Aswaja UniversalLintasan Pemikiran

Sistem Pendidikan NU Di 100 Tahun Kedua

Strategi pendidikan toleran dan pluralis yang banyak diwariskan tokoh Nahdlatul Ulama, melalui pelbagai aktivitas keagamaan dan sosial mereka, memberikan dampak positif untuk warga NU dan Indonesia. Sayangnya kurang berdampak pada sistem pendidikannya. Diperlukan penciptaan sistem dan institusionalisasi pendidikan bermutu unggul di NU.

Pendidikan bermutu tinggi digunakan menjawab tantangan menuju 100 tahun kedua NU. Peringatan satua abad NU, memberikan peluang untuk menjadi momentum mengkanalisasi pelbagai gagasan pendidikan. Agenda Pendidikan di NU kerap tenggelam dari pelbagai kepentingan dan program lain.

Label sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, juga di dunia, perlu dibarengi dengan sistem pendidikan NU yang kuat dan tangguh. NU harus bisa membuat pelbagai jalur, jenjang, dan jenis pendidikan di kelola dengan baik.

Sebagai benteng material, moral, dan spiritual NKRI, tanggung jawab NU sangat besar untuk terus menyiapkan generasi penerus. Sumber daya manusia yang memiliki nyali mengepalkan tinjunya menantang masa depan, medan perebutan pelbagai ideologi.

Terutama ideologi transnasional yang menjadi ancaman laten keutuhan NKRI. Syair epitaf K.H. Abdul Wahab Chasbullah, “Cintailah tanah air wahai bangsaku, jangan kalian menjadi orang terjajah, sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan harus dibuktikan dengan perbuatan”. Menanamkan cinta tanah air melalui pendidikan, sangat menancap dalam.

NU selama ini dikenal sebagai organisasi keagamaan yang toleran. M. Lutfi Mustofa (2018) mengatakan, “Konsepsi NU mengenai pluralisme keagamaan, sebagaimana terelaborasi dalam konstitusi organisasi maupun gagasan dan pemikiran komunitasnya, terkonstruksi dan tumbuh berkembang dalam konteks sejarah dan sosialnya melalui proses dialektika teologis, ideologis, dan sosio-kultural”. Salah satu tokoh besar tentang toleransi dan pluralisme yaitu K.H Abdurrahman Wahid.

Strategi pendidikan toleran dan pluralis yang diwariskan K.H Abdurrahman Wahid melalui pelbagai gerakan sosial, politik, dan penguatan masyarakat sipil menjadi buah manis untuk NU dan Indonesia. Sayangnya kurang berbuah pada sistem pendidikan di NU.

diskon

Banyak tokoh-tokoh agama, intelektual dan pegiat sosial yang memiliki kapasitas sangat baik dan maju, lahir sebagai anak ideologisnya. Bukan murni dari sistem pendidikan NU. Dinamika internal generasi intelektual muda NU yang mengadvokasi pluralisme dan demokrasi dalam Islam di Indonesia, dapat dijumpai, misalnya dalam buku Robin Bush (2009) Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia.

Tentu saja, anak-anak NU melalui basis pendidikan pesantren, memiliki bekal sangat memadai sebagai landasaran akademik dan spiritual. Nantinya, setelah bersentuhan dengan pelbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi, yang banyak diajarkan Gus Dur juga, menjadikan kapabilitasnya semakin mengesankan dan menjulang.

Saat ini, terjadi pelbagai keinginan kuat dari pesantren, sekolah dalam pesantren, dan sekolah NU untuk melakukan pelbagai eksperimen akselarasi ilmu dan teknologi. Sehingga dari pelbagai macam institusi tersebut memperlihatkan keunggulannya masing-masing. Sudah mulai tampak di pelbagai daerah, pesantren, dan sekolah di lingkungan NU lebih unggul dibanding sekolah negeri atau swasta dan jadi pilihan pertama masyarakat.

Penciptaan sistem dan institusionalisasi pendidikan bermutu yang unggul menjadi agenda penting. Terutama memberikan koridor untuk kepengurusan berikutnya.

Sistem Pendidikan NU

Satu abad, sistem pendidikan NU belum menemukan titik ideal sebagai rujukan, untuk semua lembaga dan satuan pendidikan dibawahnya. Saya katakan rujukan, karena untuk menjadikan satu sistem utuh dan sentralistik, nyaris mustahil dilakukan karena ciri khas dan pengelolaan yang sangat majemuk.

Seperti sistem pendidikan nasional, yang mampu menjadi payung pelbagai jalur, jenjang, dan jenis, yang ada di Indonesia. Sistem pendidikan NU mampu menjadi payung bersama pelbagai lembaga pendidikannya.

Sistem pendidikan NU dimaksud yaitu keseluruhan komponen yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikannya. Komponen tersebut yaitu dasar, fungsi, tujuan, prinsip, hak, kewajiban, jalur, jenjang, jenis, standar, dan tata kelola pendidikan.

Di dalam komponen pendidikan tersebut terdapat pelbagai substansi yang dikelola. Substansi tersebut yaitu guru, siswa/santri, tenaga kependidikan, jalur, jenjang, jenis, satuan pendidikan, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendidikan informal, pendidikan anak usia dini,  kurikulum, pembelajaran, evaluasi pendidikan, sumber daya pendidikan, dan lainnya yang relevan.

Melalui sistem pendidikan NU, pelbagai lembaga pendidikan menjadi properti dan sinergitas menangani pelbagai tantangan adaptif secara efektif. Sistem dapat memobilisasi pelbagai kemampuan dan aset, berinovasi dengan cepat, dan mendistribusikan risiko. Struktur dalam sistem memfasilitasi respons terhadap perubahan kebutuhan melalui rekombinasi, peningkatan skala penanganan yang cepat, dan deteksi persoalan berbasis luas.

Menilik manfaat sistem pendidikan terintegrasi tersebut, pelbagai persoalan dapat dicegah dan ditangani dengan cepat. Dengan mudah, lembaga-lambaga sejenis yang mengklaim sebagai bagian pesantren misalnya, dapat segera diatasi. Karena berapa kasus turut mencoreng NU secara tidak langsung, paling mutakhir tindakan asusila sekolah dengan label boarding school.

Institusionalisasi Sistem

Institusionalisasi sistem pendidikan NU untuk pendidikan bermutu yang unggul, sangat mungkin terimplementasi pada semua satuan pendidikan di bawah/dimiliki Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama. Institusionalisasi atau pelembagaan merupakan proses mengembangkan aturan dan prosedur yang saling memengaruhi dalam interaksi sistem pendidikan dan ekosistem NU.

Institusionalisasi dimaksudkan untuk mengatur perilaku lembaga, individu dan masyarakat NU. Tiga upaya proses institusinalisasi pendidikan bermutu yang unggul melalui proses pembuatan, adaptasi, perubahan aturan dan prosedur.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan dan antisipasi. Seperti dikatakan Denise Fleck (2007) bahwa, “Proses institusionalisasi memiliki efek ambivalen pada keberhasilan jangka panjang organisasi. Meskipun mereka mendorong stabilitas dan keabadian organisasi, mereka juga membawa kekakuan dan perlawanan terhadap perubahan”. Akibatnya, organisasi yang sukses cenderung kehilangan keunggulan kompetitif mereka dari waktu ke waktu.

Sebenarnya tidak perlu ada ketakutan untuk organisasi seperti NU, yang dikenal adaptif dan memiliki toleransi tinggi terhadap pelbagai situasi dan kondisi kemasyarakatan, dari waktu ke waktu. Bisa saja hal tersebut menjadi kekuatan, sekaligus tantangan. Karena nilai-nilai kultural yang dimilikinya, selama ini menonjol dibandingkan organisasional.

Untuk mencapai institusionlisasi sistem pendidikan NU yang efektif, maka diperlukan produk dari mandat tertinggi. Forum muktamar mampu menciptakan proses mediasi pelbagai cita-cita dan harapan. Pelbagai cita-cita dan harapan tersebut diadopsi oleh jamaah dan organisasi menjadi bagian dari norma.

Institusionlisasi sistem pendidikan NU dapat meningkatkan dampak positif dan mobilisasi modal manusia lebih baik lagi. Memang dibutuhkan prasyarat yang mendukungnya, seperti tersedianya dana, penguatan kapasitas jamaah dan organisasi, dan lingkungan yang mendukung. Selain itu, dukungan kuat dari setiap pengurus organisasi dengan strategi yang jelas.

Di 100 tahun kedua ini, sistem pendidikan NU, diperlukan upaya meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia nahdliyin, tentu saja pada akhirnya untuk Indonesia. Sumbangan NU terhadap hidup berbangsa akan semakin kuat, dalam, dan luas dengan kapabilitas warganya yang unggul, melalui pendidikan bermutu tinggi.

Teguh Triwiyanto

Pria kelahiran Tegal, 1977 ini merupakan kader Gerakan Pemuda Ansor Kota Batu. Telah menulis karya ilmiah di berbagai jurnal, baik nasional maupun internasional. Sekarang mengajar di Program Studi Manajemen Pendidikan Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Selain sebagai dosen, beliau merupakan peneliti Utama Indonesian Presidential Studies

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button