Aswaja Universal

Merawat Jamaah, Memperkokoh Jam’iyah: Konferensi XI MWC NU Pacet Tegaskan Khidmah Lima Tahun ke Depan

Minggu (12/7) pagi, Aula Graha NU Pacet sudah dipenuhi pengurus ranting NU se-Kecamatan Pacet. Mereka menghadiri Konferensi XI MWC NU Pacet, forum tertinggi NU tingkat kecamatan, bertema “Merawat Jamaah, Memperkokoh Jam’iyah.”
Meski tamu eksternal belum lengkap, jam 8.15 sebagaimana round down kegiatan, dibuka tertib. Acara dipandu kader muda NU, dari IPPNU, lalu dilanjutkan pidato iftitah Rais Syuriah MWC NU Pacet, KH Abdul Jamil.

Dengan gaya ringan, KH Abdul Jamil mengingatkan pentingnya menjaga amanah ulama pendiri NU. Ia mengajak peserta merawat warisan para muassis dengan ikhlas. Doa dan Al-Fatihah dipersembahkan untuk Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, para pendiri NU, serta para penggerak NU di Mojokerto dan Pacet.

Suasana khidmat berlanjut saat Paduan Suara Ancab Fatayat NU Pacet tampil membawakan Indonesia Raya, Mars Ya Lal Wathan, dan Hymne NU. Penampilan juara lomba paduan suara tingkat PC Fatayat NU Ancab Pacet Mojokerto itu menguatkan semangat kebangsaan dan kecintaan pada jam’iyah. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh sahabat Muhammad Rifai, aktivis GP Ansor dan Ishari, menambah kekhidmatan. Pembukaan ditutup shalawat Mahallul Qiyam yang dipandu Ketua Ancab Ishari Pacet, Ustaz Abdul Majid.

Ketua Organizing Committee, Imron Rosyadi, menyampaikan terima kasih kepada panitia dan pihak yang mendukung konferensi. Ia berharap forum ini melahirkan kepemimpinan amanah dan memperkuat khidmah kepada masyarakat serta warga Nahdliyin.

Bangga Menjadi Warga NU

Plt Camat Pacet, Joko Wijayanto, menjadi tamu pertama yang memberi sambutan. Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar NU sekaligus mendapat amanah dari Bupati Mojokerto memimpin Kecamatan Pacet. Ia menyebut Pacet memiliki dua kekuatan utama, yakni pesantren dan kawasan wisata, yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama UMKM.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Pacet, Agus Santoso, M.Pd.I., mengajak peserta tidak melupakan sejarah organisasi.
“Mari terus mengingat perjuangan para pendahulu. Jangan sampai kita kehilangan jejak sejarah NU Pacet,” pesannya.
Agus, yang kembali dipercaya memimpin MWC NU Pacet, berharap konferensi berjalan istiqamah dan menghasilkan kepengurusan yang lebih baik.

Konferensi dibuka resmi oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Mojokerto, H. Abdul Muchid, S.H. Ia menegaskan keikhlasan sebagai ruh utama khidmah di NU. “Menjadi pengurus bukan satu-satunya jalan meraih keberkahan. Yang utama adalah keikhlasan dalam melayani umat,” ujarnya. Ia juga memperkenalkan rencana pengembangan amal usaha PCNU Mojokerto berupa Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang diharapkan melibatkan seluruh struktur NU hingga tingkat bawah.

Empat Sidang Pleno

Agenda inti konferensi berlangsung dalam empat pleno. Pleno pertama membahas tata tertib dan menetapkan pimpinan sidang tetap. Pleno kedua membentuk tiga komisi yang membahas rekomendasi, program kerja, dan organisasi. Hasilnya disusun panitia menjadi prosiding yang akan menjadi Garis Besar Haluan Nahdlatul Ulama (GBHNU) MWC NU Pacet untuk lima tahun ke depan. Pleno ketiga membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode sebelumnya.

Pleno keempat menjadi agenda utama, yakni pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah MWC NU Pacet. Sidang dipimpin Sekretaris Rais Syuriah PCNU Mojokerto, M. Asyari, SPdI didampingi Sekretaris Tanfidziyah PCNU Mojokerto, Drs. Rodi.

Hasilnya, terpilih kembali, KH Abdul Jamil sebagai Rais Syuriah dan Agus Santoso, M.Pd.I. sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Pacet periode berikutnya. Keduanya kembali dipercaya memimpin.

Bukan Sekadar Memilih Pemimpin

Menjelang senja, peserta meninggalkan Graha NU Pacet. Kursi-kursi yang sejak pagi penuh kembali kosong, berkas sidang dirapikan, dan spanduk konferensi masih tergantung di aula. Namun pekerjaan besar baru dimulai. Bagi NU, konferensi bukan hanya memilih Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah. Jabatan hanyalah sarana. Yang utama ialah memastikan jamaah terlayani, masjid dan majelis taklim tetap hidup, kader muda tumbuh, dan ranting semakin kuat sebagai garda pelayanan umat.

Amanah itu kini menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga Nahdliyin. NU dibangun oleh banyak tangan yang bekerja dalam keikhlasan, sering kali tanpa sorotan. Tema “Merawat Jamaah, Memperkokoh Jam’iyah” pun menemukan maknanya. Saat jamaah dirawat dengan kasih sayang, jam’iyah akan kokoh. Saat jam’iyah kokoh, NU tetap menjadi rumah besar umat dan cahaya bagi masyarakat. Dari Pacet, semangat itu kembali ditegaskan: berkhidmah tanpa lelah, melayani tanpa pamrih, dan menjaga warisan para muassis agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Editor: Alfi Saifullah

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button