Lintasan Pemikiran

Tebuireng dan Bahaya Polarisasi: Pesan Historis untuk NU Hari Ini

Hari-hari ini, di tengah dinamika yang terjadi di PBNU, tidak sedikit narasi-narasi negatif berupa video maupun tulisan-tulisan yang “berseliweran”. Bisa jadi, beberapa di antaranya adalah hoaks semata, yang bertujuan membela salah satu pihak yang dianggap paling benar, atau mungkin dari “haters” NU yang tidak paham bahwa:

“Setiap sesuatu yang tumbuh dan berkembang memang butuh situasi dan melewati kondisi yang tidak nyaman, sebuah proses alami dan lumrah. Selalu berada dalam zona nyaman bisa menjebak kita lupa pada proses pertumbuhan dan perkembangan.”

Namun, ada seorang ghost writer dengan narasi panjang bernada satir yang sangat provokatif dan bersifat character assassination, mencoba membenturkan tokoh-tokoh pesantren (kyai) dengan tokoh-tokoh kampus (scientis/ahli pengetahuan umum). Sesuatu yang sangat membahayakan bagi NU, yang merupakan rumah besar umat. Karena masalah keummatan yang semakin kompleks membutuhkan pendekatan lintas sektoral dan lintas keahlian.

Sejarah Tebuireng, sebagai pesantren pendiri NU, dapat kita jadikan rujukan. Model ini kelak juga diadopsi oleh pesantren-pesantren NU lainnya, seperti Darul Ulum Petorongan Jombang, Amantul Ummah Pacet, Annur Malang, mungkin yang terbaru Bumi Shalawat Sidoarjo, dan sejenisnya.

Sejak awal berdirinya, sosok futuristik Hadratussyaikh Hasyim As’ari menekankan bekal tambahan bagi santrinya untuk bisa menjawab tantangan di kehidupan yang lebih nyata dan kompleks di masyarakat, seperti problema sosial, ekonomi, dan lain-lain. Beliau tiap Selasa sengaja mengliburkan pengajaran diniyah di Tebuireng, lalu mengajak santrinya terjun ke lahan beliau untuk mengerjakan sawah, bahkan menggarap tanah orang lain. Mengajarkan cara bertani yang baik, mengatur tata cara pengairan atau irigasi, dan sebagainya. Sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi yang aplikatif pada eranya (menurut KH. Abdul Hakim Mahfudz).

Beliau juga mendirikan Tebuireng di dekat pasar, sebagai pusat ekonomi masyarakat. Secara tidak langsung, beliau ingin santrinya bersentuhan sekaligus belajar dengan kegiatan produktif, seperti perdagangan. Langkah Hadratussyaikh ini diterjemahkan oleh putra beliau, ayahanda Gus Dur, dengan mendirikan Madrasah Nizhamiyah—menjadi terobosan pendidikan di kalangan NU, khususnya di ranah pesantren. Untuk pertama kalinya kala itu, ada pondok yang mengembangkan pendidikan umum sampai 70 persen (Tebuireng Online, 6 Agustus 2024).

diskon

Tahun 1975, putra Hadratussyaikh yang lain, adik dari KH. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur), yaitu KH. Yusuf Hasyim (ayahanda Menteri Urusan Haji saat ini, Gus Irfan), dikenal punya langkah-langkah progresif sebagaimana pendahulunya. Beliau menajamkan visi progresif pesantren dengan mendirikan SMA A. Wahid Hasyim dan SMP A. Wahid Hasyim.

Tahun 2014, di era kepemimpinan KH. Salahuddin Wahid (putra KH. Wahid Hasyim, adik Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid), mempertajam dan menggelorakan visi pendahulunya dengan mendirikan SMA Tren Science, disusul kemudian dengan SMP Tren Science.

Dari fakta perjalanan Tebuireng ini, kita bisa pahami bahwa dari awal berdirinya, Tebuireng senantiasa peka dengan perkembangan zaman dan tantangannya. Tebuireng ingin menjawab kebutuhan masyarakat dan, lebih khusus lagi, membekali NU dengan SDM yang mampu menjawab tantangan di masyarakat, khususnya warga NU.

“Al-muhafadu ‘ala qadimisshalih wal ahdu bil jadidil aslah”—memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Tebuireng tidak bergeser, tapi tumbuh dan berkembang.

Dari sejarah itu, Tebuireng menghasilkan alumni yang bisa dikategorikan menjadi dua:

  1. Alumni santri dominan “kuning”: Tebuireng menghasilkan alumni dengan kemampuan pemahaman keagamaan yang mumpuni, sosok kyai. Ibarat sumur, sumur Tebuireng senantiasa melimpah airnya; ilmu di Tebuireng tidak pernah kering. Tinggal kita mau menimba atau tidak.
  2. Alumni santri dominan “putih“: Tebuireng mendidik santri muda yang disiapkan untuk menjadi akademisi, ilmuwan, sekaligus profesional yang berjiwa santri, dengan citra diri sebagaimana Hadratussyaikh gariskan: inovatif, produktif, pemberani, pembelajar, rendah hati. Kelompok ini lebih ditekankan untuk menjawab tantangan masyarakat yang lebih kompleks, kebutuhan akan pelayanan kesehatan, ekonomi, dan lain-lain.

Santri-santri ini diharapkan bisa menembus universitas umum, menjadi profesional, ilmuwan, dan pelaku ekonomi yang berjiwa santri: ikhlas, mandiri, tangguh, jujur, dan mengedepankan akhlak dalam setiap perilakunya.

Saring sebelum sharing.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button