuk secara sistemik, dan melumpuhkan kehidupan kecil yang seharusnya menjaga keseimbangan alam.

Benarkah semua itu keharusan?
Salahkah seluruhnya?
Entahlah.

Namun, mari sejenak menoleh ke belakang—melihat laku bertani para petani sepuh, bahkan mereka yang telah mendahului kita. Setidaknya ada lima kearifan yang dulu menjadi fondasi pertanian rakyat:

diskon
  1. Gumuk (menjaga hunian predator/musuh alami)
  2. Tumpang sari
  3. Bertani selaras musim
  4. Bersahabat dengan rajakaya
  5. Menanam varietas lokal

Gumuk: Menjaga Hunian Musuh Alami

Di sawah dan kebun masa lalu, gumuk—gundukan tanah atau tumpukan batu di sudut lahan— merupakan pemandangan lazim. Awalnya, gumuk berfungsi sebagai tempat menyingkirkan batu yang ditemukan saat mencangkul. Tanpa disadari, pengurangan batu di lahan turut memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara, sehingga tanah menjadi lebih subur.

Lebih dari itu, gumuk berfungsi sebagai habitat musuh alami hama, terutama ular—predator utama tikus. Dengan adanya tempat berlindung, populasi ular terjaga dan populasi tikus terkendali secara alami.

Kini, gumuk hampir tak pernah dijumpai. Dengan logika mempersempit lahan tanam, gumuk dibongkar habis, ular diburu, habitatnya dihancurkan. Akibatnya, terjadi ledakan populasi tikus di banyak daerah.

Rodentisida pun menjadi pilihan. Biaya produksi petani meningkat. Tikus yang keracunan dimakan kucing; kucing mati karena racun sekunder; populasi pemburu tikus menurun. Sebuah lingkaran rusak yang lahir dari hilangnya satu elemen kecil ekosistem. Petani pun dipaksa membeli rodentisida. Biaya produksi meningkat dan lingkaran ketergantungan pada racun terus berulang.

Tumpang Sari: Keragaman sebagai Pertahanan

Sistem tumpang sari—menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan—kini semakin jarang ditemui. Dahulu, di pematang sawah atau sela tanaman padi, selalu ada kacang-kacangan, kenikir, atau sayuran lain.

Praktik ini ditinggalkan dengan alasan praktis: dianggap mengganggu tanaman utama, menyulitkan perawatan, atau menambah pekerjaan. Padahal, tumpang sari memiliki posisi strategis dalam pengendalian hama dan ketahanan ekonomi petani.

Serangga datang ke tanaman karena rangsangan aroma dan visual tertentu. Keberagaman vegetasi membuat serangga kehilangan fokus, sehingga serangan terhadap tanaman utama berkurang. Selain itu, petani memperoleh manfaat ekonomi: lahan menjadi produktif lebih cepat, risiko gagal panen total menurun, dan hasil panen menjadi lebih variatif. Kacang panjang, misalnya, dapat dipanen lebih awal dibanding padi atau bawang merah.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button