Catatan-catatan

Dan Tuhan Tersenyum Melihat Ndan Bahrul #1

Ceramah, Kopi, dan Petuah Gus Ketua

Malam itu di sebuah kampung di kota Kota Batu, sedang berlangsung pengajian yang cukup besar. Spanduknya gede, sound system-nya kadang serak-serak basah, dan jamaahnya banyak—dari bapak-bapak yang duduk paling depan sampai anak-anak yang sebenarnya datang cuma buat makan snack setelah acara.

Seperti biasa, acara sebesar itu dijaga oleh pasukan paling sigap sedunia: Banser. Personel Banser Batu malam itu turun lengkap. Rompi hijau, wajah serius, tapi kalau lihat tukang gorengan (apalagi cantik) lewat langsung berubah jadi manusia paling ramah di muka bumi.

Beberapa pengurus Ansor Batu juga hadir karena memang diundang. Salah satunya adalah ketua mereka: Rizal. Sosok ini tipe pemimpin yang kharismanya unik. Kalau orang lain kelihatan berwibawa karena diam, Rizal kelihatan berwibawa karena…

sering nyeletuk hal-hal yang bikin orang bingung

antara mau ketawa atau mikir.

diskon

Dus, acara pengajian pun dimulai. Jamaah duduk rapi. Kiai mulai ceramah dengan suara mantap, didahului oleh sekian sambutan terlebih dahulu. Sementara itu, sekitar 15 menit acara dimulai, Rizal menoleh ke kanan-kiri melihat sahabat-sahabat Ansor yang duduk di dekatnya.

“Cak…” bisiknya.

“Kenapa, Gus Ketua?” tanya salah satu.

“Ayo Ngopi”

Begitulah sejarah mencatat, beberapa menit kemudian, beberapa anak Ansor pindah lokasi kajian… ke warung kopi sekitar 150 meter ke arah timur dari tempat pengajian. Warungnya sederhana. Meja kayu, kursi plastik, dan kipas angin yang muternya lebih lambat dari proses move on mantan.

Sekitar satu setengah jam kemudian, pesanan mulai datang satu per satu.

Kopi hitam.

STMJ.

Teh panas.

Dan satu gelas air putih yang entah siapa yang pesan tapi selalu ada.

Mereka mulai menyeruput minuman masing-masing. Suasana santai. Dari jauh masih terdengar suara ceramah lewat speaker. Lalu tiba-tiba Rizal meletakkan gelasnya. Dia melihat teman-temannya satu per satu dengan wajah penuh pemikiran mendalam. Seperti orang yang akan menyampaikan filosofi hidup. Kemudian dia berkata pelan,

“Ngaji yo wis ngunu iku.”

Teman-temannya langsung berhenti minum. Hening dua detik.

Lalu…

“GERRRRR!” “Djannn….”

Warung kopi itu langsung meledak oleh tawa. Cak Icuk, salah satu kader Ansor sampai hampir menyemburkan STMJ-nya karena ketawa.

“Gus Ketua ini gawe ceramah tandingan, yo?” sahut Yuris, ketua PAC Ansor Batu.

Rizal mengangkat tangan, seperti ustaz yang minta jamaah tenang.

“Eh, tunggu dulu. Saya belum selesai.”

Semua kembali diam, penasaran. Rizal melanjutkan dengan wajah bijak,

“Ngaji itu penting…”

Semua mengangguk.

“…tapi yang lebih penting lagi adalah mengamalkannya.”

Dua detik hening lagi. Lalu…

“GERRRRR!” Ha- Ha Ha- Ha Ha Ha

Tawa kali ini lebih keras. Bahkan tukang kopi yang dari tadi pura-pura tidak dengar akhirnya ikut ketawa. Sahabat Khitam menepuk meja.

“Pak Ketua… kalau begitu kita ini lagi mengamalkan apa?”

Sambil menghembuskan asap rokok Rizal menjawab,

“Mengamalkan silaturahmi sembari mayokno dagangane wong”

Semua langsung setuju. Karena kalau sudah ada kopi, STMJ, dan alasan silaturahmi—itu kombinasi yang sulit dibantah oleh logika apa pun. Malam itu mereka ngopi cukup lama. Kadang mendengarkan ceramah dari kejauhan, kadang ngobrol hal-hal tak penting seperti, Kenapa ada jamaah pencitraan (binaan Sahabat Icuk) di sekitar kita. Kenapa rapat Ansor selalu dimulai telat tapi selesainya lama.

Namun, sejak malam itu, satu kalimat menjadi legenda kecil di kalangan sahabat-sahabat Ansor Batu. Setiap kali ada yang terlalu serius dalam diskusi… Setiap kali ada yang terlalu lama ceramah… Atau bahkan ketika rapat sudah dua jam tapi belum ada keputusan… Pasti ada satu orang yang tiba-tiba berkata dengan wajah polos:

“Ngaji yo wis ngunu iku cak.”

Lalu semua  langsung ketawa. Dan biasanya, semua mata otomatis menoleh ke satu orang.

Gus Ketua.

Yang hanya tersenyum sambil menyeruput kopi, seolah-olah berkata dalam hati:

“Yang penting… diamalkan.

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button