Lintasan Pemikiran

Wisata Berkelanjutan: Bukti Syukur atas Anugerah-Nya

(Studi Empirik di Made dan Sumber Gempong, Mojokerto)

“Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia kembali dilanda berbagai bencana alam. Ironisnya, tidak sedikit dari bencana tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah, melainkan merupakan akumulasi dari campur tangan manusia yang abai terhadap prinsip syukur. Alih-alih merawat dan menjaga, manusia kerap bersikap eksploitatif—menebang hutan secara serampangan, mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan daya dukung dan dampak jangka panjang. Akibatnya, banjir bandang, tanah longsor, dan berbagai bencana ekologis lainnya menjadi peristiwa yang berulang.

Padahal, alam adalah anugerah dari Sang Pencipta. Manfaatnya semestinya dinikmati secara adil oleh para penghuninya, serta diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, tata kelola alam yang baik dan berkelanjutan bukanlah pilihan, melainkan keharusan moral dan ekologis—sekaligus wujud nyata rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini, dua kawasan di Mojokerto bagian selatan layak dijadikan ruang pembelajaran tentang bagaimana harmoni antara manusia dan alam dapat menghadirkan berkah, manfaat, dan kenikmatan—bukan bencana.

Beberapa waktu lalu, kami mengunjungi sebuah destinasi wisata yang sederhana namun bermakna. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, pengunjung sudah dapat menikmati panorama alam yang asri dan menenangkan. Lanskap alamnya relatif dipertahankan, tanpa banyak perubahan yang merusak tatanan ekologis, kecuali pembangunan akses jalan yang memadai demi kenyamanan pengunjung.

diskon

Pohon-pohon besar tetap terawat, kontur sawah bertingkat khas kawasan pegunungan terjaga dengan baik, dan aktivitas pertanian masyarakat tidak terganggu—bahkan justru menjadi daya tarik wisata tersendiri. Di sejumlah titik, warga setempat membuka lapak untuk menjual produk lokal dan hasil panen mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata di kawasan tersebut berpihak pada pemberdayaan masyarakat.

Salah satu contohnya adalah Sumber Gempong, yang terletak di kaki Gunung Penanggungan, Desa Sugeng, Kecamatan Trawas—wilayah paling timur Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Sesuai namanya, Sumber Gempong menjadikan mata air alami sebagai ikon utama wisata. Lanskap sawah bertingkat yang dikelola dengan baik berpadu harmonis dengan sumber air tersebut. Akses jalan yang mudah, area parkir yang rapi dan luas, serta tiket masuk yang murah menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi, terutama pada hari libur. Selain sebagai wisata alam, kawasan ini juga berkembang sebagai wisata agro dan eduwisata.

Contoh kedua terdapat di kawasan Pacet Timur, tepatnya di Desa Made. Rintisan wisata di kawasan ini berkembang menjadi destinasi favorit baru sebagai ruang rekreasi gratis dengan panorama sawah, aliran sungai, serta latar Gunung Welirang. Meski masih bersifat rintisan, kawasan ini telah menarik banyak wisatawan. Masyarakat setempat secara kreatif memanfaatkan sebagian lahan sawah dan kebun untuk menjual komoditas lokal seperti ketela dan sayuran, serta mendirikan bangunan sederhana untuk lesehan dan warung olahan pangan lokal dengan harga yang terjangkau. Pola ini menunjukkan adanya integrasi antara wisata, ekonomi lokal, dan pelestarian alam.

Dua fakta empirik tersebut semestinya menjadi role model pengembangan wisata berkelanjutan: ramah lingkungan, berbasis potensi lokal, dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Indonesia, sebagai negara agraris yang kerap dijuluki zamrud khatulistiwa—permata hijau dunia—memiliki modal alam yang luar biasa. Sudah sepatutnya pengembangan pariwisata diarahkan pada model-model yang berorientasi lingkungan. Langkah paling sederhana yang dapat dilakukan pemerintah adalah membangun dan memperbaiki akses menuju destinasi wisata. Terlalu banyak “surga tersembunyi” yang sesungguhnya merupakan hadiah alam bagi negeri ini.

Situs mata air, hutan, situs sejarah, embung alami, kedung, hingga air terjun tersebar di berbagai daerah. Namun, semua itu membutuhkan sentuhan kreativitas yang proporsional serta tata kelola yang baik agar dapat berkembang tanpa merusak keseimbangan ekosistem.

Sebagaimana disampaikan oleh Quraish Shihab, syukur memiliki tiga dimensi utama. Pertama, kesadaran batin (hati) bahwa manusia telah menerima kebaikan dari Allah SWT. Kedua, pengucapan syukur secara lisan atas nikmat-Nya. Ketiga, dan yang paling esensial, adalah menggunakan anugerah tersebut sesuai dengan tujuan dan peruntukannya.

Dalam konteks ini, anugerah alam yang indah diperuntukkan untuk dinikmati, dijaga, dan dilestarikan—bukan untuk dieksploitasi secara berlebihan demi kenikmatan sesaat yang justru menimbulkan kerusakan.

Pada akhirnya, bencana yang terus berulang sejatinya bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari cara manusia memperlakukan anugerah-Nya. Ketika syukur berhenti pada lisan tanpa diwujudkan dalam tata kelola yang bijak, maka kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Sebaliknya, ketika alam dirawat, dijaga keseimbangannya, serta dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat, ia akan menghadirkan berkah yang melimpah.

Sumber Gempong dan rintisan wisata di Made Pacet menunjukkan bahwa harmoni antara manusia dan alam bukanlah utopia. Ia nyata, sederhana, dan dapat dimulai dari pengelolaan yang tidak serampangan serta keberpihakan pada masyarakat lokal.

Syukur, sebagaimana diingatkan para ulama, bukan hanya rasa dan kata, melainkan tindakan. Menjaga hutan, merawat sumber air, mempertahankan sawah, serta membangun wisata yang ramah lingkungan adalah bentuk syukur yang paling konkret. Jika kita berharap nikmat itu terus ditambah dan diwariskan kepada generasi mendatang, maka merawat alam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Semoga Ramadhan ini menjadi momentum refleksi atas hubungan manusia dengan alam dan Sang Maha Pencipta.

Wallāhu a‘lam.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button