Catatan-catatan

Dan Tuhan Tersenyum Melihat Ndan Bahrul #2

Ndan Bahrul dan Stigma Wahabi

Di Kota Batu dengan udaranya yang dingin, terdapat seorang anggota Banser senior bernama Bahrul Ulum. Semua orang memanggilnya Ndan Bahrul. Kenapa dipanggil “Ndan”? Karena di struktural Banser, panggilan itu semacam upgrade status sosial.

Ndan Bahrul merupakan kader Ansor-Banser militan. Sudah puluhan tahun ia aktif di Banser. Kalau dihitung-hitung, masa baktinya sudah melewati beberapa dekade kepemimpinan Satkorcab. Dari Ndan Supi’i, Ndan Suwito sampai Ndan Arip. Orang-orang bilang, secara pengalaman, loyalitas, dan jam terbang organisasi, Ndan Bahrul itu sudah paket lengkap. Maqom tertinggi. Diatasnya sudah Sidratul Muntaha. Sudah berapa kali PKD, PKL, Susbalan, Suspelat dan sus-sus lainnya telah ia telan semudah menyantap sate Bang Jamal. Tinggal satu hal yang belum lengkap: jabatan Kasatkorcab.

Padahal, beberapa kali pasca Konferensi Cabang, namanya sempat beredar, diusulkan menjadi kandidat Kasatkorcab. Tapi setiap kali rapat mendekati keputusan,  ada satu hal yang membuat hidup Ndan Bahrul terasa seperti sinetron religi 200 episode: fitnah bahwa Ndan Bahrul adalah pengikut Wahabi.

“Hmm… tapi katanya Ndan Bahrul itu… Wahabi.”

“Dasar Ndan Bahrul itu Wahabi tulen!!!”

diskon

“Asli lho Bahrul iku Wahabi”

Begitulah desas-desus yang berkembang. Kalimat-kalimat semacam itu biasanya diucapkan lirih, setengah berbisik, seperti orang yang sedang membicarakan hantu di siang bolong.

-0-

Suatu malam di posko Banser saat jaga malam Natal dan Tahun Baru, Ndan Bahrul, Cak Udin, dan Ndan Arip sedang ngobrol gayeng. Cak Udin adalah tipe orang yang selalu punya teori konspirasi. Kalau listrik mati, dia yakin itu pasti proyek rahasia pemerintah, atau sabotase dari Agen CIA.

“Ndan,” kata Cak Udin sambil menyeruput kopi, “sampeyan ngerti nggak kenapa orang-orang bilang sampeyan itu Wahabi?”

Ndan Bahrul menghela napas panjang dan menatap tajam ke dua temannya.

“Karena wajah saya mirip ustadz itu ya?”

Yang dimaksud adalah seorang ustadz salafi wahabi yang terkenal. Sosok ustadz tersebut sering dijadikan bahan debat di grup WhatsApp dan kebetulan wajahnya mirip Ndan Bahrul. Ndan Arip langsung mengangguk cepat, sok paham.

“Bukan cuma mirip,” katanya. “Kalau sampeyan lagi melotot pas apel Banser itu… persis banget Ndan.”

“Iyo! Cara melototnya itu lho mas bro. Persis.”

Ndan Bahrul mengerutkan dahi. Memelas.

“Lho… kalau gitu semua orang yang melotot itu Wahabi dong?”, sergah Ndan Bahrul berusaha membantah.

“Ya nggak gitu juga Ndan,” kata Cak Udin sembari tertawa. Lalu suasana hening sejenak seperti adegan film thriller.

-0-

Semua tuduhan yang dialamatkan kepada Ndan Bahrul sebenarnya belum mencapai level absurd tingkat tertinggi. Sekadar kricikan, kata orang Jawa.

Fitnah Wahabi Ndan Bahrul terjadi karena satu hal yang sangat ilmiah namun konyol… alamat rumahnya. Dulu, Ndan Bahrul tinggal di Kampung Contong. Dan kebetulan… salah satu tetangganya ada orang bernama Cak Wahab. Inilah mungkin satu-satunya teori sosial di dunia ini, di mana tetangga bisa menentukan mazhab seseorang.

Suatu hari, di sebuah obrolan kecil di warung kopi Cak Fuad, Cak Udin berbisik pada Ndan Arip.

“Sampeyan ngerti nggak kenapa Bahrul itu sering dipanggil Wahabi?”

Ndan Arip menggeleng. Cak Udin menjawab dengan penuh keyakinan ilmiah:

“Karena… dia itu tonggone Cak Wahab.”

“Ha ha ha ha ha ha ha ha”

“wkwkwkwkwkwk”

Logika yang dipakai kira-kira seperti ini Ndan, Cak Wahab namanya Abdul Wahab. Dan Ndan Bahrul itu tetangganya Abdul Wahab. Maka kesimpulannya Bahrul adalah Wahabi. Dia Wahabi secara Geografis, bukan ideologis”, sahut Cak Udin.

“Ha ha ha ha ha ha ha”, Ndan Arip tidak bisa menahan tawa.

Dalam hidupnya, Ndan Bahrul mungkin satu-satunya orang yang dituduh sebagai pengikut Wahabi hanya karena alamat rumah.Namun, beberapa tahun terakhir, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ndan Bahrul telah pindah rumah. Dari Kampung Contong ke Bumiaji. Dan secara ajaib… fitnah itu perlahan memudar, dan hilang. Purna.Tidak ada lagi orang yang berbisik:

“Bahrul itu Wahabi.”

Karena sekarang dia sudah tidak lagi bertetangga dengan Cak Wahab. Cak Udin bahkan punya teori baru Ketika kongkow di warung kopi.

“Sekarang Ndan Bahrul nggak Wahabi lagi.

“Kenapa Cak?” tanya Ndan Arip penasaran.

“Karena sekarang ia tetangganya Pak Budi.”

“Terus?”

Cak Udin menyeruput kopi dengan khidmat.

“Ya paling sekarang ia jadi Budhisme.”

“Ha ha ha ha ha ha ha ha” @alfi

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button