Sudut Sejarah

Ceritaku : Tentang Orang Bernama H. Suyono

Orangnya sederhana. Sesederhana namanya, Suyono. Ya, hanya Suyono, begitu saja tidak kurang. Pun tidak lebih. Sebuah nama singkat, nama genre Jawa kebanyakan, bukan kalangan ningrat apalagi priyayi. Baru beberapa tahun kemudian, ketika telah menunaikan ibadah haji, didepannya di tambahi H. Muhammad Suyono. Percayalah, jika anda bertemu sosok satu ini, anda akan berkesimpulan; ini orang sangat tawadhu, sabar dan mudah bergaul dengan siapa saja. Setidaknya itulah penilaian saya terhadap alm. Ustadz Suyono, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Mojorejo, Junrejo.

Selain menjadi tokoh agama di Desa Mojorejo, orang satu ini juga pernah dipercaya sebagai ketua MWC NU Kecamatan Junrejo, Batu. Masyarakat sekitar akrab menyapanya ‘Pak Yon’. Setahu saya, bukan kepandaian membaca kitab, berceramah, atau pendidikan formal nan tinggi yang menonjol dari dirinya. Namun, kerendahan hati dan kesabarannya yang paling membekas di hati orang yang pernah mengenalnya. “Bapak niku tiyang ingkang tawadhu lan ngestok aken dhateng gurune” (bapak itu orang yang tawadhu dan sangat menghormati kepada gurunya), ujar Halim, salah satu putranya.

Suyono adalah putra orang biasa, bukan pejabat, konglomerat, bukan pula kiai. Ayahnya bernama bapak Lawi, sorang petani biasa. Ketika muda, Suyono pernah belajar kepada KH. Abu Amar Khotib, Tambakrejo, Pasuruan. Seorang ulama yang masyhur sebagai wali. Selama belajar kepada Kiai Abu Amar, Suyono layaknya para santri, mengaji, sholat jamaah dan aktifitas pesantren lainnya. Namun, ada yang beda dengan Suyono dibanding santri lain. Ia kerap mendapatkan perlakuan istimewa dari Kiai Abu Amar Khotib. Salah satunya, sering diajak makan bersama dalam satu piring. Hal semacam ini yang membuat heran santri-santri lain.

“Kulo niki nopo? Kulo mboten nate ngaji sing mempeng kados konco-konco. Kulo namung dikengken nimbo sumure Kiai. Umbah-umbah klambine Kiai. Mijeti Kiai. Terus kulo dicritani macem-macem kaliyan Kiai Abu Amar. Nggeh, namung niku mawon. Mboten nate ngaos kitab ingkang ageng-ageng, namung kitab alit-alit mawon kadhos Lubabul Hadist” (Saya ini apa? Saya tidak pernah mengaji yang tekun seperti teman-teman lain. Saya hanya disuruh menimba sumurnya kiai. Mencuci baju kiai. Memijat kiai. Kemudian kiai bercerita berbagai hal kepada saya. Ya, hanya sebatas itu. Saya tidak pernah mengaji kitab yang besar-besar, hanya kitab kecil seperti Lubabul Hadist), begitu merendahnya Pak Yon ketika bercerita kepada saya. Sombong merupakan pantangan utama baginya.

Ada sepenggal cerita mengenai ketawadhuan Pak Yon terhadap Gus Suadi, putra dari Kiai Abu Amar. Salah satu putranya bercerita kepada saya, “Pada suatu malam, Bapak ditelepon Gus Suadi. Beliau memintanya datang ke Pasuruan. Merasa mendapat perintah dari putra guru, malam itu juga bapak langsung bersiap-siap berangkat. Ibu saya, Bu Dewi, bertanya, ‘Mboten mbenjing mawon ta pak?, niki sampun dalu’ (tidak besok saja pak? ini kan sudah malam). Spontan bapak menyahuti, ‘Iki sing ngutus guruku, aku kudu budal sakiki’ (ini yang menyuruh guru saya, saya harus berangkat sekarang). Berangkatlah bapak malam itu ke Pasuruan.”

Cerita ini merupakan representasi ketawadhuan seorang Pak Yon terhadap putra gurunya. Besar kemungkinan, berangkat dari ketawadhuan ini, Allah berkenan memberi, jika boleh dikatakan ‘futuh’ kepadanya. Sehingga setiap nasihat yang ia sampaikan, walaupun terkesan sepele, namun sangat membekas di hati setiap pendengarnya.

diskon

Selain mengaji kepada Kiai Abu Amar, Suyono pernah mengaji kepada KH. Nur Ismail, pengasuh Pondok Pesantren At-Taufiq Sengkaling. Meskipun hanya sebagai santri kalong, pulang-pergi, namun ia adalah santri yang paling berkesan dan tawadhu kepada guru. Sampai telah berkeluarga, bahkan sampai wafatnya, ia masih rutin mengikuti istighosah dan pembacaan wirid yang diadakan di Pondok Pesantren At-Taufiq Sengkaling.

“Kiai Ismail niku soyo sepuh, soyo banter anggene ngaji” (Kiai Ismail itu semakin tua, semakin hebat beliau dalam hal ngaji), begitu komentar Pak Yon terhadap gurunya. Tentunya kata ‘ngaji’ yang di maksud bukan ‘ngaji’ dalam arti formal, layaknya membaca kitab, berceramah dan sejenisnya. Namun, ‘ngaji’ dalam arti pencapaian spiritual, ahwal atau maqomat. Pak Yon pernah bercerita tentang Kiai Ismail ketika masih menimba ilmu, “Panjenengane nggeh nate mondok dhateng Gading, ananging kebukak e langkung katah nalikane ten Ndresmo. Kiai Mail ten Ndresmo ngangon wedhuse kiai” (Beliau pernah mondok di Gading, tetapi terbukanya lebih banyak ketika di Ndresmo. Di Ndresmo, Kiai Ismail menggembalakan kambing milik kiai).

Salah satu bagian dinding rumah Pak Yon, terpampang foto Abah Anom atau KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia merupakan mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Saya menanyakan perihal foto itu kepada Pak Yon,

Pak Yon, panjenengan nopo nate mondok ten Suryalaya, utawi nate baiat thoriqoh dhateng Abah Anom, kok masang fotone Abah Anom?” (Pak Yon, apakah anda pernah mondok di Suryalaya, ataukah pernah baiat thoriqoh kepada Abah Anom, kok anda memasang foto beliau?)

“Anu mas, aku tau sowan nang Abah Anom. Naliko iku kate niat baiat. Pas Abah Anom nemoni aku karo wong-wong, aku ono mburine Abah Anom pas. Bengine aku oleh isyaroh, pasaku aku ono ndek panggonan sing duwur melip-melip. Terus aku mikir, wah iki lek gak kuat aku iso rutuh” (Anu mas, saya pernah sowan kepada Abah Anom. Ketika itu, ingin berniat baiat. Ketika Abah Anom menemui saya bersama orang-orang, saya dibelakangnya pas. Malamnya saya mendapat isyarat, seakan-akan berada di tempat yang teramat tinggi. Terus saya berpikir, wah, ini jika saya tidak kuat, saya bisa jatuh)

Dalam satu kesempatan, Pak Yon bercerita kepada saya,

“Mas, aku siji bengi tau ngipi, pasaku ono sing ngabari yen Kiai Ahmad Arief Yahya Gading nggelar macem-macem kitab ndek ngarepe ndaleme. Langsung isuk e aku sowan nang Gading, matur nang Kiai Mad perkoro ngipiku kuwi. Terus, karo Kiai Mad diutus mundut kitab nang koperasi pondok. Aku ndek koperasi njupuk Al-Quran. Mangkane nalikane aku miwiti khataman Al-Qur’an, aku gak tau lali hadiah Al-Fatihah nang Kiai Mad”

(Mas, suatu malam saya bermimpi, dalam mimpi saya itu ada sosok yang memberi kabar bahwa Kiai Ahmad Arief Yahya Gading menggelar berbagai macam kitab didepan rumahnya. Paginya saya sowan ke Gading, menuturkan perihal mimpi tersebut kepada Kiai Mad. Lantas beliau menyuruh membeli salah satu kitab di koperasi pondok. Saya mengambil Al-Qur’an. Maka, ketika mengawali khataman Al-Qur’an saya tidak pernah lupa membacakan Al-Fatihah kepada Kiai Mad)

Saya pernah ikut acara PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak NU) yang diselenggarakan PBNU, bertempat di Kecamatan Poncokusumo. Saya hadir bersama beberapa pengurus NU, tidak ketinggalan Pak Yon ikut pula. Namun dalam salah satu sesi, Pak Yon berhalangan hadir, dikarenakan ada suatu kepentingan yang mendesak dan tidak bisa ia tinggalkan. Ia dinyatakan tidak lulus oleh panitia ketika acara selesai. Akibatnya, Pak Yon tidak mendapatkan sertifikat kelulusan. Menanggapi dirinya yang tidak lulus, Pak Yon berkata,

“Alhamdulillah mas aku ora lulus. Dadi tanggung jawabku gak abot-abot nemen. Umpomo lulus lak tanggung jawabku malih abot”

(Alhamdulillah mas saya tidak lulus. Jadi tanggung jawab saya tidak terlalu berat. Andaikan lulus, tanggung jawab saya akan menjadi tambah berat).

Itulah jawaban sederhana Pak Yon. Potret manusia andap asor yang saya kenal. Seseorang yang beranggapan bahwa, Sertifikat PKPNU merupakan bagian bentuk pertanggung jawaban terhadap para masyayikh Nahdlatul Ulama. Bukan asal lulus, namun harus disertai dengan kesesuaian amaliah terhadap ajaran dan manhaj para masyayikh NU. Mendengar ungkapan Pak Yon itu, saya merasa mendapat tabokan. Didalam hati, saya merasa kurang pantas untuk menerima sertifikat itu. Masih banyak amaliah yang saya tinggalkan. Tidak perlu teori yang terlalu tinggi. Paling sederhana saja, rutinitas tahlil setiap malam rabu saja sering tidak hadir. Lantas, saya membuat berbagai macam alibi untuk menutupi kemalasan tersebut. Yang sibuk lah, ada undangan lah dan berbagai macam variabel kebohongan lain. Berpijak dari yang diutarakan Pak Yon itu, pikiran kerdil saya berkesimpulan bahwa sertifikat PKPNU bukan hanya selembar kertas tanda kelulusan, apalagi hanya dipandang sebagai salah satu syarat pengajuan sertifikasi guru ma’arif. Tidak, Atau lebih parah, sebagai prasyarat sebagai ketua NU berikut organisasi sayapnya, tidak. Lebih mulia dari itu.

Bagaimana dengan persepsi anda? Saya berharap anda setuju dengan pendapat ini.

Wallahu a’lam

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button