Lintasan Pemikiran

Kearifan yang Tergerus: Bertani di Persimpangan antara Tradisi dan Industri #2

Bertani Selaras dengan Musim

Petani masa lalu membaca alam sebagai kitab terbuka. Munculnya uir-uir atau tonggeret yang berbunyi menjelang malam sering ditafsirkan sebagai tanda datangnya musim hujan. Sebaliknya, suara tonggeret tertentu di pagi hari menandakan berakhirnya musim hujan.

Sayangnya, tanda-tanda alam ini kini jarang ditemui. Pestisida yang digunakan tanpa kendali serta polusi lingkungan memusnahkan banyak spesies indikator alam. Akibatnya, petani kehilangan ‘bahasa alam’ yang dahulu menjadi panduan bertani.

Padahal, keselarasan musim bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi juga berkaitan dengan siklus kehidupan makhluk lain. Musim hujan memang meningkatkan populasi serangga, tetapi juga beriringan dengan musim menetasnya burung pemangsa. Ketika burung diburu dan habitatnya rusak, keseimbangan pun runtuh: serangga (konsumen tingkat pertama) melonjak karena predator alaminya (konsumen tingkat kedua) menghilang.

Bersahabat dengan Rajakaya

Hampir setiap petani dahulu memelihara rajakaya: sapi, kambing, ayam. Hewan-hewan ini bukan hanya tabungan hidup, tetapi juga sumber pupuk organik yang menjaga kesuburan tanah.

Kini, kemandirian itu semakin hilang. Pertanian berorientasi pada pupuk anorganik yang tidak bisa diproduksi sendiri. Petani terjebak dalam budaya instan dan ketergantungan pada industri. Semua harus dibeli, dan kemandirian perlahan menguap.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

diskon

Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung,
manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa bertani adalah ibadah ekologis, bukan sekadar aktivitas ekonomi.

Varietas Lokal dan Kehilangan Kebebasan Petani

Sejak Revolusi Hijau era 1970-an, dengan konsep Panca Usaha Tani, petani diarahkan menggunakan benih unggul, pupuk kimia, dan pestisida. Hasilnya memang instan, tetapi mahal secara ekologis dan sosial.

Varietas padi lokal seperti Mendok, Sri, atau Nandi—yang berumur panjang, tahan penyakit, tidak bergantung pupuk kimia, dan kurang disukai tikus—tersingkir oleh varietas berumur pendek seperti IR atau PB. Varietas baru ini responsif terhadap pupuk kimia, rentan hama, dan membutuhkan air serta biaya tinggi.

Sejak itu, petani kehilangan kebebasan. Mereka tergantung pada produsen benih, pestisida, dan pupuk—sebagian besar berasal dari luar negeri. Tanah dan air tercemar, serangga sahabat petani menurun, dan daya dukung tanah melemah. Ironisnya, untuk mempertahankan hasil, dosis pupuk kimia justru harus terus ditambah.

Menjaga Amanah Tanah

Inovasi dalam pertanian tentu tidak salah. Namun, ia perlu diterapkan dengan kehati-hatian dan perhitungan matang. Tanah ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan bagi generasi
setelah kita.

Allah berfirman:
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.
(QS. Al-A‘raf: 56)

Masih banyak pelajaran dari laku bertani masa lalu yang layak kita rawat. Dengan menoleh ke belakang, kita bisa menata langkah ke depan—mengharmonikan kearifan lama dengan teknologi baru, tanpa menerapkannya secara serampangan dan tanpa memikirkan risiko jangka panjang. Sebagaimana kaidah bijak yang sering dikutip:

Al-muhāfaẓatu ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ, wal akhdzu bil jadīd al-aṣlaḥ
Menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Di persimpangan antara tradisi dan industri, pertanian membutuhkan bukan hanya teknologi, tetapi juga kebijaksanaan. Wallahu a’lam.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

2 Comments

  1. Sepakat, bahwa kondisi pertanian yang terlalu bergantung pada cara-cara instan salah satunya cara penggunaan pupuk kimia secara terus menerus, bahkan mungkin tidak lagi terukur adalah tanda adanya pergeseran orientasi dari harmoni alam menuju sekadar target produksi jangka pendek. Cara ini mungkin dapat meningkatkan hasil secara cepat, tetapi sering mengorbankan kesuburan tanah, keseimbangan ekosistem, serta kemandirian petani dalam jangka panjang.
    Sebaliknya, kearifan petani terdahulu mengajarkan bahwa alam bukan objek yang dieksploitasi, melainkan mitra yang harus dihormati. Pola tanam beragam, pemanfaatan pupuk organik, pengelolaan air yang bijak, dan kesabaran dalam proses adalah bentuk pengetahuan ekologis yang terbukti menjaga tanah tetap hidup dan produktif lintas generasi.
    Tantangan hari ini bukan memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan mengintegrasikan ilmu pertanian modern dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pertanian berkelanjutan justru menuntut ketepatan, keseimbangan, dan etika terhadap alam. Jika cara instan terus dipaksakan tanpa kontrol, kita bukan hanya merusak tanah, tetapi juga mewariskan krisis bagi generasi petani berikutnya.

    1. Sepakat, almuhafadhatu ala qadimisshalih wal ahdu bil jadidil aslah, memelihara nilai nilai lama yg baik, mengambil hal baru yg lebih baik.
      Kita memang harus selaras alam, dalam kelola alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button