Sudut Sejarah

Menjemput Cahaya di Ujung Selatan Batu : Biografi Kiai Ahmad Syadzili #2

Selain Syaikh Abdul Fattah, sosok yang menjadi guru dari Kiai Syadzili adalah Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih Malang, muassis Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyah Malang. Kepada ulama ahli hadits ini, Kiai Syadzili pernah belajar cukup lama. Seperti santri pada umumnya, selama berguru, Kiai Syadzili turut mengasuh dan menjaga putra sang guru yang saat itu masih kecil; Habib Abdullah Bilfaqih. Dalam cerita Gus Rochim, Kiai Syadzili pernah menggendong dan menyuapi Habib Abdullah kecil. Hubungan guru dan murid ini terus terjaga hingga Kiai Syadzili telah menetap di Desa Pendem, Kota Batu. Bahkan, Habib Abdul Qodir pula yang memberi nama pondok yang diasuh Kai Syadzili dengan nama: Riyadlul Jannah.

Ceritanya, terjadi sekitar tahun 1962-an. ​Suasana pagi di Desa Pendem diselimuti keheningan yang khusyuk. Kediaman Kiai Syadzili tampak lebih rapi dari biasanya, menantikan kehadiran sosok agung. Tak lama kemudian, rombongan Habib Abdul Qodir Bilfaqih tiba. Pagi-pagi pengasuh Daruk Hadits tersebut berkunjung ke majlis taklim yang diasuh Kiai Syadzili di Desa Pendem. Dalam kunjungannya tersebut, Habib Abdul Qodir mengajak serta putranya, Habib Abdullah Bilfaqih, Muallim Romli (salah satu duru di PP Darul Hadits), dan beberapa santri. Mendapat kunjungan dari sang guru, betapa bahagianya Kiai Syadzili beserta seluruh keluarga. Mereka menyambutnya dengan antusias dan penuh hormat atas kedatangan sang guru.

Ditengah kehangatan sambutan Kiai Syadzili, Habib Abdul Qodir menyampaikan kalimat yang seolah menguji kedalaman takzim sang murid, “Wahai anakku, aku akan hadir di tempatmu ini hanya sebentar, sekitar lima atau sepuluh menit.” Mendengar perkataan itu, tidak ada guratan kekecewaan dalam wajah Kiai Syadzili, sebaliknya beliau justru menunduk takdzim dengan mata berbinar dan wajah penuh rasa syukur. “Meskipun hanya lima atau sepuluh menit, hanya menginjak rumah, menginjak tanah saja kami sangat bergembira dengan kedatanganmu”, jawab Kiai Syadzili. Dalam tradisi pesantren dan etika guru-murid, durasi waktu acapkali menjadi tidak relevan jika dibandingkan dengan nilai keberkahan. Kiai Syadzili tidak menyoal seberapa lama Habib Abdul Qodir hadir, tetapi kehadiran itu sendiri merupakan sebuah keberkahan.

Sejurus kemudian, Habib Abdul Qodir dipersilahkan mengisi majlis taklim di mushola pondok. Waktu terus berlalu, tak pernah disangka, yang semula rencana hanya lima sampai sepuluh menit, ternyata tausiyah Habib Abdul Qodir berjalan hingga adzan dzuhur tiba. Lantas dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah yang diikuti jamaah majlis taklim dan warga sekitar Dusun Bangkon. Selepas shalat Dzuhur, Habib Abdul Qodir beserta rombongan dipersilahkan makan siang oleh Kiai Syadzili.

Usai makan siang, Habib Abdul Qodir berkenan Kembali mengisi di majlis taklim Kiai Syadzili. Detik demi detik pun berganti menit. Dan perlahan menit demi menit pun berlalu, tanpa terasa Habib Abdul Qodir telah memberi tausiyahnya hingga menjelang waktu maghrib. Usai memberi tausiyah, Habib Abdul Qodir berpamitan. Sebelum undur diri, Habib Abdul Qodir sempat berkata, “Tempat ini pantas saya namakan Riyadlul Jannah (Taman Surga)” Dus, ketika berkata demikian, beliau sembari mengutip hadits tentang keutamaan majlis ilmu,

diskon

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang hati.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi)

Sejak saat itu, pondok pesantren yang diasuh Kiai Syadzili dinamakan Riyadlul Jannah. Nama itu dipergunakan dan dilestarikan hingga sekarang.

Hubungan guru dan murid antara Habib Abdul Qodir dan Kiai Syadzili diteruskan oleh putra-putra. Gus Muhammad Syadzili, putra kedua Kiai Syadzili setelah belajar kepada ayahnya, ia mondok di PP Darul Hadits Al-Fiaqihiyah yang saat itu diasuh oleh Prof. Dr. Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih. Begitu juga dengan Gus Abdurrochim, puta keenam Kiai Syadzili, meski tidak pernah mondok di Darul Hadits, beliau kerap sowan kepada Habib Abdullah, meminta nasihat dan ijazah. Salah satu ijazah Habib Abdullah yang acapkali dibagikan Gus Abdurrochim kepada jamaahnya adalah Shalawat Idrakiyah.

الصَّلَاةُ وَ السَّلامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ ضَاقَتْ حَيْلَتَى أَدْرِكْنى يَارَسُوْلَ الله

“Rahmat dan sejahtera semoga melimpah kepadamu, wahai junjunganku Rasulullah, sungguh terasa sempit usahaku, maka rangkullah aku, wahai Rasulullah.”

KH. Syadzili dan Habib Alwi 1
Kiai Ahmad Syadzili bersama Habib Alwi bin Salim Alaydrus

Gus Abdurrocim juga rutin menghadiri majlis yang diasuh oleh Habib Abdullah setiap Ahad pertama majlis taklim dan Ahad terakhir tentang Thoriqoh. Beberapa bulan sebelum wafat, Habib Abdullah Bilfaqih bersilaturahmi ke rumah Kiai Syadzili di Pendem. Kepada Habib Abdullah, Kiai Syadzili menitipkan Gus Abdurrochim agar tidak hanya diakui sebagai murid, tetapi juga anak. Pun Habib Abdullah menjawab permintaan Kiai Syadzili dengan berkata, “Ini Abdurrochim adalah anakku.” Pun setelah Habib Abdullah wafat, Gus Abdurrochim selalu rutin ziarah ke makam beliau di TPU Kasin, ia juga hadir dalam haul beliau yang diperingati setiap hari ahad terakhir bulan Jumadil Akhir.

Bersambung…

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button