Sudut Sejarah

Kiai Zakaria, Kebun Kopi, dan Islamisasi Batu #3

Sepanjang hidupnya, Kiai Zakaria dikaruniai lima orang anak—sebagian sumber menyebut empat putri dan satu putra. Keturunannya kemudian mendiami Kampung Macari dan wilayah sekitar Kota Batu.

Menjelang wafat, Kiai Zakaria berwasiat agar dimakamkan di pemakaman umum Kampung Lesti. Wasiat ini sarat makna sosial. Selain mengajarkan agar keturunannya tidak mengkultuskan individu, pemakaman tersebut juga menjadi simbol perdamaian antara warga Kampung Macari dan Kampung Lesti yang sebelumnya sering berselisih. Sejak saat itu, hubungan kedua kampung tersebut berangsur rukun.

cungkup
cungkup makam Kiai Zakaria di pemakaman umum Lesti

Terdapat pula kisah yang dialami oleh Abdur Rochim yang akrab disapa Cak Rochim, salah satu keturunan Kiai Zakaria. Karena terdesak kebutuhan ekonomi, suatu hari ia berniat mencari nomor buntutan di makam Kiai Zakaria dengan bantuan seorang dukun dari Desa Oro-Oro Ombo. Mereka sepakat untuk bertemu di area makam pada tengah malam. Sekitar pukul 23.00 WIB, Cak Rochim pun berjalan menuju pemakaman umum Lesti. Sebelum sampai masuk area makam, ia melewati aliran sungai, di pinggir jalan makam. Sejurus kemudian tubuh Cak Rochim seperti ada yang mengangkat, dan ia terlempar keras kedalam sungai. Saat itu juga terdengar suara yang tak tahu dari mana asalnya (hatif),

Awakmu dadi turunane Kiai Zakaria, ojo ngisin-ngisini
(kamu jangan membuat malu jika menjadi anak cucu Kiai Zakaria)

Dengan langkah tertatih dan tubuh basah kuyup, Cak Rochim bangkit dari sungai. Wabakdu, Ia mengurungkan niatnya untuk mendapatkan nomor.

diskon

Pada tahun 2004, salah seorang keturunan Kiai Zakaria—yang dalam penuturan ini disebut dengan inisial AM—mengalami sebuah peristiwa spiritual. Dalam tidurnya, AM bermimpi bertemu dengan Kiai Zakaria. Dalam mimpi tersebut, Kiai Zakaria digambarkan berpostur tidak terlalu tinggi, mengenakan baju berwarna hitam dan bersarung. Penampilannya sederhana, namun memancarkan kewibawaan dan ketenangan. Di dalam mimpi itu pula, AM diajari sebuah jurus pencak silat oleh Kiai Zakaria di Blumbang Macari. Ketika jurus tersebut dipraktikkan, terdengar bunyi nyaring yang khas, menyerupai suara anak-anak yang sedang bermain cimblungan, menandakan adanya kekuatan dan makna simbolik di balik jurus tersebut.

1000856301
Nisan Makam Kiai Zakaria beserta putra-putrinya

Pasca mimpi tersebut, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan, AM mengadakan selamatan di sekitar Blumbang Macari. Selamatan ini dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih sekaligus pengingat akan nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh Kiai Zakaria kepada keturunannya dan masyarakat.

Sementara itu, terdapat pula sosok Almarhum Bapak Nursidin, yang lebih akrab disapa Mbah Din, mantan karyawan PT Wastra Indah yang berasal dari Lombok. Dalam kesehariannya, Mbah Din yang rumahnya berada di Kampung Lesti kerap berada di makam Kiai Zakaria, terutama pada malam Jumat. Kehadirannya di makam tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud penghormatan dan kedekatan batin kepada sosok Kiai Zakaria.

Mbah Din pernah menuturkan, bahwa Kiai Zakaria dikenal sebagai pribadi yang sabar, berwibawa, dan memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi. Menurutnya, postur tubuh Kiai Zakaria memiliki kemiripan dengan salah satu cucunya, yakni Kiai Mahfudz Ilyas, baik dari segi tinggi badan maupun paras wajahnya. Kesaksian ini semakin menguatkan gambaran tentang sosok Kiai Zakaria sebagai figur ulama yang sederhana, namun memiliki pengaruh besar dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Kiai Zakaria: Antara Tradisi Lisan dan Jejak Sejarah

Sosok Kiai Zakaria hingga kini masih menyisakan perdebatan dalam penelusuran sejarah lokal, khususnya di wilayah Batu. Informasi mengenai siapa sebenarnya Kiai Zakaria tersebar dalam berbagai versi, baik melalui tradisi lisan masyarakat, catatan keluarga, maupun tulisan-tulisan sejarah populer. Namun demikian, perbedaan versi tersebut justru menuntut kehati-hatian dalam menempatkan Kiai Zakaria secara proporsional dalam bingkai sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa Kiai Zakaria adalah seorang ulama sekaligus prajurit Pangeran Diponegoro yang turut terlibat dalam Perang Jawa (1825–1830). Perang besar ini merupakan perlawanan rakyat Jawa terhadap kolonialisme Belanda dan melibatkan banyak ulama, santri, serta bangsawan. Pasca kekalahan pasukan Diponegoro, tidak sedikit pengikutnya yang menyebar ke berbagai wilayah, termasuk ke Jawa Timur, baik untuk menghindari kejaran Belanda maupun untuk melanjutkan perjuangan melalui jalur dakwah dan pendidikan Islam. Dalam konteks ini, keberadaan Kiai Zakaria di Jawa Timur dinilai masuk akal secara historis.

Di sisi lain, terdapat pula penelusuran silsilah oleh sebagian anak cucu Kiai Zakaria yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari wilayah Cirebon. Cirebon pada abad ke-18 dan ke-19 dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dan jaringan ulama yang memiliki hubungan erat dengan pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mobilitas ulama dari Cirebon ke wilayah pedalaman Jawa bukanlah hal yang asing dalam tradisi Islam Nusantara, sehingga versi ini juga memiliki kemungkinan historis, meskipun belum didukung bukti tertulis yang kuat.

Versi lain muncul dalam sebuah buku berjudul Pangeran Rohjoyo dan Tokoh Islamisasi Kota Batu yang diterbitkan oleh Paguyuban Keluarga Putro Wayah Mbah Mbatu. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa Kiai Zakaria adalah salah satu murid Mbah Batu, yang dikenal pula dengan nama Syaikh Abul Ghonaim atau Pangeran Rohjoyo. Dikisahkan bahwa Kiai Zakaria datang ke wilayah Batu secara bergelombang bersama tokoh-tokoh lain dalam rangka islamisasi kawasan tersebut. Meski narasi ini menarik dan kaya akan cerita, menurut hemat kami, data yang disajikan dalam buku tersebut belum dapat dinilai valid secara akademik. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan dukungan bukti arkeologis, manuskrip, maupun sumber sejarah primer yang dapat diverifikasi secara ilmiah.

Kiai Zakaria juga kerap dihubungkan dengan sosok Eyang Djugo, tokoh kharismatik yang makamnya berada di Gunung Kawi. Hubungan ini muncul karena Eyang Djugo dikenal pula dengan gelar Kiai Zakaria II. Dalam tradisi Jawa, penamaan semacam ini dikenal dengan istilah nunggak semi, yakni keberlanjutan nama atau gelar dari generasi sebelumnya sebagai bentuk penghormatan dan kesinambungan spiritual. Dengan demikian, dimungkinkan bahwa Kiai Zakaria yang lebih awal dikenal sebagai Kiai Zakaria I, sedangkan Eyang Djugo adalah penerus spiritualnya sebagai Kiai Zakaria II.

Penguatan hubungan ini juga terlihat dalam tradisi lokal masyarakat Kecamatan Bumiaji. Salah satunya masyarakat Dusun Junggo, Desa Tulungrejo. Nama “Junggo” oleh masyarakat setempat dinisbatkan dari kata “Jugo”, yang merujuk pada Eyang Djugo. Selain itu, terdapat sebuah petilasan Eyang Djugo dan R. Iman Sujono di dekat makam umum Dusun Gintung, Desa Bulukerto. Petilasan ini diyakini oleh warga sekitar sebagai tempat singgah atau jejak spiritual kedua tokoh tersebut, dan hingga kini sering digunakan sebagai lokasi selamatan serta ritual tradisional. Tradisi semacam ini menunjukkan kuatnya ingatan kolektif masyarakat terhadap figur-figur spiritual masa lampau, meskipun tidak selalu dapat dibuktikan secara tertulis.

Berdasarkan berbagai versi yang ada, dapat disimpulkan bahwa sosok Kiai Zakaria berada di wilayah abu-abu antara sejarah tertulis dan tradisi lisan. Banyak narasi berkembang, namun tidak semuanya didukung oleh data sejarah yang valid dan dapat diverifikasi. Oleh karena itu, dengan tetap menghormati berbagai pendapat dan versi yang beredar, kami lebih meyakini keterangan yang bersumber dari keluarga dan anak keturunan Kiai Zakaria sendiri. Tradisi keluarga, meskipun bersifat lisan, memiliki kesinambungan memori yang lebih dekat dengan sosok yang dibicarakan dan sering kali lebih terjaga keasliannya.

Keyakinan ini bukan dimaksudkan untuk menafikan tokoh-tokoh lain seperti Pangeran Rohjoyo atau Eyang Djugo, melainkan untuk menempatkan Kiai Zakaria secara proporsional berdasarkan data yang paling mendekati kebenaran sejarah. Dengan demikian, Kiai Zakaria dapat dipahami sebagai figur ulama pejuang yang hidup dalam konteks pergolakan Jawa abad ke-19, yang jejaknya masih hidup dalam ingatan keluarga dan masyarakat hingga hari ini.

Bersambung…

Alfi Saifullah

Warga Nahdliyin yang produktif menulis artikel, esai, maupun kolom. Telah menulis beberapa buku, diantaranya; Raden Panji Iskandar Sulaiman; jejak-jejak perjuangan santri Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Mbah Cholil Baureno: Kepahlawanan, Khidmah, Keteladanan. Sekarang sebagai Pimpinan Redaksi Wathan.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button