Catatan-catatan

Ibu, Madrasah Pertama (Sebuah Refleksi untuk Hari Ibu)

Dari berbagai kisah jamaah haji dan umrah Indonesia, ada satu produk tanah air yang kerap
menjadi obat rindu sekaligus kebanggaan nasional: Indomie. Produk ini tidak hanya mudah
ditemukan di Mekkah dan Madinah, tetapi juga tersebar luas di Jeddah, berbagai kota di Saudi
Arabia, bahkan hingga negara-negara Arab dan kawasan Afrika.

Di Jeddah, dalam perjalanan menuju bandara, konon berdiri sebuah gedung manajemen Indomie
yang cukup megah, sejajar dengan kantor-kantor perusahaan besar lainnya. Tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa Indomie adalah salah satu simbol kehadiran industri Indonesia yang “berkibar”
di Tanah Suci.

Dari Ampel Surabaya ke Tanah Suci

Keberhasilan Indomie di Timur Tengah tidak terjadi seketika. Awalnya hanyalah upaya trial and
error
: membawa beberapa karton mie instan dalam koper. Ketika permintaan meningkat dan
koperasi pemasok di Indonesia tak mampu melayani ekspor, muncullah peluang kerja sama
pendirian pabrik lokal dengan lisensi dan resep dari Indonesia.

Di balik kisah ini, ada sosok pengusaha Indonesia bernama Khalid Bawazir, kelahiran kawasan
Ampel, Surabaya. Namun yang lebih menarik dari kisah bisnisnya adalah awal perjalanan
hidupnya—yang justru bermula dari nasihat seorang ibu.

Ibunda Khalid tidak mengizinkannya melanjutkan kuliah. Sebaliknya, ia diminta membantu
ayahnya mengelola toko sarung di kawasan Ampel. Keputusan ini kelak terbukti tepat. Usaha
tersebut berkembang dari toko kecil menjadi perusahaan sarung berskala nasional, bahkan
berhasil mengakuisisi pabrik sarung legendaris Gajah Duduk di Pekalongan.

diskon

Membaca Masa Depan Anak

Dari kisah ini, kita belajar bahwa nasihat seorang ibu—yang lahir dari kedekatan batin dan
pengamatan yang tulus—dapat menjadi penentu masa depan anak. Ibu Khalid seakan
mampu membaca potensi, karakter, dan arah hidup putranya.

Ibu semacam ini bukanlah ibu yang terlalu sibuk dengan urusan pribadi atau aktivitas publik
hingga kehilangan kedekatan dengan anak. Bukan pula ibu yang reaktif dan emosional, bahkan
sampai melabrak guru ketika anaknya ditegur demi kedisiplinan.

Sebaliknya, ia adalah ibu yang hadir secara utuh—secara fisik, emosional, dan spiritual.

Doa Ibu yang Tak Pernah Putus

Bisa jadi, ibu seperti inilah yang bangun pukul tiga dini hari, menunaikan shalat hajat dengan
khusyuk, 6 rakaat dengan tiap selesai alfatihah membaca ayat kursi lalu al-Ikhlas, lalu akhir shalat hajat sujud dengan iringan tasbih, tahmid, dan takbir 10x, lalu baca shalawat 10 kali yang disambung dengan doa untuk anak dan ditutup dengan witir, melangitkan doa-doa terbaik untuk anak-anaknya. Tradisi spiritual semacam ini dikenal luas di kalangan pesantren, salah satunya diajarkan oleh KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh Pesantren Amanatul Ummah dan putra pendiri NU, KH. Abdul Chalim.

“Doa seorang ibu—yang keluar dari hati yang bersih dan penuh cinta—sering kali menembus
langit, bahkan sebelum usaha anak itu sendiri dimulai.”

Teladan Sayyidah Fatimah

Sejarah Islam juga mencatat teladan keibuan dan kesalehan yang agung melalui Sayyidah
Fatimah, putri Rasulullah SAW. Menjelang pernikahannya, beliau menerima hadiah pakaian
indah dari sang ayah. Namun ketika seorang fakir meminta sedekah, beliau teringat firman Allah
dalam Surah Ali Imran ayat 92:

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian
harta yang kamu cintai.”

Maka pakaian yang paling beliau cintai itulah yang diberikan. Pada hari pernikahannya,
Sayyidah Fatimah hanya mengenakan pakaian sederhana. Dari rahim perempuan agung inilah
lahir Hasan bin Ali dan Husen bin Ali, simbol keteguhan iman dan keberanian membela
kebenaran hingga nyawa menjadi taruhannya. Keturunan merekalah yang kelak banyak menjadi
ulama dan penyebar Islam di Nusantara.

Perempuan dan Lelaki Sejati

Ada sebuah ungkapan bijak:

“Di balik lelaki sukses, ada perempuan hebat. Dan di depan perempuan hebat, ada lelaki yang
menguatkannya.”

Tentang lelaki sejati, sebuah kisah sederhana mengajarkan kita makna yang dalam. Seorang
gadis bertanya pada ibunya, “Siapakah lelaki sejati?”

Sang ibu menjawab, lelaki sejati adalah mereka yang:

  1. Melihat yang pantas dilihat
  2. Mendengar yang pantas didengar
  3. Merasa dan berpikir dengan pantas
  4. Membaca dan memahami yang benar
  5. Satu kata dengan perbuatannya
  6. Dapat dipercaya.

Ketika si gadis bertanya di mana lelaki seperti itu bisa ditemukan, sang ibu terdiam sejenak, lalu
berkata lirih, “Jenis lelaki seperti itu sudah sangat langka.”

Namun sang ibu kemudian menambahkan dengan bijak:
“Ambillah siapa pun lelaki yang mencintaimu dan kamu mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Sebab cinta—jika dirawat dengan benar—mampu mengubah seorang lelaki menjadi lelaki
sejati.”

Dari seluruh kisah ini, satu kesimpulan menjadi terang:
Ibu adalah madrasah pertama, tempat nilai, karakter, iman, dan masa depan ditanamkan. Dari
rahim dan didikan ibu, lahir generasi yang mengubah dunia—baik di ruang bisnis, pendidikan,
maupun peradaban.

Selamat Hari Ibu
Untuk gadisku dan ibunya,
Untuk seluruh ibu dan calon ibu di Indonesia.

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button