Ziarah dan Tadabbur: Menapaki Jejak Auliya, Merawat Tradisi Nahdliyin

Jam di ponsel menunjukkan hampir pukul 23.00. Rombongan jamaah turun dari bus tanpa raut letih, meski malam telah larut. Tak tampak mata yang kuyu; justru semangat terpancar dari langkah kaki mereka. Dengan penuh antusias, mereka berjalan sekitar 600 meter menuju “tempat peristirahatan” seorang kekasih Allah yang dikenal sebagai sosok jadzab, yang akrab disapa Mbah Ud.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang memiliki kecintaan mendalam pada majelis yang dipenuhi lantunan shalawat kepada Rasulullah ﷺ, khususnya dalam tradisi hadrah. Maka tidak mengherankan, penutup rangkaian tahlil di makam beliau terasa berbeda: syahdu dan penuh kekhusyukan. Pada bait-bait akhir, ketika biasanya jamaah tetap duduk, seluruh peserta justru berdiri melantunkan shalawat mahallul qiyam, sebagaimana lazimnya dalam hadrah. Setelah itu, mereka kembali duduk untuk mengamini doa penutup. Momen tersebut menjadi penutup yang menggetarkan hati dari rangkaian ziarah seharian—tahap kedua dari empat tahap yang direncanakan, dengan total peserta mencapai 29 bus.
Awal Perjalanan: Ziarah dan Tadabbur ke-15 Tahun 2026
Pagi itu, Ahad, 19 April 2026, tepat pukul 06.00, tujuh bus mulai bergerak perlahan melewati lekukan medan Pacet. Dari dalam bus, sayup-sayup terdengar lantunan tahlil yang dilanjutkan dengan rangkaian istighasah yang disusun oleh almarhum KH. Tamin Ramli. Suasana spiritual sudah terasa sejak awal perjalanan, menandakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar wisata religi, tetapi juga latihan kolektif dalam dzikrullah.
Kegiatan hari itu merupakan tahap kedua dari empat rangkaian ziarah dan tadabbur yang telah berlangsung sejak tahun 2011. Awalnya, tujuan pertama adalah makam almarhum Mbah Ud di Pagerwojo, Sidoarjo. Namun, karena padatnya lalu lintas, rombongan dialihkan ke Pasuruan untuk berziarah ke makam seorang ulama karismatik, Mbah Hamid.
Secara keseluruhan, terdapat empat tujuan utama dalam rangkaian tahun ini:
- Makam almaghfurlah Mbah Ud Pagerwojo, Sidoarjo
- Makam almaghfurlah Mbah Hamid, Pasuruan
- Makam almaghfurlah Mbah Sholeh Semendi, Pasuruan
- Tadabbur alam di salah satu pantai di Probolinggo
Asal Usul Kegiatan: Dari Ibadah Menuju Tradisi Kolektif
Ziarah ini telah menjadi agenda tahunan MWC NU Pacet sejak 2011, sehingga tahun 2026 menandai pelaksanaan ke-14 (dengan satu kali jeda pada 2021 akibat pandemi COVID-19).
Menurut KH. Suyadi Tamsyir, tokoh sentral kegiatan ini, tujuan awalnya bukan sekadar ziarah, melainkan sebagai sarana edukasi praktik ibadah. Fokus utamanya adalah memperdalam pemahaman terhadap aspek-aspek mendasar dalam fikih ibadah, khususnya yang berkaitan dengan shalat.
Dalam perspektif keilmuan fikih, perjalanan ini menjadi ruang praktik nyata dari konsep rukhsah (keringanan syariat), seperti:
Misalnya:
- Bagaimana menggunakan air secara efektif, efisien, dan tetap sah dalam bersuci di kondisi keterbatasan air saat perjalanan (fiqh al-thaharah).
- Pelaksanaan keringanan (rukhsah), seperti shalat jamak dan qashar, sebagai bentuk kemudahan dari Allah SWT (raf‘ al-haraj).
- Implementasi kaidah fikih seperti: “Al-masyaqqah tajlibut taisir” (kesulitan mendatangkan kemudahan)
Dengan demikian, ibadah tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi benar-benar dihidupkan dalam praktik yang kontekstual dan aplikatif.
Selain itu, tradisi ziarah kubur sendiri memiliki dasar kuat dalam Islam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa ziarah bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki dimensi spiritual dan edukatif yang mendalam.
Efek Domino: Konsolidasi Sosial hingga Kemandirian Organisasi
Dampak kegiatan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial dan organisatoris.
Pertama, hilangnya sekat antara elit dan akar rumput (grassroots). Dalam kegiatan ini, para pengurus NU dari berbagai tingkatan melebur tanpa atribut jabatan. Mereka “berperan” sebagai kru bus, pelayan jamaah, pemandu, hingga koordinator lapangan. Model ini menciptakan ukhuwah yang lebih egaliter dan membumi.
Kedua, kegiatan ini menjadi sarana konsolidasi organisasi yang efektif. Dengan melibatkan warga NU secara luas, termasuk yang hanya simpatisan, kegiatan ini memperkuat basis sosial Nahdliyin.
Ketiga, secara tidak langsung, kegiatan ini juga memiliki aspek fundraising. Dengan manajemen yang tepat dan prinsip ekonomi skala (semakin banyak peserta, biaya semakin efisien), kegiatan ini mampu memberikan surplus yang digunakan untuk mendukung program-program NU lainnya.
Kiat Sukses Pelaksanaan
Beberapa hal penting yang menjadi kunci kontinuitas kegiatan ini—yang “dibuka namun tetap terbatas informasinya”—oleh KH. Suyadi Tamsyir sebagai tokoh sentral, antara lain :
- Dikelola oleh tim inti yang memahami manajemen perjalanan (tour management)
- Melibatkan tokoh-tokoh NU, baik formal maupun kultural
- Penentuan biaya yang terjangkau dan kompetitif
- Pelayanan jamaah dengan sepenuh hati (service excellence)
- Variasi destinasi, termasuk makam auliya yang belum populer
- Integrasi antara ziarah dan rekreasi (tadabbur alam)
- Evaluasi transparan dengan laporan yang jelas dan akuntabel
Penutup
Ziarah dan tadabbur ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju makam para auliya, tetapi juga perjalanan batin yang memperkaya makna hidup. Ia menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif, memperdalam pengamalan agama, serta meneguhkan identitas sebagai bagian dari tradisi Nahdliyin.
Dari lantunan tahlil di dalam bus, langkah kaki menuju maqam para kekasih Allah, hingga praktik langsung rukhsah dalam ibadah—semuanya menjadi pengalaman utuh yang sulit tergantikan oleh teori semata.
Lebih dari itu, perjalanan ini mengajarkan bahwa keberkahan sering hadir dalam kebersamaan yang tulus. Ia menguatkan ukhuwah, menumbuhkan keikhlasan dalam melayani, serta mengingatkan bahwa jalan menuju Allah tidak selalu harus megah—cukup dengan langkah sederhana yang istiqamah.
Dengan semangat tersebut, tahap-tahap berikutnya bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang bertumbuh bersama—merawat tradisi, memperkuat komunitas, dan terus mendekat kepada-Nya.



