Aswaja Universal

Jangan Sampai Ansor kehilangan ‘N’

Sore itu, warung kopi Cak Fuad kembali menjalankan takdirnya: menjadi parlemen bagi para anggota Banser usai standby acara pengajian. Dengan kursi plastik dan anggaran kopi hitam. Di sudut dekat kipas angin yang bunyinya seperti batuk orang tua, Juki duduk selonjor, memandangi gelasnya seolah di dasar kopi ada masa depan yang bisa ditebak. Kang Parman sibuk menghitung uang receh, sementara Mat Soleh—yang paling rajin bicara—baru saja mematikan rokoknya.

Obrolan mengalir seperti biasa. Harga beras naik, turun, lalu naik lagi—seperti perasaan mantan yang suka muncul pas musim hujan tiba. Politik disinggung sebentar, lalu ditinggal karena pahitnya kalah sama kopi tanpa gula. Terakhir, pembahasan tentang Ansor. Topik ini selalu aman: mereka semuanya kader Ansor.

Di tengah bunyi sendok beradu gelas, Juki tiba-tiba nyeletuk, santai tapi tepat sasaran, “Eh, kalian tahu nggak? Ansor itu kalau kehilangan huruf N, jadinya apa?”

Hening.

Sepersekian detik yang panjang. Lalu—Kang Parman menjawab, “Asor.”

Mat Soleh agak merengut, tak terima ormas kebanggaannya dihinakan.

diskon

“Hanya kritik doang,” kata Juki, sembari mengangkat bahu.

Mat Soleh dengan melotot berkata, “Tapi asor itu, dalam Jawa, artinya rendah. Hina?”

Kang Parman berhenti menghitung uang receh. Ia menatap Juki seperti guru yang baru sadar muridnya kepikiran hal berat di balik lelucon. Warung kopi itu mendadak terasa ramai—bukan karena pertikaian, tapi karena semua sedang menimbang.

“Dalam bahasa Arab,” lanjut Juki, suaranya mendadak serius, “Anṣār itu penolong. Kalau huruf nun-nya hilang, bukan cuma bunyinya yang berubah. Maknanya ikut copot. Ia bukan penolong lagi.”

Kang Parman membetulkan posisi duduknya. “Nah, itu dia. Kadang kita kehilangan huruf kecil, tapi dampaknya besar. Kayak kehilangan niat, kehilangan adab, kehilangan arah. Kelihatannya sepele, padahal esensinya yang hilang.”

Tiba-tiba Mat Soleh tersenyum tipis. “Jadi kritik itu nggak harus pakai mimbar, ya?”

“Enggak,” jawab Juki. “Kadang cukup pakai plesetan. Biar masuk pelan-pelan. Kayak hujan gerimis—nggak terasa, tapi bikin masuk angin.”

Mereka tertawa. Tapi tawa kali ini beda: ada jeda, tak ada beban. Cak Fuad yang sejak tadi diam akhirnya nimbrung, “Kopi boleh pahit, tapi maksud jangan. Kalau pahit juga, ya minumnya pelan-pelan.”

Dari Plesetan Menuju Percakapan Serius

Plesetan “Jangan sampai Ansor kehilangan N” jelas bukan kajian linguistik yang ketat. Bukan pula upaya merendahkan atau mengolok-olok. Ia adalah satire—bahasa simbolik yang digunakan untuk menyampaikan kegelisahan moral. Dalam tradisi lisan masyarakat, terutama di ruang-ruang informal seperti warung kopi, kritik jarang hadir dalam bahasa akademik. Ia datang sebagai gurauan, peribahasa, atau permainan kata. Namun justru di situlah kekuatannya: mudah diingat, mudah disampaikan, dan mengena.

Kata Ansor berasal dari bahasa Arab الأنصار (al-Anṣār), yang berarti para penolong. Dalam sejarah Islam, istilah ini merujuk pada penduduk Madinah dari kabilah Aus dan Khazraj yang menolong Nabi Muhammad dan kaum Muhajirin setelah hijrah dari Makkah. Mereka bukan sekadar penyambut tamu. Mereka berbagi harta, rumah, dan perlindungan. Dalam banyak riwayat, kaum Ansor digambarkan sebagai teladan keikhlasan, solidaritas, dan pengorbanan. Tanpa Ansor, sejarah Islam tidak akan berjalan sebagaimana yang kita kenal hari ini. Kata Ansor bukan simbolik kosong. Ia adalah identitas moral. Karena itu, menjadi kader Gerakan Pemuda Ansor berarti siap berdiri di sisi yang lemah, melindungi yang terancam, dan menolong tanpa pamrih.

Ansor dalam Al-Qur’an: Penolong Agama Allah

Konsep penolong tidak hanya berhenti pada sejarah Madinah. Dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan istilah serupa untuk menggambarkan pengikut setia nabi Isa. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 14, Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikutnya (hawariyyun): ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku menuju Allah?’ Para hawariyyun berkata: ‘Kamilah penolong-penolong Allah.”

Ayat ini menegaskan bahwa menjadi ansarullah—penolong agama Allah—adalah panggilan iman. Para hawariyyun, murid-murid Nabi Isa, dipuji karena kesiapan mereka menolong kebenaran, meski harus berhadapan dengan risiko dan penderitaan. Dengan demikian, Ansor bukan sekadar nama. Ia adalah posisi etis dan spiritual. Yang menuntut keberpihakan yang jelas pada keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran.

Huruf Nun dan Hilangnya Makna

Dalam bahasa Arab, kata Anṣār berasal dari akar kata ن-ص-ر (nun–ṣad–ra) yang bermakna menolong. Huruf nun bukan pelengkap; ia adalah bagian inti dari makna. Jika huruf ini dihilangkan, kata tersebut rusak secara struktur dan kehilangan arti. Huruf Nun muncul secara khusus pada awal surah:

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُو ن

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.(QS.Al-Qalam: 1)

Nun sering dikaitkan dengan pena (qalam) dan catatan takdir, karena ayat ini bersumpah dengan pena dan tulisan. Dalam sebagian tafsir klasik, Nun dipahami sebagai tempat tinta kosmik tempat pena menulis ketentuan Allah. Di sinilah plesetan warung kopi tadi menemukan pijakan simboliknya. Kehilangan nun bukan sekadar kehilangan satu huruf, tetapi kehilangan ruh penolong itu sendiri. Yang tersisa hanyalah bunyi tanpa makna, bentuk tanpa substansi. Dalam konteks simbolik, nun dapat dibaca sebagai niat, nilai, dan kesadaran moral. Ketika nilai itu hilang, nama besar pun menjadi kosong.

Penting ditegaskan: kritik yang tersirat dalam plesetan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan. Justru sebaliknya, ia lahir dari kepedulian. Orang tidak akan repot mengkritik sesuatu yang tidak ia anggap penting. Dalam konteks GP Ansor yang lahir dari rahim tradisi Aswaja dan bernaung di bawah Nahdlatul Ulama, ekspektasi publik terhadap GP Ansor tentu tinggi. Masyarakat berharap nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan benar-benar hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya jargon.

Karena itu, Satire “kehilangan nun” dapat dibaca sebagai ajakan untuk bertanya: apakah semangat menolong masih menjadi napas utama? apakah keberpihakan pada yang lemah masih konsisten? atau jangan-jangan rutinitas organisasi perlahan menggerus ruh awal?

Tradisi intelektual Islam mengenal konsep muhasabah—introspeksi diri. Kritik internal adalah bagian dari proses. Dalam banyak kisah ulama, nasihat paling tajam justru datang dari sahabat sendiri, sering kali dengan bahasa simbolik agar tidak melukai, tetapi menyadarkan. Plesetan di warung kopi itu, dalam bingkai ini, adalah muhasabah sosial. Mengingatkan bahwa nama dan sejarah besar harus terus dijaga dengan tindakan yang sepadan.

Pada akhirnya, ini bukan tentang huruf N, bukan pula tentang permainan kata semata. Tentang makna. Tentang bagaimana sebuah nama mengandung amanah sejarah, moral, dan spiritual. Selama nilai penolong tetap dijaga—dalam sikap, kebijakan, dan tindakan—maka nun itu akan selalu hidup. Dan selama nun itu hidup, makna GP Ansor akan tetap tegak, terhormat, dan relevan bagi umat dan bangsa. Wallahu a’lam.

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button