Leadership Perspektif Gen Z: Siap Memimpin atau Sekadar Viral? #1

Generasi Z atau Gen Z (sering disebut genzi) adalah generasi yang lahir dan tumbuh sebagai penghuni asli dunia digital (digital native). Mereka lahir sekitar tahun 1995–2012 dan berkembang bersama internet, media sosial, serta smartphone. Kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi, mulai dari belajar, bekerja, hingga membangun relasi sosial.
Namun, di balik kemudahan teknologi tersebut, muncul tantangan baru. Interaksi sosial secara langsung semakin berkurang karena sebagian besar konektivitas dilakukan secara daring. Akibatnya, banyak anak muda merasa mudah lelah secara mental, kesepian, bahkan kehilangan arah hidup.
Menurut laporan We Are Social 2025, rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet dan hampir 3 jam di media sosial. Angka ini termasuk yang tertinggi di dunia.
Beberapa survei di Amerika dan Indonesia menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tantangan besar, terutama dalam kesehatan mental, kemampuan bersosialisasi, dan pembentukan karakter kepemimpinan.
Hasil Survei di Amerika
Hasil survei di Amerika dapat menjadi gambaran umum tentang situasi Generasi Z di berbagai belahan dunia.
Janis Whitlock, Direktur Cornell Research Program on Self-Injury and Recovery, menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki kerentanan dalam menjaga kestabilan mental. Mereka cenderung mudah merasa kewalahan, cemas, dan putus asa.
Hal menarik dari riset tersebut adalah bahwa Generasi Z memiliki tingkat keberanian mengambil risiko yang relatif rendah. Kondisi ini menyebabkan sebagian dari mereka mengalami keterlambatan dalam mencapai kedewasaan berpikir maupun bertindak.
Selain itu, survei dari American Psychological Association menemukan bahwa hampir setengah dari Gen Z menghabiskan waktu online hingga 10 jam atau lebih setiap hari. Intensitas penggunaan internet yang tinggi membatasi interaksi langsung dengan orang lain dan dapat menimbulkan rasa terasing serta kesepian.
Di Amerika Serikat, tingkat kecemasan dan depresi pada remaja meningkat tajam pascapandemi COVID-19. Banyak peneliti menyebut media sosial sebagai salah satu faktor yang memperkuat tekanan psikologis pada Gen Z.
(Galih Pranata & Mahandis Yoanata Thamrin, National Geographic Indonesia, 3 Februari 2023)
Situasi Gen Z di Indonesia
Di Indonesia, kondisi Generasi Z juga menghadapi tantangan yang hampir sama.
Menurut laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 1 dari 20 remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Meskipun kesadaran tentang kesehatan mental mulai meningkat, akses terhadap layanan profesional masih terbatas, terutama di daerah pedesaan.
Tantangan kesehatan mental juga muncul akibat tingginya keterlibatan digital yang membuat Gen Z sering merasa tertekan oleh ekspektasi sosial di media sosial. Berdasarkan Indonesia Gen Z Report 2024 oleh IDN Media, sebanyak 51% Gen Z menyatakan bahwa kesehatan mental menjadi salah satu kekhawatiran utama mereka.
Di sisi lain, kesadaran terhadap privasi data dan etika digital masih rendah. Sebanyak 89% Gen Z merasa nyaman dengan kondisi perlindungan data saat ini. Padahal, risiko penyalahgunaan data pribadi dan cyberbullying masih menjadi ancaman serius.
Kasus perundungan daring (cyberbullying), doxing, hingga kecanduan media sosial menjadi fenomena yang semakin sering ditemukan di kalangan remaja Indonesia. (Meilia Qurrota A’yun, Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Gorontalo, dimuat di Gorontalo Post, 21 Oktober 2024)
Dari fakta-fakta tersebut, Generasi Z perlu memiliki kemampuan untuk mengantisipasi tantangan zaman. Karena itu, kemampuan kepemimpinan (leadership) menjadi sangat penting dimiliki oleh generasi muda hari ini.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan seseorang untuk memimpin, membimbing, dan memengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga kemampuan membangun pengaruh sosial secara positif.
Kata “kepemimpinan” berasal dari kata pimpin, yang berarti mengarahkan, membina, mengatur, dan menuntun. Menurut Dubin dalam Fieldler dan Chemers (1974), kepemimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan.
Dalam praktiknya, terdapat banyak model kepemimpinan. Namun, dalam konteks organisasi sosial dan kepelajaran, terdapat dua gaya kepemimpinan yang paling sering ditemui, yaitu:
1. Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis melibatkan kerja sama antara pemimpin dan anggota tim dalam mengambil keputusan. Pemimpin membuka ruang diskusi dan menghargai pendapat anggota sebelum menentukan keputusan akhir.
Gaya ini dapat meningkatkan keterlibatan anggota tim, rasa memiliki terhadap organisasi, serta memunculkan kreativitas.
2. Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah gaya kepemimpinan yang menempatkan keputusan sepenuhnya di tangan pemimpin. Pemimpin memberikan instruksi yang jelas dan menuntut ketaatan dari anggota.
Gaya ini sering dianggap negatif, tetapi sebenarnya bisa efektif dalam situasi tertentu, seperti kondisi darurat, krisis, atau ketika anggota tim masih membutuhkan banyak arahan.



