Abah Yat dan Warisan Jihad Yang Terus Menyala

Pengajian Ahadan (JIHAD) NU di Mojokerto Raya
Pengajian Ahadan (JIHAD) merupakan salah satu helatan yang sangat fenomenal di Mojokerto Raya. Kegiatan ini adalah gabungan dari dua PCNU, yaitu PCNU Kota Mojokerto dan PCNU Kabupaten Mojokerto. JIHAD rutin dilaksanakan setiap minggu, kecuali pada bulan Ramadan.
Acara ini berpindah-pindah tempat tanpa pernah berhenti, bahkan saat berbarengan dengan Idul Adha sekalipun. Di masa pandemi Covid-19, JIHAD tetap dilaksanakan meski hanya diikuti oleh panitia inti dari PC LDNU, sekitar 20 orang. Saat itu, kegiatan dilangsungkan dengan cara “kucing-kucingan”-istilah khas Mojokerto yang berarti dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari satgas Covid-namun tetap berusaha konsisten.
Untuk menjaga kesinambungan kegiatan ini, HM. Fatkhur, sekretaris PC LDNU, menjadi salah satu sosok penting. Ia berkacamata, berperawakan kecil, tampak cerdas, dan tidak mengenal lelah.
JIHAD NU sudah dimulai 51 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1974, dengan inisiator utama almaghfurlah KH. Ahyat Halimi. Beliau adalah ulama besar Mojokerto yang sangat dikenal karena kealimannya, kewibawaannya, serta visi besarnya. Beliau juga menginisiasi pendirian Rumah Sakit NU Sakinah Mojokerto dan mendirikan Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Mojokerto. Sosok yang akrab disapa Abah Yat ini dikenang sebagai ulama yang sangat egaliter dan merakyat.
JIHAD di Pacet, 28 September 2025
Pada tanggal 28 September 2025, untuk kedua kalinya acara JIHAD dilaksanakan di wilayah MWC NU Pacet. Ketua Tanfidziyah MWC NU Pacet, Ustaz Agus Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar merata di seluruh 23 MWC Mojokerto Raya. Satu kali dalam setahun, acara JIHAD diselenggarakan di Pondok Sabilul Muttaqin Mojokerto, peninggalan KH. Ahyat Halimi, yang berlokasi di Jalan Brawijaya, Kota Mojokerto.
Malam sebelum acara, Fatayat NU (baik anggota maupun alumni), Muslimat, GP Ansor, serta Banser bekerja keras mempersiapkan perhelatan ini. Mereka berjibaku menyiapkan konsumsi, cendera mata, dan berbagai keperluan hingga menjelang pagi. Ada hal menarik dalam acara kali ini: oleh-oleh untuk tamu undangan utama tidak lagi berupa nasi kotak atau kue, melainkan paket sayuran segar hasil pertanian lokal Pacet. Paket tersebut dikemas cantik dalam tas daur ulang plastik, menambah kesan unik dan ramah lingkungan.
Kegiatan diawali dengan khatmil Qur’an setelah salat Subuh. Pada pukul 08.30 dimulailah acara pembukaan Pengajian Ahadan. Paduan suara Fatayat NU Ancab Pacet tampil apik membawakan lagu Indonesia Raya hingga syair Shalawat Nahdliyah yang mendayu-dayu. Grup ini pernah menjuarai festival paduan suara di Mojokerto, sehingga penampilan mereka berhasil mengundang para jamaah segera memasuki Aula Graha NU Pacet lantai 3.
Lantunan shalawat Mahallul Qiyam yang diiringi suara tamborin dari grup Ishari MWC Pacet menambah semarak suasana. Jamaah bersemangat menaiki tangga menuju lantai 3 untuk mengikuti acara.
Selanjutnya, istighasah dan tahlil dipimpin oleh Rais Syuriah MWC NU Pacet, KH. Abdul Jamil. Meski udara Pacet terasa panas dengan angin kencang khas akhir musim kemarau, suasana tetap syahdu. Jamaah, yang mayoritas dari kalangan Muslimat, khusyuk duduk dengan membawa sayuran hasil belanja dari bazar Fatayat. Bazar tersebut menjual aneka sayuran segar dengan kemasan menarik dan harga yang sangat terjangkau.
Ketua LDNU Pacet, Ustaz Nur Chozin-yang juga dikenal sebagai juragan ayam di Pasar Pacet-mencatat kehadiran sekitar 1.400 jamaah. Perkiraan ini diambil dari jumlah nasi kotak yang tersebar dan terdistribusi.
Menurut catatan sekretaris PC LDNU, sebelum pandemi Covid-19, jumlah jamaah jauh lebih banyak. Gelombang pandemi memang berdampak pada kegiatan JIHAD karena mayoritas jamaahnya adalah kalangan senior. Oleh sebab itu, kajian JIHAD lebih banyak mengangkat tema tasawuf, khususnya tentang akhlak hati dalam berhubungan dengan Allah SWT.
Rangkaian Kajian
Kajian Ahadan kali ini diawali dengan pengajian kitab Riyadhus Shalihin oleh KH. Mubayyin Syafii, Mustasyar MWC NU Pacet sekaligus PCNU Mojokerto. Setelah itu dilanjutkan oleh KH. M. Rofiq, KH. Abd. Mubin, dan KH. Jamzuri Syarif. Sebagai penutup, KH. Masrihan As’ary, ulama sepuh yang dikenal dengan gaya santai dan penuh canda, memberikan tausiyah. Beliau cukup populer di Jawa Timur karena keakrabannya dengan jamaah.
Tepat pukul 12.00 acara ditutup dengan salat berjamaah di Aula Graha NU Pacet.
Intisari Kajian
Salah satu isi kajian yang terekam adalah paparan KH. Mubayyin Syafii, yang mengutip hadis:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- يقول : «الدُّنيا مَلعْونَةٌ ، مَلْعُون ما فيها ، إِلا ذكرُ الله ، وما والاهُ ، وعَالِمٌ ، ومُتَعَلِّمٌ». أخرجه الترمذي.
“Dunia dan segala isinya terlaknat, kecuali yang senantiasa berdzikir kepada Allah, segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang alim, dan orang yang menuntut ilmu.”
Beliau menjelaskan bahwa dunia ini dilaknat kecuali jika diisi dengan dzikir. Pengajian ini merupakan salah satu bentuk dzikir yang dapat menenangkan hati, membuat pikiran tentram, serta meningkatkan kreativitas dan konsentrasi sehingga karya-karya berkualitas dapat dihasilkan.
Dalam pandangan kami, ketenangan hati berdampak langsung pada produktivitas dan kreativitas:
- Peningkatan konsentrasi: Hati yang tenang tidak mudah diganggu kecemasan atau pikiran negatif, sehingga kita lebih fokus.
- Munculnya ide-ide baru: Pikiran yang jernih adalah lahan subur bagi kreativitas.
- Motivasi dan semangat: Dzikir mengingatkan kita bahwa setiap usaha adalah bagian dari ibadah, sehingga menambah semangat hidup.
Dzikir bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan fondasi spiritual yang menopang kehidupan duniawi. Dengan fondasi ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna serta menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.



