Lintasan Pemikiran

Leadership Perspektif Gen Z: Siap Memimpin atau Sekadar Viral? #2

Kepemimpinan yang Situasional

Kepemimpinan demokratis memang terdengar lebih nyaman dan positif. Namun, bukan berarti tanpa kelemahan. Sebaliknya, kepemimpinan otoriter juga tidak selalu buruk.

Kedua gaya tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, penerapannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Ketika sebuah tim berisi orang-orang yang matang, disiplin, dan memiliki kualitas SDM yang baik, maka gaya demokratis dapat lebih banyak diterapkan. Sebab, mereka tidak membutuhkan terlalu banyak instruksi.

Sebaliknya, jika anggota tim masih dalam tahap belajar dan kualitas SDM belum kuat, maka pola kepemimpinan yang lebih tegas dan terarah dapat digunakan pada tahap awal. Seiring meningkatnya kualitas tim, pola tersebut dapat dikurangi secara bertahap.

Banyak perusahaan startup dan organisasi modern saat ini menerapkan kepemimpinan yang fleksibel: tegas saat krisis, tetapi terbuka saat membangun kreativitas tim.

Kepemimpinan dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, prinsip kepemimpinan sebenarnya sangat jelas. Tantangannya bukan pada teori, tetapi pada kemauan untuk melaksanakannya.

diskon

Kiblat kepemimpinan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW, sosok manusia paling mulia dalam sejarah peradaban manusia. Beliau menunjukkan teladan kepemimpinan yang penuh akhlakul karimah melalui empat sifat wajib Rasul, yaitu:

  1. Shiddiq : jujur dan benar
  2. Amanah : dapat dipercaya
  3. Tabligh : mampu menyampaikan kebenaran
  4. Fathonah : cerdas dan bijaksana

Empat sifat ini sangat relevan bagi Gen Z hari ini, terutama di tengah maraknya hoaks, budaya pencitraan, dan krisis keteladanan di media sosial.

Self Leadership: Memimpin Diri Sendiri

Dalam konsep modern, kepemimpinan tidak hanya berarti memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri (self leadership).

Self leadership adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri melalui visi, tujuan, dan strategi hidup yang jelas. Konsep ini menekankan bahwa seseorang tidak harus menunggu perintah orang lain untuk berkembang dan sukses.

Keterampilan dalam self leadership meliputi:

  1. kemampuan memotivasi diri,
  2. mengelola waktu,
  3. mengendalikan emosi,
  4. menentukan prioritas hidup,
  5. serta mengenali dan memperbaiki kelemahan diri.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh M. Wisnu Pratama dan Miftahul Jannah pada tahun 2024, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), mengenai regulasi emosi Generasi Z di Mojokerto.

Regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan, mengevaluasi, mengatur, dan mengelola emosi yang dirasakannya guna mencapai keseimbangan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat regulasi emosi Gen Z di Mojokerto berada pada kategori sedang.

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa remaja yang memiliki keterampilan sosial yang baik serta kemampuan berpikir kritis cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Dengan kata lain, kemampuan berinteraksi secara sehat dan berpikir matang menjadi faktor penting dalam membentuk karakter Generasi Z yang lebih stabil secara emosional dan lebih siap menjadi pemimpin di masa depan.

Di era digital, kemampuan mengendalikan diri menjadi salah satu bentuk kepemimpinan paling penting. Tidak semua yang viral harus diikuti, dan tidak semua tren cocok untuk masa depan seseorang. (GreatNusa, 12 Februari 2023)

Peran IPNU dan IPPNU dalam Membangun Kepemimpinan Gen Z

Di sinilah organisasi seperti IPNU dan IPPNU memiliki posisi yang sangat penting dan strategis. Kedua organisasi ini dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk membangun karakter kepemimpinan yang kuat.

Lingkungan organisasi yang sehat dapat membantu para aktivis belajar bekerja sama, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghadapi tekanan hidup.

Pengkaderan berjenjang, mulai dari Makesta hingga Lakut, tidak hanya memberikan teori tentang kepemimpinan, tetapi juga melatih praktik kepemimpinan secara langsung melalui kegiatan organisasi.

Kegiatan diskusi, pelatihan, kepanitiaan, hingga pengabdian sosial menjadi sarana pembentukan inner leadership maupun outer leadership. Pergaulan yang sehat di lingkungan IPNU dan IPPNU juga dapat membantu membentuk pribadi yang lebih kuat, tidak mudah baper, serta lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.

Penutup

Generasi Z hidup di zaman yang penuh kemudahan teknologi, tetapi juga penuh tantangan mental dan sosial. Karena itu, mereka membutuhkan kemampuan kepemimpinan yang tidak hanya kuat dalam memimpin orang lain, tetapi juga kuat dalam memimpin dirinya sendiri.

Kepemimpinan hari ini bukan hanya tentang memberi perintah, tetapi juga tentang kemampuan menjaga mental, membangun komunikasi, mengelola emosi, dan menjadi teladan di tengah masyarakat digital.

Dan organisasi pelajar seperti IPNU dan IPPNU memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh, berakhlak, adaptif, serta siap menjadi pemimpin masa depan.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button