Bersatu, Berperan untuk Negeri: Refleksi 92 Tahun GP Ansor dari Kota Batu

Wathan.id – Gemuruh selawat dan kekhusyukan doa memecah keheningan malam di lereng Gunung Arjuno. Ratusan pemuda berseragam hijau khas Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan loreng Banser tampak memadati Balai Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Jumat malam (24/4/2026). Kedatangan mereka bukan tanpa alasan; para kader ini berkumpul dalam gelaran Kenduri Harlah Ansor ke-92 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kota Batu.
Acara yang dimulai tepat pukul 19.34 WIB tersebut menjadi momentum sakral bagi organisasi pemuda nahdliyin tertua di Indonesia ini untuk menengok kembali rekam jejak perjuangan selama sembilan dekade lebih.
Kegiatan dibuka dengan khidmat melalui pembacaan surat Yasin dan Tahlil. Dipimpin oleh Sekretaris PC Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, Sahabat Aliful Yahya, lantunan doa dikirimkan untuk para muassis (pendiri) NU dan pejuang Ansor yang telah gugur. Suasana religius kian terasa saat ratusan kader menundukkan kepala, meresapi setiap bait zikir yang bergema di ruang pertemuan.
Bertindak sebagai pemandu acara (MC), Sahabat Fariz Pasharella membawa alur kegiatan dengan dinamis namun tetap formal, menyatukan elemen struktural dan kultural yang menjadi ciri khas organisasi ini.
Hadir di tengah-tengah kader, Kepala Desa Sumbergondo, Sahabat Hadi Purwanto, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat PAC GP Ansor Bumiaji. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa menjadi kader Ansor adalah pilihan pengabdian yang tidak ringan namun mulia.
“Spirit berkhidmat di GP Ansor tidak boleh luntur oleh zaman. Kalian adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan desa dan negara. Konsistensi dalam berorganisasi adalah kunci agar Ansor tetap relevan dan dicintai masyarakat,” tegas Hadi di hadapan audiens yang juga dihadiri oleh Bhabinkamtibmas Desa Sumbergondo.

Ketua PC GP Ansor Kota Batu, Sahabat M. Rizal Fakhruddin, dalam orasi organisasinya memaparkan visi besar Ansor Kota Batu di usia yang ke-92 ini. Rizal menekankan bahwa perayaan tahun ini bukan sekadar seremonial, melainkan pijakan untuk penguatan internal.
“Usia 92 tahun adalah bukti ketangguhan. Di Kota Batu, kita akan memperingati Harlah ini dengan serangkaian agenda yang menyentuh langsung akar rumput. Penguatan organisasi di tingkat Ranting hingga Cabang menjadi harga mati agar distribusi kaderisasi berjalan efektif,” jelas Rizal.
Ia juga mengapresiasi kehadiran seluruh unsur pimpinan, mulai dari Pengurus Harian PC, PAC dari tiga kecamatan (Batu, Bumiaji, dan Junrejo), hingga jajaran komando Banser dari tingkat Satkorcab, Satkoryon, hingga Satkorkel se-Kota Batu. Menurutnya, loyalitas kader yang hadir dari pelosok desa membuktikan bahwa mesin organisasi dalam keadaan sehat dan solid.
Puncak spiritualitas acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah dan doa oleh Ketua MDS Rijalul Ansor Kecamatan Bumiaji, Sahabat Zakaria Al Ansori. Dalam ceramahnya, Zakaria menyoroti peran strategis Ansor sebagai mediator sosial di tengah masyarakat yang heterogen.
“Ansor bukan hanya soal baris-berbaris atau pengamanan. Ansor adalah wajah Islam yang ramah. Peran kita adalah menjaga kerukunan dan kebersamaan. Jangan sampai ada sekat antara kader Ansor dengan masyarakat umum. Kita harus menjadi pendingin di tengah situasi apa pun,” pesan Zakaria sebelum menutup sesi dengan doa bersama yang menggetarkan hati.
Ada pemandangan menarik saat acara seremonial usai. Protokol formal seketika cair saat belasan tumpeng mulai ditata di tengah ruangan. Tanpa ada sekat jabatan antara Ketua Cabang, Kepala Desa, hingga anggota Banser paling junior, semuanya duduk melingkar dalam tradisi makan bersama atau kembul bujana.
Suasana akrab dan penuh tawa mewarnai momen makan tumpeng ini. Bagi GP Ansor Kota Batu, makan bersama dalam satu nampan adalah simbol egaliter dan rasa syukur atas eksistensi organisasi yang telah mencapai 92 tahun. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; semua adalah saudara dalam satu garis perjuangan yang sama.
Kenduri ini bukan sekadar peringatan hari lahir, melainkan penegasan bahwa di Kota Batu, GP Ansor tetap berdiri tegak sebagai benteng ulama dan pengawal kebhinekaan, tepat saat mentari organisasi tersebut mulai menapaki jalan menuju satu abad pengabdian.@



