Kemandirian Ekonomi dan Perlunya Membranding NU

Kemandirian akhir-akhir ini menjadi salah satu topik penting di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sebenarnya, kemandirian bukanlah hal baru-sejak berdirinya, NU telah menekankan kemandirian sebagai karakter dasar. Sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama tahun 1926, embrio gerakan ekonomi sebenarnya sudah digagas para kiai pesantren melalui Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang). Organisasi ini didirikan pada 1918 oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama KH. Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Syansuri. Tujuannya adalah membangun kemandirian ekonomi umat Islam, khususnya warga pesantren dan masyarakat pribumi, agar tidak terpinggirkan oleh dominasi pedagang asing maupun Kolonial.
Namun, yang membedakan konteks saat ini adalah penekanan kuat pada gerakan ekonomi. Menurut hemat kami, sebagai ikhtiar untuk itu adalah dengan Koin NU sebagai pijakan awal, serta berbagai langkah pun bisa ditempuh, seperti pendirian BMT, minimarket, penyertaan modal usaha, dan lain sebagainya. Dengan basis sebagai organisasi terbesar di Indonesia-bahkan, kata seorang cendekiawan Yogyakarta, mungkin juga di dunia hingga akhirat-wajar bila muncul harapan besar agar upaya-upaya ini berbuah sukses.
Dari Kemandirian Menuju Branding Ekonomi
Fokus pada pendirian usaha memang terdengar sederhana. Cukup dirintis koperasi, lalu berkembang menjadi BMT atau minimarket. Tetapi, persoalan mendasar segera muncul: dari mana modalnya?
Jawaban awalnya adalah Koin NU, yang kini telah masif di kalangan warga. Selain itu, NU juga memiliki banyak anggota maupun pengurus berpengalaman dalam dunia usaha.
Namun, di sinilah tantangannya: Apakah NU secara kelembagaan sudah memiliki brand bisnis? Apakah masyarakat mengasosiasikan NU bukan hanya dengan gerakan sosial-keagamaan, tetapi juga dengan kesuksesan ekonomi?
Pentingnya Citra dan Penguatan Merek
Sebagai ilustrasi, dalam personal branding di kampung-kampung, sering kali nama seseorang disertai profesinya: misalnya “Pak Ahmad Ayam” bagi peternak ayam sukses. Begitu pula dengan brand besar. Dulu, mendengar nama “Wings” orang langsung teringat sabun. Kini, merek tersebut mengalami pengayaan hingga identik juga dengan produk mi instan, dan lainnya. Hal serupa seharusnya juga dimiliki NU. Citra yang melekat di masyarakat bukan hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai pionir gerakan ekonomi.
Belajar dari Dua Pengalaman
Ada dua pengalaman yang bisa menjadi pelajaran:
Ngasem, Bojonegoro
MWC ini dikenal sebagai pionir gerakan ekonomi di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Dari kunjungan ke sana, kesimpulan yang kami dapat: koinisasi harus dikelola dengan baik terlebih dahulu. Jika Koin NU berhasil, maka mendirikan BMT akan lebih mudah. Pesan yang tersirat: mengelola amanah uang tidaklah mudah, sehingga butuh sistem yang kuat.
Sidogiri
Sidogiri terkenal dengan kesuksesan BMT dan jaringan minimarketnya. Namun, sebelum mencapai titik itu, mereka merintis lebih dulu usaha suplai sembako yang digagas langsung oleh pengasuh pesantren. Artinya, keberhasilan datang setelah jam terbang kelembagaan yang panjang dan berproses.
Langkah Kecil untuk Branding NU
Branding tidak harus dimulai dengan langkah besar. Contoh konkret: MWC Pacet memiliki gedung cukup besar yang potensial disewakan. Jika dikelola profesional-dengan resepsi ramah, layanan setiap hari, harga transparan-maka akan menjadi batu loncatan. Reputasi baik akan berkembang, baik di masyarakat maupun dunia maya. Bahkan, netizen bisa memberi rating positif di Google untuk Graha NU.
Kesadaran ini sebenarnya sudah muncul di kalangan muda NU Pacet. Forum-forum seperti Reboan yang diinisiasi LAZISNU menghasilkan gagasan: membangun ruang resepsionis representatif, kantor koin yang terintegrasi online-offline, hingga ruang kongkow yang nyaman. Sayangnya, semua rencana itu gagal terlaksana karena adanya veto, meski persiapan sudah matang.
Tantangan Internal
Kenyataan ini menggambarkan bahwa tantangan terbesar NU justru datang dari internal, bukan eksternal. Untuk menumbuhkan brand ekonomi yang kuat, dibutuhkan: penyadaran, kesabaran, kerendahan hati, kemauan belajar, serta istiqamah dalam berproses. Semua butuh waktu dan tahapan. Selamat mengabdi dan berjuang demi kejayaan NU.
“Dan Kami jadikan siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba: 11)
Wallahu a’lam bisshawab.




Sangat Inspiratif
😊