Membaca Bulan, Menguji Kedewasaan Umat (Belajar Dari KH. Hasyim Muzadi)

“Kita sering sibuk bertanya kapan hari raya, tetapi lupa bertanya: ke mana arah kita berjalan bersama?”
Perbedaan hari raya memang sering membuat suasana terasa lebih ramai daripada biasanya. Bukan oleh gema takbir, melainkan oleh satu pertanyaan klasik yang selalu datang lebih cepat dari subuh: “Besok Id atau lusa?”
Padahal, seperti guyonan khas allahuyarham KH. Hasyim Muzadi dalam acara 1 Abad Podok Modern Gontor, yang berbeda itu sejatinya hanya tanggalnya—bukan salatnya, bukan takbirnya, apalagi Tuhannya. Ibadahnya sama. Langitnya sama. Yang berbeda hanya cara manusia membaca awal bulan.
Di titik inilah kita belajar bahwa agama bukan sekadar kumpulan hasil, tetapi juga proses. NU menunggu hilal seperti menunggu tamu di depan pintu: harus terlihat dulu, baru dipersilakan masuk. Ada adab, ada kehati-hatian, ada tradisi ru’yah yang berpegang pada kesaksian mata. Sementara Muhammadiyahcukup dengan kepastian bahwa tamu itu sudah berada di perjalanan. Secara hisab, secara perhitungan ilmiah, ia sudah sampai waktunya.
Dua cara membaca waktu. Bukan dua agama. Al-Qur’an sendiri memberi isyarat bahwa peredaran waktu memang dibaca dengan tanda-tanda alam:
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Ayat ini tidak sedang menetapkan satu metode tunggal, tetapi menegaskan satu tujuan: keteraturan ibadah manusia. Cara membaca tanda itulah yang kemudian menjadi wilayah ijtihad.
Suatu ketika, dalam sebuah cerita yang sering beliau ulang, Jusuf Kalla Wapres Indonesia kala itu gelisah melihat umat seolah punya dua kalender. Ia kemudian berdiskusi dengan Buya Syafii Ma’arif dan KH. Hasyim Muzadi. Maka lahirlah usul yang sangat khas dunia perdagangan (menurut KH. Hasyim Muzadi): Bagaimana jika Muhammadiyah naik satu derajat, NU turun satu derajat. Sebuah kompromi matematis. Masuk akal di meja negosiasi. Tetapi fikih bukan transaksi pasar yang bisa ditawar di tengah.
Dalam ilmu falak, kebenaran metodologis tidak mengenal diskon. Hisab dan ru’yah bukan soal siapa paling keras kepala, melainkan siapa paling setia pada kerangka ilmunya. Maka usul itu pun ditanggapi dengan senyum. Logika pedagang, betapapun cemerlangnya, tidak selalu bisa dipakai untuk membaca langit.
Yang lebih penting sebenarnya bukan menyatukan tanggal, tetapi menyatukan kesadaran bahwa perbedaan itu sah, mungkin, dan bahkan niscaya. Bumi saja tidak punya satu waktu yang seragam. Orang berangkat dari Narita hari Jumat sore, tiba di California masih Jumat pagi. Apakah ia harus salat Jumat dua kali? Orang terbang dari New York ke Jakarta, lalu “kehilangan” hari Sabtu. Apakah hari itu gugur dari takdir?
Tanggal ternyata bukan sesuatu yang absolut. Ia hanyalah kesepakatan manusia membaca gerak bumi dan bulan. Maka perbedaan 1 Syawal seharusnya tidak lebih menggemparkan daripada perbedaan zona waktu.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberi ruang pada perbedaan ijtihad dalam hal-hal cabang. Dalam sebuah hadis yang terkenal, ketika para sahabat berbeda memahami perintah beliau saat Perang Bani Quraizhah, Rasulullah tidak menyalahkan siapa pun. Perbedaan cara memahami, selama berangkat dari niat taat, tidak dibatalkan oleh langit.
Di titik ini, humor KH. Hasyim Muzadi berubah menjadi pelukan. Hubungan NU dan Muhammadiyah, kata beliau, kini seperti dua sahabat yang sering satu panggung. Bahkan dengan berseloroh beliau berkata, dirinya lebih sering diundang Muhammadiyah daripada Pak Din diundang NU.
Tentang Pak Din yang disebut “mantan NU” karena tidak betah dengan orang NU yang “kumuh”, itu bukan ejekan. Itu cara seorang kiai mencairkan tembok identitas dengan tawa. Karena di balik guyon itu ada pengakuan yang jujur: kita berbeda dalam gaya, bukan dalam cita-cita.
NU kuat di akar rumput—di langgar kecil, di kampung, di tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Muhammadiyah kuat di sistem—di universitas, di rumah sakit, di manajemen modern yang rapi dan terukur.
NU sulit serapi Muhammadiyah. Muhammadiyah sulit seakar NU. Maka keduanya bukan untuk dipertandingkan, melainkan untuk dipasangkan. Seperti sandal. Kanan dan kiri tidak pernah sama bentuknya. Tetapi justru karena ketidaksamaan itulah ia bisa dipakai berjalan.
Sejarah republik ini pun berdiri di atas jejak dua sandal itu: Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan. Dua nama, dua jalan dakwah, satu arah besar: Indonesia. Di titik itu, perbedaan furu’, bahkan ibnul furu’, menjadi sangat kecil. Yang membesar justru wawasan keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang sama. Mereka tidak sedang mendirikan organisasi untuk menang sendiri. Mereka sedang menanam rumah bersama.
Maka setiap kali kita ribut soal tanggal, mungkin kita lupa satu hal sederhana: kita ini sedang berjalan memakai sepasang sandal. Kalau yang satu dilepas, kita mungkin masih bisa berdiri. Tetapi kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh. Wallahu a’lam bish Shawab.



