Sudut SejarahLintasan Pemikiran

Meremajakan Kembali Makna Proklamasi

Disetiap tahun, kita tak pernah absen memperingati hari 17 Agustus, bahkan di tengah pandemi, bencana, atau badai krisis sekalipun. Merah-putih berkibar di mana-mana, di depan rumah-rumah, di jalan, dan di setiap kantor pemerintah. Di desa hingga di kota, riuh dengan berbagai acara seremonial—mulai upacara bendera, lomba tarik tambang, karnaval, sound horeg, hingga pengajian akbar. Skala kecil hingga besar sekalipun. Bangsa Indonesia sangat hafal acara, alur, dan rutinitas tersebut. Semacam memori implisit yang mengendap di alam bawah sadar.

Tapi, pernahkah kita merenung sejenak—kemudian memaknai ulang dan menarik esensi dari peringatan 17 Agustus? Jika belum, mari kita coba renungkan bersama-sama kisanak!

Proklamasi, Keberanian di tengah Keterbatasan

Sedikit flashback kebelakang, Indonesia pada Agustus 1945, bukanlah negara yang siap secara administratif, apalagi ekonomis. Tidak. Pabrik-pabrik strategis masih dikuasai Jepang dan Belanda. Cadangan devisa nol. Lembaga pemerintah masih akan dan baru dibentuk. Sebagian besar rakyatnya masih terjerat dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Dan berbagai problematika lainnya yang acapkali menimpa negara “baru jadi” atau “setengah jadi.”

Namun, anehnya, justru di tengah segala ketidakpastian itu, kemerdekaan berani dikumandangkan. Dwitunggal, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan di sebuah rumah yang sederhana, di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Mikrofon seadanya. Naskah proklamasi diketik Sayuti Melik dengan tergesa-gesa, dengan mesin tik pinjaman pula. Bendera merah putih dijahit Ibu Fatmawati kemarin malam dari kain seadanya. Pun tentara Jepang masih berseliweran di sana-sini dengan sepucuk senjata api ditangan. Tak ada jaminan. Tak ada kepastian. Yang ada hanyalah tekad, dan sedikit keberanian yang mungkin, dalam keadaan seperti itu, tak bisa dibedakan dengan nekat. Karena, bagi para founding fathers kita, menunggu siap hanyalah alasan untuk tidak memulai. Meminjam istilah filsuf stoik, Marcus Aurelius, ada semacam “momentum” yang tepat. Mereka paham, kesempatan itu jarang datang untuk kedua kalinya. Dan penundaan bisa berarti kehilangan segalanya.

Bung Karno dan Makna Kemerdekaan

Sebelum Agustus 1945, tepatnya dalam sidang BPUPKI (29 Mei – 1 Juni 1945), terjadi perdebatan panjang diantara pemimpin Indonesia di Gedung Chuo Sangi In. Perdebatan yang tak kunjung usai. Golongan Islam menghendaki Islam sebagai dasar negara. Sebaliknya, ada yang menghendaki nasionalisme, juga sosialisme. Ada pula yang menginginkan Indonesia merdeka setelah semuanya jelas: infrastruktur maupun stabilitas politik.

Maka, tampil penyambung lidah rakyat Indonesia—Bung Karno—menyelesaikan perdebatan itu pada 1 Juni 1945 dengan pidatonya yang terkenal “Lahirnya Pancasila.” Dengan garang Bung Karno berkata, “Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia merdeka, tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, sampai di lobang kubur!” Lantas Bung Karno memberi ilustrasi, tentang bagaimana Ibnu Saud membangun Arab Saudi dengan segala keterbatasan sumberdaya Suku Badui. Begitu juga ketika Lenin mendirikan Uni Soviet bersama 80% rakyat Musyik-nya yang buta huruf.

diskon

Sekali lagi Bung Karno menegasikan pendiriannya, “Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka.” Sebuah kalimat yang—bila diresapi—bukan hanya pesan politik, tapi juga pesan hidup.

Pesan Bung Karno ini berlaku di banyak aspek kehidupan. Baik dalam membangun negara, membina rumah tangga, hingga meniti karier sekalipun. Karena, akan banyak kita jumpai, mayoritas orang menunggu “nanti” untuk memulai sesuatu. Nanti setelah modal terkumpul. Nanti setelah ilmu lengkap. Nanti setelah keadaan mendukung. Nanti setelah mapan. Dan sejuta nanti-nanti lainnya. Pada gilirannya, “nanti” bertransformasi menjadi “tidak pernah.”

Dalam pidatonya tersebut, Bung Karno hendak mengajarkan kepada bangsa Indonesia untuk berani memulai dengan apa adanya. Karena memulai bukanlah masalah siap atau tidak, melainkan mau atau tidak. Bangsa ini lahir dari orang-orang yang tidak menunggu. Mereka bergerak dalam keterbatasan—berjuang dalam ketidakpastian.

Dus, jika founding fathers Indonesia memilih menunggu: menunggu kekuatan militer yang kuat, menunggu pengakuan dunia internasional, atau menunggu stabilitas politik. Alih-alih Merdeka, mungkin—hari ini—Indonesia, masih berstatus sebagai bangsa jajahan.

Dari seremoni menuju aksi

Alhasil, kita perlu mengubah paradigma tentang peringatan 17 Agustus. Alih-alih hanya soal ingatan kolektif semata, yang disimpan dalam bentuk kegiatan seremoni. Lebih dari itu, proklamasi merupakan titik tolak aksi. Artinya, 17 Agustus adalah awal dari sebuah proses, bukan akhir. Proses yang tak mengenal kata selesai.

Bahwa proklamasi sejatinya adalah start dari sebuah perjalanan panjang. Layaknya sebuah perjalanan, tidak pernah bebas dari berbagai hambatan. Pada titik ini, proklamasi semacam burning platform, kondisi mendesak yang memaksa seseorang untuk berubah. Memaksa berani memulai perubahan, lantas berteriak lantang; “Merdeka!” di tengah ketidaksempurnaan yang ada. Jenis entitas yang seharusnya kita warisi, bukan sekadar dirayakan.

Don’t let the fear of imperfection stop you from trying

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

3 Comments

    1. Alhamdulillah telat perdana..
      Diksi bagus, bahasa ringan tapi lumayan berbobot..
      Semoga kedepannya lebih baik.. ditunggu artikel berikutnya 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button