Catatan-catatan

Putin, Trump, dan Pertemuan Alaska: Kemana Arahnya?

Ada yang menarik di bulan Agustus 2025, bukan hanya peringatan kemerdekaan yang baru saja kita peringati dengan gegap gempita, namun sebuah panggung digelar di ujung dunia: Pertemuan Alaska. Sebuah pertemuan antara dua presiden yang telah banyak menyita perhatian dunia, Vladimir Putin vis-a-vis Donald Trump. Pertemuan dua presiden ini berlangsung pada 15 Agustus 2025, di Joint Base Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska. Ini pertemuan tatap muka pertama Trump dan Putin terhitung sejak 2019. Fokus utama: Ukraina. Hasilnya? Tidak ada gencatan senjata, tidak ada kesepakatan formal. Trump menyebut “great progress,” tapi juga menegaskan “there’s no deal until there’s a deal.” Pun Vladimir Putin tersenyum, pulang dengan citra seolah Rusia sudah keluar dari isolasi.

Bila berkaca kepada sejarah dunia, terutama sejarah politik, pertemuan semacam ini bukan kali pertama. Memang, sejarah politik acapkali bergerak bukan hanya karena perang, tapi juga karena pertemuan dua tokoh besar. Misalkan, pertemuan Roosevelt dengan Stalin  di Yalta pada 1945, Richard Nixon dengan Mao di Beijing pada 1972 atau pertemuan Ronald Reagan dengan Gorbachev di Reykjavik pada 1986. Dunia pun berubah. Pertemuan semacam ini tidak selalu menghasilkan perdamaian, tapi membuka jalan baru dalam percaturan global. Kini, di abad 21, dunia menyaksikan hal serupa di Alaska. Donald Trump, presiden dengan gaya populis bertemu Vladimir Putin, sosok yang telah dua dekade lebih memegang kekuasaan Rusia. Pertanyaan besar segera mencuat, “apakah Alaska akan tercatat sebagai momen bersejarah? Apakah pertemuan tersebut akan mengakhiri peperangan? Ataukah sekadar panggung simbolis semata? tanpa ada makna strategis?”

Mari kita sedikit berbicara tentang fakta. Konflik Ukraina yang dimulai sejak Februari 2022 telah menewaskan lebih dari 500.000 orang, baik militer maupun sipil. Dan, lebih dari 6,5 juta pengungsi Ukraina telah meninggalkan negaranya. Mereka tersebar ke Eropa Timur hingga ke Polandia dan Jerman. Dari perspektif ekonomi, Bank Dunia telah mencatat, bahwa konflik Ukraina telah memicu lonjakan harga pangan dan energi, setidaknya menambah 70 juta orang di dunia jatuh miskin sejak tahun 2022. Bantuan Barat untuk Ukraina tidak tanggung-tanggung, sejak meletus konfilk, telah menembus 175 miliar dollar.

Kembali ke pertanyaan semula. Maka jawabannya sementara: tidak. Pertemuan Alaska tidak, atau belum mengubah jalannya sejarah. Pada dasarnya, pertemuan tersebut lebih berguna bagi politik domestik kedua pemimpin negara adidaya. Pertemuan Alaska hanya akan berhenti pada simbol dan gagal menjawab seruan etis tersebut. Kenapa demikian?

Peluang kerjasama antara dua negara adidaya tersebut sebenarnya ada dan sangat memungkinkan.Tetapi, Presiden Trump lebih suka jalur personal ketimbang multilateral. NATO, Uni Eropa, atau bahkan PBB nyaris tidak dilibatkan dalam percakapan tersebut. Trump ingin tampil dalam dan sebagai penentu. Sebagai makelar perdamaian yang mampu mengendalikan lawan-lawan AS. Di Amerika, Presiden Trump menggunakannya untuk memperkuat citra sebagai negisiator ulung. Sebuah survey cepat Gallup (Agustus 2025) menunjukkan bahwa 48% warga AS percaya Trump “lebih baik dari presiden sebelumnya dalam menjalin hubungan dengan Rusia.” Angka ini cukup untuk memperkuat basis politiknya di tengah polarisasi domestik. Tidak ada gencatan senjata, tidak ada perjanjian damai. Hanya sinyal, hanya kalimat yang tidak pernah selesai. “There’s no deal until there’s a deal,” kata Trump.  

Sementara Presiden Vladimir Putin masuk ke limusin presiden AS, The Beast, adalah pesan bahwa Rusia masih sederajat. Di media Rusia, gambar itu diputar berulang kali, menjadi bukti bagi rakyat bahwa Rusia tidak terisolasi. Di mata rakyatnya, Presiden Putin menang. Ia tidak terkucilkan. Ia sejajar dengan Amerika. Di buktikan dengan polling Levada Center (Agustus 2025) yang memperlihatkan 72% responden merasa “bangga” karena Putin disambut karpet merah di Alaska.

diskon

Alhasil, pertemuan tersebut seakan membuktikan kebenaran adagium Murray Edelman, “bahwa politik adalah pertunjukan (performance). Dan pertunjukan itu lebih berpengaruh daripada kebijakan (policy).” Politik tak pernah setara dengan penderitaan umat manusia di Ukraina, juga di Gaza, dan dibelahan bumi lain. Jika benar-benar ingin mengakhiri perang harus ada gencatan senjata yang diverifikasi. Harus ada jaminan keamanan yang kredibel bagi Ukraina. Harus ada jaminan politik yang disetujui bukan hanya oleh Washington dan Moskow, tetapi juga oleh Kyiv. Tanpa itu, pertemuan Alaska hanyalah panggung kosong.

Mungkin, pertemuan Alaska membuka pintu, meski hanya sedikit. Yang mana, tak sebegitu signifikan. Tidak ada gencatan senjata. Tidak ada perjanjian. Yang ada hanya rencana pertemuan lanjutan antara Trump dan Putin. Tapi, sejarah sering bergerak dari simbol kecil yang kemudian menjadi sebuah permulaan. Dan pada dasarnya, sejarah belum selesai menuliskan naskahnya. Seperti halnya Nixon dan Mao dahulu, hanya foto berjabat tangan saja, tapi kemudian membuka hubungan ekonomi yang mengubah geopolitik abad ke-20. Dan semoga saja, Alaska bisa jadi langkah pertama, dimana suatu hari mengarah ke perdamaian, meskipun hari ini terlihat sangat rapuh. Wallahu A’alam.

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button