Aswaja Universal

Sinergi Teknologi dan Spiritualitas: Menjemput Ketenangan di Manarul Ilmi

Jumat, 10 April lalu, langkah saya tertuju pada Kota Surabaya. Saat jarum jam di gawai menunjukkan pukul 10.30 WIB, terlintas di benak saya untuk mencari tempat beribadah yang nyaman dengan akses parkir memadai. Berdasarkan rekomendasi Google Maps, pilihan jatuh pada Masjid Manarul Ilmi, ikon spiritual di jantung kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Pilihan itu terbukti tepat. Masjid megah ini berdiri sejuk di tengah rindangnya pepohonan tinggi yang seolah-olah bersaing dengan menara masjid. Fasilitasnya impresif; toilet bersih, tata ruang rapi, dan atmosfer yang tenang. Di serambi, para calon teknolog masa depan—mahasiswa dengan laptop dan gawai di tangan—tampak bercengkerama atau sekadar beristirahat sejenak, menunggu panggilan azan yang menjadi komando spiritual di tengah hiruk-pikuk akademik.

Akulturasi yang Harmonis

​Menjelang azan, seorang pemuda berbaju putih menyampaikan pengumuman dengan prolog khas Nahdliyin. Ia memperkenalkan seluruh petugas Jumat, mulai dari muazin hingga khatib. Menariknya, meski tidak ada tongkat kayu sebagai simbol ‘tombak’ yang biasa dibawa Bilal di masjid tradisional, lantunan hadits riwayat Abu Hurairah tentang larangan berbicara saat khutbah tetap menggema syahdu melalui pengeras suara.

مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Wahai golongan kaum Muslim dan kaum mukmin, semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya kepada kamu sekalian. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah bersabda: ‘Ketika kamu berkata ‘ansit’ kepada temanmu pada hari Jumat (sholat Jumat), sedangkan khatib sedang berkhutbah, maka kamu telah melakukan hal yang sia-sia. Barang siapa yang melakukan hal sia-sia, maka tidak ada Jumat baginya, maka perhatikan, kebaikan dan taatilah, semoga Allah memberikan kepada kamu sekalian

diskon

​Di atas mimbar, hadir Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Di sinilah saya menyaksikan keindahan akulturasi: perpaduan nuansa Nahdliyin dan efisiensi khas Muhammadiyah yang bersinergi di lingkungan kampus yang plural. Sebuah refleksi nyata dari Islam yang inklusif di tengah keragaman suku dan pemikiran.

Sains di Balik Stres dan Solusi Langit

​Prof. Ali Aziz membuka khutbahnya dengan sangat taktis. Ia menjanjikan durasi hanya 10 menit—sebuah “kontrak” waktu yang langsung menyergap perhatian audiens agar tetap terjaga. Beliau memaparkan data kesehatan mental yang cukup menghentak:

35% remaja di Indonesia mengalami stres, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Sekitar 55% masyarakat umum terindikasi memiliki masalah kesehatan mental. Bahkan, di kalangan mahasiswa, angka indikasi tekanan mental mencapai 87,5%.

​Secara sosiopsikologis, data ini mencerminkan fenomena quarter-life crisis dan tekanan akademik yang masif. Namun, dari perspektif teologis, beliau mensinyalir situasi ini sebagai tanda melemahnya pilar iman. Beliau mengutip QS. Ar-Rahman: 31 yang mengingatkan tentang tanggung jawab manusia,

سَنَفْرُغُ لَكُمْ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِۚ

Kami akan mencurahkan perhatian kepadamu, wahai manusia dan jin.

serta QS. Yunus: 62:

لَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ا

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

​Pesan utamanya jelas: Seorang beriman seharusnya menjadi pribadi yang optimistis. Jika kita merasa selalu “ditemani” oleh Zat Yang Maha Segalanya, maka ruang untuk rasa takut (khauf) dan sedih yang berlebihan (huzn) seharusnya terkikis.

Istighfar: Teknik Grounding Spiritual

​Dalam dunia psikologi modern, ada berbagai metode untuk mengelola stres, seperti manajemen emosi, meditasi, olahraga, hingga teknik pernapasan. Namun, Prof. Ali Aziz melengkapinya dengan dimensi spiritual: Istighfar.

Beliau mengutip hadits populer:

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Barangsiapa membiasakan (merutinkan) istighfar, Allah akan jadikan jalan keluar baginya dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (HR. Ahmad & Abu Dawud).

​Istighfar bukan sekadar ritual lisan memohon ampun, melainkan sebuah teknik grounding—cara manusia mengakui keterbatasan diri di hadapan Tuhan. Ini adalah penawar kesombongan. Dengan beristighfar, beban mental akibat merasa “harus mengendalikan segalanya” dilepaskan kepada Sang Pencipta.

Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi sendiri juga tetap  beristighfar setiap hari, meskipun beliau seorang ma’shum yang terjaga dari kesalahan. Sikap sombong dan berlagak tidak punya dosalah yang membuat kita jarang istighfar. Karena istighfar bukan hanya minta ampunan, tapi istighfar juga mampu memberi jalan untuk keluar dari stress, dari masalah bahkan kesulitan ekonomi.

Jangan pernah khawatir untuk beristighfar dan melakukan pertaubatan, meskipun kita sering kali melakukan kesalahan lagi, karena Allah senantiasa mengampuni setiap kesalahan hambanya. Dan Allah akan melimpahkan banyak kenikmatan ketika hambanya mau beristighfar. Dan yang lebih penting lagi ketika kelak di yaumul hisab, hari perhitungan nanti, dijanjikan Allah, kebahagiaan, mulut yang tersenyum ketika membuka catatan amal kita ketika banyak istighfar.

Penutup: Refleksi di Tengah Dinamika

​Pengalaman singkat di Manarul Ilmi memberikan pelajaran berharga. Di tengah kompleksitas dunia modern yang memicu kecemasan, kita memiliki “jalan pulang” yang sederhana namun dahsyat.

​Istighfar adalah investasi batin. Selain menjadi pembuka pintu rezeki dan solusi masalah duniawi, ia adalah jaminan kebahagiaan di hari perhitungan kelak. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Zubair bin Awwam:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيهَا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ

Barangsiapa yang ingin catatan amalnya menyenangkan (membahagiakan) dirinya, maka perbanyaklah istighfar di dalamnya.

​Pengalaman singkat di Masjid Masjid Manarul Ilmi ITS bukan sekadar persinggahan saya untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga menjadi ruang refleksi yang mendalam. Di tengah suasana kampus yang dinamis dan beragam, tampak harmoni indah antara tradisi Nahdliyin dan Muhammadiyah—sebuah akulturasi yang menyejukkan dan memberi harapan tentang wajah Islam yang inklusif.

Khutbah singkat yang disampaikan oleh Ali Aziz justru meninggalkan kesan yang kuat: bahwa di tengah kompleksitas hidup modern yang memicu stres dan kegelisahan, seorang muslim memiliki “jalan pulang” yang sederhana namun dahsyat; istighfar, yang bukan hanya ritual lisan, melainkan bentuk kesadaran diri, pengakuan atas keterbatasan, dan penguatan hubungan dengan Allah SWT. Ia menjadi penenang jiwa, pembuka jalan keluar dari kesulitan, serta sumber optimisme dalam menghadapi kehidupan. Bahkan, ia juga menjadi investasi spiritual yang akan membahagiakan di hari perhitungan kelak.

Dengan demikian, di tengah berbagai metode pengelolaan stres yang ditawarkan dunia modern, istighfar hadir sebagai pelengkap sekaligus penyempurna—menghubungkan ikhtiar lahiriah dengan kekuatan batiniah. Sebuah amalan ringan, namun berdampak besar, jika dilakukan dengan kesungguhan dan keistiqamahan.

​Wallahu’alam.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button