Sudut Sejarah

Menjemput Cahaya di Ujung Selatan Batu : Biografi Kiai Ahmad Syadzili #1

Kiai Ahmad Syadzili lahir pada tahun 1889 di Tasikmalaya, Jawa Barat, di lereng Galunggung. Sebuah wilayah yang dikenal sebagai lumbung ulama di Tanah Pasundan seperti Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, KH. Zainal Musthofa, dan KH. Choer Affandi. Takdir Allah menetapkan Syadzili kecil sebagai yatim piatu; kedua orang tuanya wafat di Tanah Suci saat menunaikan rukun Islam kelima. Kehilangan ini seolah menjadi ‘isyarat langit’ bahwa ia akan diasuh langsung oleh takdir Tuhan melalui tangan-tangan kekasih-Nya.

Ia sempat dirawat oleh bibinya yang mencapai usia lanjut (sekitar 120 tahun). Menyadari keterbatasannya, sang bibi menyerahkan Syadzili kecil kepada Syaikh Abdul Fattah, seorang ulama besar dan Mursyid Thariqah Idrisiyah. Di bawah asuhan Syaikh Fattah, Syadzili tidak hanya diajarkan syariat, tetapi juga riyadhah (latihan ruhani) yang keras.

Salah satu bentuk tempaannya adalah perintah untuk berjaga di teras pesantren dalam waktu yang sangat lama tanpa alas tidur. Dalam perspektif tasawuf, ini adalah proses takhalli (pembersihan diri dari kenyamanan duniawi). Syadzili menjalaninya dengan prinsip Sam’an wa Tha’atan (mendengar dan taat), sebuah kunci utama bagi seorang murid untuk meraih fath (keterbukaan batin) dan limpahan barakah gurunya.

Setelah matang secara ruhani, Syaikh Fattah memerintahkan Syadzili berangkat ke Makkah. Di sana, ia tidak hanya berhaji, tetapi juga menyelami samudera ilmu dari para ulama Nusantara yang bermukim di Hijaz. Perjalanan ini menjadi titik balik intelektualnya, mempertemukan tradisi pesantren dengan sanad keilmuan global.

Sepulang dari Tanah Suci, atas isyarat gurunya, Syaikh Abdul Fattah untuk melangkah ke Jawa Timur untuk menemui sang ‘Syaikhul Masyaikh’, Syaikhona Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan. Meski telah mendengar kabar bahwa Syaikhona Kholil telah wafat, kepatuhan kepada guru membuatnya tetap berangkat ke Madura. Sebelumnya Syadzili sempat bertanya kepada Sang Guru, ‘Ya Syaikh, bagaimana saya bisa mengaji kepada orang yang telah wafat?’ Syaikh Abdul Fattah menjawab, ‘Sudah gak perlu banyak tanya, segera kamu berangkat, dan jangan kau pulang sebelum bertemu dengan Syaikhona Kholil’. Di sinilah terjadi peristiwa spiritual yang luar biasa: Syadzili melakukan uzlah dan riyadhah di makam Syaikhona Kholil selama tiga bulan menghadiahkan. Ia terus menghadiahkan Al-Fatihah sembari membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

diskon

Buah dari kesabarannya, dikisahkan Syadzili bertemu dengan Syaikhona Kholil—ada yang mengatakan dalam keadaan mimpi maupun yaqdhatan (sadar)—yang merestuinya dan memerintahkannya untuk berjalan ke arah selatan. Inilah perjalanan hijrah spiritual yang membawanya mengelilingi Jawa Timur, berguru kepada para Auliya besar seperti Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf di Gresik. Syadzili berguru cukup lama kepada Habib Abu Bakar Assegaf, bahkan sosok inilah yang sangat dicintainya. Dari Gresik, Syadzili muda (selanjutnya disebut Kiai Syadzili) meneruskan ke Pasuruan, berguru kepada Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf.

Alhasil, perjalanan Kiai Syadzili berakhir di wilayah Malang, sebuah daerah yang pada masa itu tengah mengalami dinamika sosial dan politik yang kuat di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Setibanya di Alun-Alun Malang, Kiai Ahmad Syadzili mengalami peristiwa yang acapkali dialami para kekasih Allah. Ia dihampiri oleh seorang sosok compang-camping, yang tampak seperti pengemis, namun memiliki kewibawaan yang tak biasa. Sosok tersebut kemudian menuntunnya ke Masjid Noor, Kidul Pasar, lalu menghilang begitu saja. Di kemudian hari, diyakini bahwa sosok misterius tersebut adalah Nabiyullah Khidir AS, sang pembimbing para musafir ilahi.

Dari Masjid Noor, Ia mulai berdakwah dan mengajar dari satu masjid ke masjid lain, hingga akhirnya menetap di Desa Pendem, Kota Batu. Pada masa itu, wilayah tersebut dikenal sebagai basis ideologi kiri (PKI). Di tengah tantangan ideologis yang keras, Kiai Syadzili kemudian mendirikan Pesantren Riyadhul Jannah. Dengan kelembutan akhlak dan ketajaman batin, beliau mengubah ‘tanah gersang’ secara spiritual menjadi taman surga (Riyadhul Jannah) yang hingga kini diteruskan oleh keturunannya.

Dalam khazanah tasawuf, sering dikatakan bahwa ‘Al-Istiqomatu khairun min alfi karomah‘ (Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah). Prinsip inilah yang tercermin pada sosok Kiai Ahmad Syadzili. Meski dalam kondisi sakit parah, beliau tak pernah meninggalkan shalat berjamaah, wirid, maupun shalat-shalat sunnah lail (malam). Penyakit lahiriah tidak mampu mengalahkan kesehatan ruhaninya.

Menjelang akhir hayatnya, sebuah peristiwa mengharukan terjadi. Dua tahun sebelum wafat, Kiai Syadzili memanggil salah satu putranya, Gus Abdurrahim ke kamar. Waktu itu di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah tengah diadakan peringatan Maulid Nabi Saw. Saat di kamar, Gus Abdurrahim, mendapati Kiai Syadzili menangis tersedu-sedu dipenuhi aroma harum yang asing di indra manusia biasa. Dengan suara bergetar, Ia mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW baru saja hadir menemuinya sebagai bentuk apresiasi atas kecintaan beliau dalam memperingati Maulid Nabi.

Semasa hidupnya, Kiai Syadzili memiliki hubungan yang dekat dengan para ulama sezaman, di antaranya Habib Muhammad bin Husain Ba’bud, Habib Alwi Alyaidrus, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai Ismail Arif Pakunegoro, Gus Fudz Tasikmadu, dan Kiai Ahmad Qusyairi.

Bahkan Kiai Abdul Hamid Pasuruan pernah berpesan kepada Gus Abdurrahim, ‘bahwa Abahmu (Kiai Ahmad Syadzili) adalah seorang wali besar, Mastur fil ardh masyhur fis as-sama’ (masyhur di langit meski tersembunyi di bumi)’—sebuah pengakuan yang menunjukkan kedalaman spiritual dan keluhuran akhlaknya.

Bersambung…


Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button