Dan Tuhan Tersenyum Melihat Ndan Bahrul #3

Antara Bahrul, Bahlul, dan Bahlil
Ada satu hal yang gak pernah berubah dari Ndan Bahrul, tatapannya itu loh, masih suka melotot, kata orang-orang.
Bukan karena marah, emang dari sononya sudah begitu. Jadi kalau beliau lagi diam aja, orang lain suka salah paham duluan. Kayak default setting. Kalau manusia lain punya ‘mode santai’, Ndan Bahrul itu ‘mode siaga terus’. Tapi hari itu… level melototnya berbeda. Ini bukan melotot biasa. Ini melotot yang bikin orang mikir dua kali sebelum ngomong sama dia. Bahkan sebelum napas sekalipun.
Usai acara Halal bi Halal, sekumpulan pengurus teras Ansor lagi nongkrong di Kopi Lorong, tepat disebelah selatan Alun-Alun. Selain Ndan Bahrul sebagai aktor utama, ada Gus Rizal—ketua PC GP Ansor —yang gayanya selalu kayak lagi rapat resmi walau lagi pegang gorengan. Adan pula Icuk, yang kalau ngomong gak pernah pakai rem. Sama Ndan Gipok, Satkorcab Banser, yang ngomongnya selalu kayak lagi orasi di depan ribuan massa… padahal kadang cuma ngomong ngalor ngidul gak jelas arah dan tujuannya.
Tiba-tiba Ndan Bahrul buka suara, “Negara ini lucu ya…”
Suasana langsung sunyi. Icuk yang biasanya paling berisik aja langsung diam. Itu tanda bahaya.
Gus Rizal pelan-pelan nanya, “Lucu gimana, Ndan?”
Ndan Bahrul nyeruput kopi. Lama. Dramatis. Kayak sinetron lokal yang harus menunggu iklan terlebih dahulu.
“Orang pinter kayak saya kadang-kadang diplesetkan dengan sebutan Bahlul. Mereka meledek kayak pura-pura cadel begitu. Orang bercanda dibilang gak serius. Orang serius… dibilang Bahlil,” Ujar Ndan Bahrul.
Ndan Gipok langsung nyeletuk, suaranya ngebass, “INI KRITIK SOSIAL ATAU CURHAT, NDAN?!”
Icuk dan Gus Rizal dibuat kaget dengan celetukan Ndan Gipok. Bahkan cicak di tembok sekalipun hampir saja jatuh jika tidak terkena sabetan angin yang bertiup kencang dari timur.
“Dua-duanya,” jawab Ndan Bahrul nyantai. “Ya kadang penilaian orang itu beda-beda. Gak selalu sesuai kenyataan.”
Tiba-tiba Icuk angkat tangan, walaupun gak ada yang nyuruh, “Loh, Ndan… Bahlul itu kan sebutan untuk orang bego itu kan? Setengah beras setengah ketan, setengah waras setengah edan?”
Ndan Bahrul nengok. Melotot. Sementara Icuk langsung mentalnya menciut, segera memperbaiki posisi duduknya. Refleks.
“Kata orang-orang sih begitu,” jawab Ndan Bahrul, “padahal Bahlul adalah orang bijak pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid. Nama aslinya Wahab bin Amr. Dipanggilnya Bahlul. Aneh memang. Kadang orang yang keliatan ‘aneh’ itu justru sebetulnya yang paling ngerti segala persoalan, dan paling bijak.”
Gus Rizal langsung manggut-manggut. Gaya setuju seorang profesional. Padahal mungkin dia juga lagi nyari-nyari pahamnya di mana.
“Terus kalau Bahlil, Ndan?,” tanya Rizal hati-hati.
Ndan Bahrul senyum tipis, “Kalau itu… sudah beda dunia. Itu wilayah kebijakan publik.”
Ha ha ha ha ha ha ha ha
Icuk ketawa paling keras. “Wah ini bahaya, Ndan. Bisa-bisa kita dipanggil rapat!”
Ndan Gipok langsung berdiri setengah, “SIAP KALAU DIPANGGIL!”
Padahal, nyatanya gak ada yang manggil. Gus Rizal dari tadi mikir terkait obrolan Ndan Bahrul ini. Dalam benaknya, sebenarnya, ini diskusi santai… atau lagi kuliah filsafat dan politik dadakan? Akhirnya Gus Rizal memberanikan diri untuk bertanya, “Ndan, kalau sampeyan sendiri… lebih nyaman yang mana? Bahrul, Bahlul, atau Bahlil ?”
Semua langsung nengok ke Gus Rizal. Itu momen di mana mereka sadar… mungkin Gus Rizal salah nanya. Ndan Bahrul menatap. Melotot. Gus Rizal hampir minta maaf sebelum dia jawab.
Saya ini, katanya pelan, “kadang dibilang Bahlul… padahal nama saya Bahrul. Tapi kalau lagi kesel… ya bisa diplesetkan menjadi Bahlil juga.”
Ha ha ha ha ha ha ha.
Mereka ketawa. Tapi ketawa yang setengah mikir.
“Namun, Saya ya… jadi Bahrul aja. Kadang serius, kadang Santai”
Tiba-tiba Icuk nyeletuk lagi, “lah terus kita ini apa, Ndan?”
“Nah, ini sialan. Gak pernah kapok juga,” ujar Ndan Bahrul sembari melihat kami satu-persatu. Lama.
Gus Rizal langsung duduk lebih rapi. Ndan Gipok segera pasang posisi siap.
“Kalian ini…” kata Ndan Bahrul pelan, “hanya penonton.”
Sunyi.
“Penonton yang sering ketawa… tapi jarang mikir kenapa dia harus ketawa.”
Hening.
Icuk yang biasanya ceplas-ceplos… kali ini diam. Ndan Gipok juga gak teriak. Gus Rizal… masih manggut-manggut. Tapi kali ini kayaknya beneran paham sedikit.
Sebelum bubar, Gus Rizal sempat nanya, “Ndan, terakhir… saran buat kita apa?”
Ndan Bahrul langsung jawab, “Ngopi aja yang cukup.”
Icuk ketawa,
“Kalau kurang?”
“Ya ditambah dong,” kata Ndan Bahrul
Mereka semua ketawa. Sembari tertawa, secercah butir kesadaran perlahan mulai menyelimuti mereka, bahwa hidup ini bukan soal kita mau jadi apa dan siapa. Mau jadi Bahrul yang tegas, Bahlul yang bijak, atau Bahlil yang rame dibahas. Tetapi tentang peran dan tanggung jawab.



