Ansor Terkini

Mbah Giman dan Arti Setia yang Tak Pernah Pensiun

Pagi itu, kabut tipis masih memeluk lereng Gunung Panderman. Udara Kota Batu terasa dingin dan segar, baru saja menggeliat dari sisa-sisa malam. Di halaman parkir Kantor PCNU Kota Batu, sebuah sepeda motor bebek tua telah terparkir rapi. Catnya mulai kusam, namun tetap terawat—seperti pemiliknya.

Di samping motor itu berdiri seorang pria berseragam loreng Banser. Warna seragamnya memang sedikit memudar dimakan usia, tetapi lipatan setrikaannya tetap tegas, seolah mampu memotong angin pagi. Baret hijau tua bertengger miring di kepalanya, menambah kesan wibawa yang sederhana.

Beliau adalah Mbah Giman

Usianya tak lagi muda. Fisiknya mungkin tak sekuat beton cor, tetapi semangatnya kerap membuat anggota Banser yang masih bau kencur tertunduk malu. Ketika panitia kegiatan baru saja memulai ritual menyeduh kopi pertama, Mbah Giman sudah berdiri tegap di lokasi, siap menjalankan tugas seperti biasa—tanpa keluhan, tanpa sorotan.

“Lho, Mbah Giman? Sampun rawuh?” tanya seorang Banser muda yang baru tiba dengan wajah setengah mengantuk.

Mbah Giman menoleh sambil tersenyum. Kerutan di sudut matanya membentuk pola yang hangat dan bersahabat.

diskon

“Lha iya. Wong Banser itu tugasnya mengamankan, bukan diamankan kasur. Kalau nunggu matahari tinggi baru berangkat, itu bukan Banser,” ujarnya berkelakar. Tawa renyah pun pecah di antara mereka.

Humor khas Nahdliyin memang tak pernah lepas dari tutur katanya. Bagi Mbah Giman, ber-NU adalah soal keseimbangan: serius dalam prinsip, santai dalam cara. Ia bisa bercanda kapan saja, tetapi jika menyangkut tugas dan amanah, tak ada ruang untuk main-main.

Ia tak pernah memilih posisi. Ditempatkan di pos mana pun, Mbah Giman selalu siap—mengatur lalu lintas di tengah hujan deras, berjaga hingga larut malam, atau sekadar berdiri di pintu masuk aula menyambut jamaah dengan senyum tulus. Semua dijalani dengan ikhlas, seolah itulah panggilan hidupnya.

Suatu ketika, seorang pengurus PCNU merasa tak tega melihat Mbah Giman berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. “Mbah, ngaso mawon rumiyin. Biar yang muda-muda saja yang jaga di depan.”

Mbah Giman terkekeh pelan sambil membetulkan posisi sabuknya.

“Gus, raga saya ini memang sudah edisi lama, tapi onderdil semangatnya masih versi terbaru. Selama nyawa masih dikandung badan, tenaga saya ini selalu siap kalau NU yang memanggil. Ibarat bensin, saya ini bensin subsidi—murah, sederhana, tapi selalu ada buat rakyat,” katanya sambil mengedipkan mata.


Keteladanan Mbah Giman bukan semata soal datang paling awal atau pulang paling akhir. Ia adalah contoh keikhlasan yang paripurna. Baginya, menjadi Banser bukan perkara gagah-gagahan berseragam loreng, melainkan niat ngalap barokah—menjadi khadam para ulama dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Ia sering berujar bahwa setiap tetes keringat saat menjaga gereja di malam Natal, mengawal pawai santri, atau mengamankan pengajian kiai adalah tabungan yang kelak akan dipetik di akhirat. Tidak ada yang sia-sia jika diniatkan untuk khidmah.

Ketika acara akhirnya dimulai dan jamaah memadati lokasi, Mbah Giman tetap berdiri di posnya. Tegap, waspada, namun tetap ramah menyapa siapa pun yang lewat. Tak ada raut lelah di wajahnya, hanya ketenangan orang yang yakin pada jalan pengabdiannya.

Di Kota Batu, nama Mbah Giman bukan sekadar tercatat sebagai anggota Banser. Ia adalah simbol dedikasi tanpa batas—bukti hidup bahwa pengabdian tidak mengenal usia, apalagi kata pensiun.

The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.
Cara terbaik menemukan jati diri adalah dengan mengabdikan diri untuk melayani orang lain. (Gandhi)



Ayufi Sholichodin

Pria berpembawaan kalem, teduh, dan tenang ini merupakan Sekretaris Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Batu. Setiap hari ia berprofesi sebagai pengajar di SDN Ngaglik 04 Kota Batu. Baginya, mengabdi di Nahdlatul Ulama merupakan lahan beribadah dan lahan perjuangan.

Related Articles

2 Comments

  1. Mbah Giman adalah sosok semangat berkhidmah yang luar biasa. Beliau memberikan contoh nyata menghadirkan keteguhan, keikhlasan, dan loyalitas yang patut ditiru oleh generasi Banser hari ini. Sosok Mbah Giman mengajarkan bahwa pengabdian tidak dibatasi usia, melainkan ditentukan oleh niat, konsistensi, dan kecintaan pada organisasi serta umat. Mugi tansah pinaringan sehat Mbah Giman….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button