Pacet Bersaksi: Seabad NU, Tradisi Dijaga, Zaman Dijawab

(Catatan Harlah dan Seabad Miladiyah Nahdlatul Ulama MWC NU Pacet)
Pendahuluan
Rangkaian kegiatan Harlah Nahdlatul Ulama sekaligus peringatan satu abad Miladiyah NU di Pacet terasa menjadi penghangat di tengah musim hujan yang seolah enggan berhenti. Di kawasan lereng Pacet yang dingin dan basah, denyut khidmah warga NU justru mengalir hangat, menjadi oase penyejuk di tengah dinamika dan panasnya perbincangan NU di tingkat nasional.
Warga NU Pacet telah cukup dewasa menyikapi berbagai dinamika tersebut. Beratnya persoalan di tingkat nasional tidak lantas melemahkan semangat, tetapi justru menjadi bahan bakar untuk terus menyalakan suluh khidmah sebagai santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebab, bagi warga NU, khidmah bukanlah sekadar aktivitas organisasi, melainkan laku hidup dan pengabdian.
Allah Swt. berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini seakan menjadi ruh dari seluruh rangkaian kegiatan seabad NU di Pacet: kebersamaan, gotong royong, dan kesungguhan menjaga nilai-nilai kebaikan.
Melalui serangkaian diskusi dan musyawarah, akhirnya dibentuk kepanitiaan dengan menduetkan kader muda NU, Sahabat Lutfi Hakim sebagai Ketua dan Sahabat Maslikhan sebagai Sekretaris. Perpaduan ini menjadi simbol estafet generasi: energi muda yang bergerak dalam bingkai adab, tradisi, dan kebijaksanaan jam’iyyah.
Rangkaian Kegiatan Seabad NU Pacet
Tahapan kegiatan dalam rangka Gelaran Seabad Miladiyah Nahdlatul Ulama MWC NU Pacet resmi berakhir pada Jumat siang, 23 Januari 2025, dengan penutupan berupa kerja bakti. Bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum, MWC NU Pacet melakukan normalisasi saluran tepi jalan di kawasan rawan longsor Desa Cepokolimo, tepatnya di wilayah Kambengan yang berbatasan langsung dengan Desa Pacet.
Meski hujan turun sejak pagi hingga petang, beberapa pengurus MWC NU, Banom—terutama GP Ansor dan IPNU—serta para petugas dari Dinas PU tetap beraktivitas tanpa surut. Turunnya air dari langit seakan menjadi energi tambahan, menegaskan bahwa khidmah tidak selalu menunggu cuaca bersahabat. Usai salat Jumat hingga sekitar pukul 16.00 WIB, jalan selebar kurang lebih delapan meter yang sebelumnya tampak kumuh dan rawan justru berubah menjadi lebih bersih, rapi, dan aman.
Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Kerja bakti ini menjadi wujud konkret hadits tersebut, bahwa NU hadir bukan hanya dalam doa dan ritual, tetapi juga dalam kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Secara umum, terdapat tiga agenda utama dalam rangkaian Harlah dan Seabad NU Pacet, yaitu:
- Ziarah muassis MWC NU dan tokoh-tokoh NU Pacet.
- Sarasehan organisasi dan kebangsaan.
- Kerja bakti sosial.
Ziarah dan Pesan “Jas Merah”
“Jas Merah”—jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan ini menemukan relevansinya dalam tradisi ziarah yang menjadi pembuka rangkaian kegiatan Harlah dan Seabad NU. Sejarah organisasi dan pergerakan bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi, identitas, dan penunjuk arah bagi generasi penerus.
Pada Jumat siang menjelang sore, 16 Januari 2025, kegiatan ziarah dilaksanakan dengan membagi rombongan menjadi dua tim: jalur barat dan jalur timur. Kedua rombongan akhirnya bertemu di kawasan Pandan, tepatnya di makam Rais Syuriah MWC NU era 1980–1990-an, almaghfurlah KH. Abdul Munif Shiddiq. Ziarah juga dilanjutkan ke makam almaghfurlah Kiai Syamsul Huda Amir, Ketua Tanfidziyah MWC NU pada masa yang sama, putra dari pengasuh Pondok Jowinong Jatisari—sebuah pesantren yang telah melahirkan banyak pendakwah di wilayah Mojokerto bagian selatan.
Ziarah ini bukan semata rutinitas, melainkan ikhtiar batin untuk menyambung sanad perjuangan. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa keberkahan ilmu dan amal terletak pada adab dan keterhubungan hati dengan para pendahulu yang saleh. Dalam konteks NU, ziarah adalah cara merawat ingatan kolektif dan meneguhkan niat agar perjuangan hari ini tetap lurus dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sarasehan: Membumikan Gagasan Abad Kedua
Agenda sarasehan dihadiri oleh perwakilan ranting NU beserta Banom. Acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, dilanjutkan pembakar semangat Ya Lal Wathan, kesyahduan Mars Nahdlatul Ulama, tilawah Al-Qur’an, dan istighasah khas Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sarasehan secara resmi dibuka oleh Wakil Rais Syuriah MWC NU Pacet, KH. Suyadi Tamsyir.
Tema yang diangkat terbilang cukup berat untuk ukuran MWC, yakni “Penguatan Kapasitas Organisasi dan Peran Nahdlatul Ulama Memasuki Abad ke-2.” Namun, melalui format sarasehan yang dialogis dan membumi, tema besar tersebut justru terasa dekat dengan realitas Pacet. Prinsip think globally, act locally—berpikir global dengan aksi lokal—menjadi benang merah diskusi.
Sarasehan dilaksanakan pada Rabu malam, 21 Januari 2025, bertepatan dengan malam rutinan aktivis NU Pacet yang selama hampir lima tahun terakhir istiqamah menggelar ngobar (ngopi bareng) dan istighasah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Malam itu terasa hangat, meski udara dingin dan hujan sejak pagi terus menemani.
Narasumber utama adalah Gus Muhammad Masrullah, Lc., MA., M.Phil., seorang kader intelektual NU dengan latar belakang pendidikan lintas negara: lulusan Ma’had Aly Denanyar Jombang, Universitas Imam Muhammad Ibn Saud Riyadh (Arab Saudi), University of Brunei Darussalam, Universitas Kebangsaan Malaysia, hingga McGill University Montreal, Kanada. Saat ini beliau aktif sebagai dosen serta Direktur Edu Consulting Indonesia.
Dalam paparannya, Gus Masrullah menekankan pentingnya membuka kesadaran penuh terhadap kemajuan global—terutama perkembangan teknologi dan perubahan cepat dalam gerak sosial masyarakat. NU, menurut beliau, harus mampu bersikap adaptif tanpa kehilangan jati diri. NU adalah organisasi yang menegaskan diri sebagai penjaga tradisi sekaligus pelopor inovasi.
Prinsip klasik NU kembali ditegaskan:
Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Inilah manhaj Aswaja Nahdliyah yang lentur, moderat, dan relevan sepanjang zaman.
Catatan Penting dan Refleksi
Beberapa poin penting yang mengemuka dalam sarasehan antara lain:
Pertama, penguatan kapasitas organisasi MWC NU, mulai dari konsistensi menjaga Aswaja dan amaliyah, penataan organisasi agar lebih rapi dan akuntabel, kaderisasi yang berkelanjutan, hingga upaya kemandirian organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kedua, peran nyata MWC NU di abad kedua Nahdlatul Ulama. NU harus benar-benar hadir, dirasakan, dan dibutuhkan oleh masyarakat di tingkat kecamatan dan desa—baik melalui pelayanan keagamaan, sosial, pendidikan, maupun advokasi kemasyarakatan.
KH. Hasyim Asy’ari pernah berpesan bahwa kekuatan NU terletak pada jamaah dan jam’iyyah. Jamaah yang terawat dengan nilai-nilai keikhlasan, serta jam’iyyah yang tertata dengan manajemen yang baik. Seabad NU di Pacet menjadi momentum untuk meneguhkan pesan tersebut.
Penutup
Pacet telah menjadi saksi bahwa NU bukan sekadar organisasi yang menua oleh usia, tetapi jam’iyyah yang matang oleh pengalaman. Di tengah hujan, dingin, dan dinamika zaman, warga NU Pacet terus berjalan—menjaga tradisi, menjawab tantangan zaman, dan merawat harapan untuk abad kedua Nahdlatul Ulama yang lebih bermakna, maslahat, dan berkeadaban. Wallahu a’lam.



