Sudut Sejarah

Putra Bungsu Hadratussyaikh Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama

Wathan.id – Nama KH Yusuf Hasyim kembali mengemuka. Pengasuh ke-6 Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang, itu dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Penganugerahan dilakukan di Istana Negara, Senin (25/8), dan diterima oleh putranya, Gus Irfan Yusuf Hasyim, yang kini menjabat Kepala Badan Penyelenggara Haji.

Bagi kalangan pesantren, penghargaan ini bukan sekadar seremoni negara. Sosok yang akrab disapa Pak Ud itu selama hidupnya dikenal sebagai kiai militer, pengasuh pesantren, sekaligus pejuang kemerdekaan. Ia ikut membidani lahirnya Laskar Hizbullah, sayap santri dalam perang kemerdekaan, sekaligus merintis Tebuireng menjadi pusat pendidikan Islam modern.

Presiden Prabowo menilai Yusuf Hasyim berjasa luar biasa. Tidak hanya di gelanggang perjuangan, tetapi juga dalam membentuk karakter kebangsaan dan memperkuat moderasi beragama. “Beliau berhasil menempatkan peran santri sebagai pilar pembangunan nasional,” tertulis dalam narasi resmi penghargaan.

Anugerah negara ini seolah meneguhkan kembali jejak panjang perjuangan Yusuf Hasyim—seorang kiai yang tak ragu mengenakan seragam militer, seorang pejuang yang setia mengasuh santri, dan seorang pendidik yang mewariskan gagasan moderasi hingga kini.

Gus Irvan Yusuf

Mengenal KH. Yusuf Hasyim: putra bungsu Hadratussyaikh

KH. Muhammad Yusuf Hasyim (3 Agustus 1929 – 14 Januari 2007) merupakan sosok kiai, pejuang kemerdekaan, politisi, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia dikenal dengan panggilan akrab Pak Ud, sebuah sapaan sederhana yang melekat hingga akhir hayatnya. Julukan itu menggambarkan pribadi yang rendah hati, jauh dari kesan formalitas “Gus” atau “Kiai” yang biasanya disematkan kepada putra kalangan pesantren. Namun, di balik kesederhanaan panggilan itu, Yusuf Hasyim menorehkan kiprah luar biasa dalam sejarah keulamaan, kepolitikan, dan kebangsaan Indonesia.

Yusuf Hasyim adalah putra bungsu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan adik kandung KH Wahid Hasyim. Ia lahir di Pesantren Tebuireng pada 3 Agustus 1929, bertepatan dengan lantunan adzan dan bacaan Al-Qur’an para santri. Dari tujuh bersaudara, ia tumbuh dalam atmosfer keilmuan Islam yang kental.

diskon

Sejak kecil, ia mendalami ilmu agama di bawah bimbingan langsung ayahandanya. Pada usia 12 tahun, ia merantau ke berbagai pesantren: Pondok Al-Qur’an Sedayu Gresik, Pesantren Krapyak Yogyakarta asuhan KH Ali Ma’sum, hingga Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Perjalanan intelektual itu membentuk perpaduan unik dalam dirinya: kedalaman tradisi keislaman klasik sekaligus keterbukaan terhadap modernitas.

Semangat perjuangan Yusuf Hasyim teruji sejak muda. Pada usia 16 tahun, ia bergabung dengan Laskar Hizbullah Jawa Timur pada awal 1945. Ketika Resolusi Jihad dikumandangkan (22 Oktober 1945), ia tampil sebagai Komandan Kompi Hizbullah Jombang. Peran itu membuatnya terjun langsung dalam pertempuran melawan Belanda, termasuk dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Pasca pembubaran Hizbullah, Yusuf Hasyim sempat masuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat terakhir Letnan Satu. Namun, ia kemudian memilih jalur sosial-keagamaan dan politik.

Pada masa awal Orde Baru, ia dikenal sebagai pendiri dan komandan pertama Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Di tengah ketegangan politik 1960-an, Yusuf Hasyim menjadi motor perlawanan terhadap PKI. Kalimat lantangnya melegenda: “Langkahi dulu mayatku sebelum kalian mengganyang HMI”, ketika ada upaya membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ucapan ini menegaskan keberpihakannya terhadap demokrasi, pluralisme, dan Pancasila.

Keterlibatan Yusuf Hasyim di dunia politik berjalan panjang. Ia pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Utusan Daerah dan bersuara keras dalam berbagai isu kebangsaan. Ia satu barisan dengan tokoh-tokoh penting era Orde Baru seperti KH Idham Chalid, Amir Machmud, dan Ali Murtopo. Di era reformasi, saat usianya memasuki 70 tahun, Yusuf Hasyim tetap energik. Ia mendirikan Partai Kebangkitan Umat (PKU) pada 1998 dan menjabat sebagai ketua umum. Meski perolehan suara PKU dalam Pemilu 1999 tidak signifikan, kehadirannya menjadi bukti konsistensi Yusuf Hasyim dalam berpolitik hingga akhir hayat.

Sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng, Yusuf Hasyim menorehkan banyak pembaruan. Ia mendorong Tebuireng agar tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga lembaga modern yang mengelola sekolah umum hingga perguruan tinggi (Universitas Hasyim Asy’ari). Yusuf Hasyim menolak gagasan Orde Baru memasukkan pesantren ke dalam GBHN. Alasannya jelas: pesantren harus mandiri. Baginya, kemandirian adalah kunci keberlangsungan pesantren sekaligus bukti kekuatan sosial umat Islam.

Selain dunia pesantren dan politik, Yusuf Hasyim dikenal terbuka terhadap seni. Ia pernah tampil dalam film kolosal “Walisongo”. Ia juga keras dalam mempertahankan marwah keluarga: misalnya, ketika memprotes penerbitan koin emas bergambar KH Hasyim Asy’ari oleh perusahaan asing pada 2004, meski keponakannya Gus Dur mendukung.

Yusuf Hasyim menikah dengan Siti Bariyah dan dikaruniai lima anak: Muthia F., Muhammad Reza, Nurul Hayati, Muhammad Irfan, dan Nurul Ami. Berbeda dengan sebagian besar saudaranya, sejak muda ia lebih tertarik membaca buku, koran, dan kliping berita ketimbang hanya kitab kuning. Kebiasaannya ini menumbuhkan kepekaan sosial, menjadikannya pribadi yang gemar berdiskusi lintas kalangan. Sholihin Hidayat, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos, menggambarkan Yusuf Hasyim sebagai sosok hangat, suka bergaul, pandai memimpin, dan berani mengambil keputusan.

Pada awal Januari 2007, kondisi kesehatan Yusuf Hasyim memburuk. Ia dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya akibat gagal napas akut karena radang paru-paru. Setelah 11 hari berjuang, ia wafat pada 14 Januari 2007 pukul 18.45 WIB dalam usia 77 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kompleks keluarga Pondok Tebuireng. Ribuan pelayat hadir, termasuk tokoh nasional dan daerah. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyebut wafatnya Yusuf Hasyim sebagai kehilangan besar, baik bagi NU maupun Indonesia. “Beliau adalah benteng Pancasila, pejuang bangsa, dan pengawal marwah NU,” ujarnya.

Warisan Yusuf Hasyim bukan hanya dalam bentuk institusi (Banser, Tebuireng, PKU), melainkan juga nilai. Ia menegaskan pentingnya kemandirian pesantren, keberanian melawan tirani, serta kesetiaan pada Pancasila. Baginya, perjuangan adalah napas panjang yang tidak berhenti, entah di medan tempur, parlemen, pesantren, atau ruang diskusi.

Dengan demikian, KH Yusuf Hasyim menempati posisi istimewa dalam sejarah bangsa: seorang kiai pejuang yang tulus, politisi yang berani, sekaligus penjaga tradisi pesantren yang progresif.

#sudutsejarah #wathanid

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button