Mbah Muallif, Dengan Segala Lika-liku Hidupnya

H. Ahmad Muallif, seorang sesepuh Nahdliyin di Karangploso yang akrab disapa Mbah Muallif, adalah figur yang dihormati dalam masyarakat. Beliau menjabat sebagai Mustasyar MWCNU Karangploso. Lahir di Desa Bocek, Karangploso pada 1 September 1940, beliau menempuh pendidikan pertama di SR (Sekolah Rakyat) Karangploso dan lulus pada tahun 1954. Kini lembaga tersebut telah berubah menjadi SDN Girimoyo I.
Setelah itu, beliau melanjutkan studi di Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Singosari—saat ini dikenal sebagai SMA Islam Al-Ma’arif Singosari—dan lulus pada tahun 1958. Di sela pendidikan formalnya, beliau memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Bungkuk, di bawah bimbingan KH. Nawawi Tohir. Pesantren yang didirikan KH. Hamim tersebut menjadi tempat beliau berguru kepada KH. Maksum dan KH. Nur Salim, dua cucu menantu dari Mbah Tohir Bungkuk. Melalui kedua ulama itu, beliau mengkaji beragam disiplin ilmu keislaman seperti fikih, tauhid, nahwu, shorof, dan terutama tasawuf.
Seiring dengan kelulusannya dari PGAP, beliau juga berpamitan (boyong) dari Pondok Bungkuk. Perjalanan akademiknya berlanjut di Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) Malang, yang diselesaikan pada tahun 1960. Pada masa tersebut, beliau juga nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading di bawah asuhan KH. Muhammad Yahya.
Doa yang Menjadi Jalan Pengabdian
Menjelang kepulangannya dari pesantren pada tahun 1960, KH. Muhammad Yahya memberikan doa sekaligus pesan berharga:
“Awakmu nek mulih teko kene, mulango, Lip” (Lip, setelah pulang dari pondok ini, mengajarlah.)
Doa tersebut terbukti menjadi titik keberkahan dalam perjalanan hidupnya. Sepulang dari Pondok Gading, beliau segera mendapat tawaran untuk bergabung di Kementerian Agama. Pada tahun 1962 terbit SK mengajar dari Kanwil Departemen Agama Jawa Timur, dan beliau ditugaskan di MI NU Sekarputih, Desa Pendem, sebuah madrasah yang didirikan oleh Letkol KH. Raden Panji Iskandar Sulaiman, Konsul NU Jawa Timur pertama.
Pada tahun yang sama, beliau mempersunting Siti Fatimah dari Dusun Karangjuwet, Desa Donowarih.
Jejak Pengabdian Pendidikan
Ahmad Muallif mengajar di MI NU Sekarputih hingga 1966, lalu kembali mengajar di almamaternya, PGAP Singosari, hingga 1968. Bersama para tokoh lokal, beliau turut merintis pendidikan agama di Karangploso hingga berdirilah SMP NU Karangploso (kini SMP Islam Karangploso). Selanjutnya beliau diangkat menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kecamatan Ngantang, sehingga pada 1968–1979 beliau menetap bersama keluarga di wilayah tersebut.
Usai menjadi penilik, beliau bertugas di Kanwil Depag Jawa Timur hingga 1986. Tugas yang lebih luas membuatnya kerap berkeliling daerah. Pada 1986 beliau kembali ke kampung halaman dan diamanahi sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah Karangan hingga 1989. Kemudian beliau menjabat Kepala MTs Al-Ma’arif Bocek hingga 2000, saat memasuki masa pensiun. Namun, atas desakan masyarakat, beliau masih memimpin madrasah tersebut hingga 2005.
“Wayahe ngemong anak putu,” ujarnya santai ketika memutuskan menyerahkan estafet kepemimpinan.
Kiprah di NU: Tidak Menonjolkan Diri, Namun Sangat Berarti
Ketika ditanya mengenai kiprahnya di NU, beliau selalu merendah.
“Aku iki ora dadi opo-opo, dudu pengurus NU.” (Saya ini bukan apa-apa, bukan pula pengurus NU.)
Setelah tetap didesak, barulah beliau bercerita. Sejak masa SR beliau aktif di Kepanduan Ansor Nahdlatoel Oelama yang berpusat di Lapangan Caru Desa Pendem. Saat menempuh PGAP, beliau menjadi Sekretaris IPNU Singosari, lalu aktif di GP Ansor ketika berkuliah di PGAA Malang. Beliau pernah menjabat Ketua Ranting Ansor Desa Bocek selama dua periode, kemudian menjadi Wakil Ketua GP Ansor Anak Cabang Karangploso.
Pada tahun 1963, beliau dipercaya menjadi Wakil Sekretaris MWCNU Karangploso, mendampingi H. Muhammad Tohir Shodiq (Ketua Tanfidziyah). Bersama tokoh lain, beliau turut merintis berdirinya SMP Islam Karangploso.
Tahun-Tahun Genting dan Perlawanan terhadap PKI
Era 1960-an merupakan masa penuh ketegangan bagi bangsa Indonesia, termasuk bagi warga NU. PKI yang kala itu semakin kuat, terutama setelah gagasan Nasakom, kerap mengganggu organisasi yang berbeda ideologi, khususnya NU sebagai representasi umat Islam.
Namun, tragedi G30S/PKI 1965 menjadi titik balik sejarah. NU kemudian membentuk KOPELKANU (Komando Pelaksana Keamanan Warga NU) sebagai upaya melindungi masyarakat. Ahmad Muallif bertugas pada bagian administrasi, menerima laporan masyarakat mengenai aktivitas simpatisan PKI. Organisasi ini bekerja sama dengan TNI AD, dan pada saat itu KOPELKANU Karangploso menggandeng Pusdik Arhanud yang dipimpin Mayor Bambang. Dua pleton Ansor yang dipimpin Sdr. Tabri turut serta menjaga keamanan wilayah.
Masa Pengabdian Lanjutan
Tahun 1967, beliau kembali dipercaya sebagai Sekretaris MWCNU Karangploso. Adapun pada 1970–1982, beliau menjabat Sekretaris Cabang LP Ma’arif Kabupaten Malang, sekaligus Sekretaris PC Lembaga Sosial dan Mabarot NU. Menjelang pensiun, beliau dipercaya menjadi Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Karangploso (1999–2000), dan hingga kini beliau dikenal sebagai Mustasyar MWCNU Karangploso.
“Aku iki dudu tokoh NU, ora usah ditulis,” ujarnya penuh tawadhu’.
Namun justru dari figur-figur seperti beliau—yang bekerja tanpa sorotan, mengabdi tanpa pamrih—NU tumbuh dan kokoh hingga kini. Kisah hidup Mbah Muallif adalah teladan bahwa keikhlasan, keteguhan, dan keberlanjutan perjuangan menjadi fondasi utama perkembangan organisasi dan agama.




Saya salah satu putrinya ingin meralat berapa data. Yang benar beiiau lahir tahun 1940, dan untuk menghindari anggapan anggapan yang tidak diinginkan, mungkin gelar KH, K nya dihilangkan saja karena bapak saya tidak pernah punya pesantren.
Terimakasih atas koreksinya. Salam kagem Mbah Muallif.