Jejak Pengabdian Kyai Syamsul Huda Amir #2

Ada fakta sejarah yang menarik untuk digali: Kiai Syamsul Huda muda, sebelum masuk ke jajaran kepengurusan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, ternyata berkhidmat di Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pacet sebagai ketua. Beliau meneruskan estafet kepemimpinan dari ketua pertama, Bapak Shomad, seorang tokoh muda asal Cepoko Limo.
Fakta ini terungkap dari penuturan tokoh legendaris PAC GP Ansor era 80–90-an yang dikenal idealis dan teguh pendirian, Bapak H. Jazuri. Beliau adalah saksi hidup yang memegang erat prinsip perjuangan di masa-masa sulit saat Nahdlatul Ulama beserta banom-banomnya (onderbouw) berada di bawah tekanan represif rezim Orde Baru. Di era itu, NU menghadapi tantangan berat akibat kebijakan “Asas Tunggal” Pancasila tahun 1984. Keteguhan Kiai Syamsul menunjukkan posisi NU yang tetap mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri religiusnya. H. Jazuri sendiri, yang saat itu aktif di IPNU, bahkan sempat merasakan dinginnya jeruji besi akibat keberaniannya bersikap kritis.
Kesaksian serupa juga disampaikan oleh H. Ahmad Biyadi, aktivis GP Ansor era ’65 yang melanjutkan khidmat di NU pada era 70-an. Alumnus PP Jowinong asal Bendungan Jati yang kini menetap di Sugeng, Trawas tersebut menjadi saksi bagaimana militansi kader hijau di lereng gunung tetap menyala meski dalam pengawasan ketat politik saat itu.
Menaklukkan Medan “Gersang” dengan Sepeda Unta
Lanskap geografis Pacet yang khas pegunungan—dengan jalanan naik-turun, berkelok, berbatu, dan licin saat hujan—tidak menyurutkan langkah Kiai Syamsul Huda dalam mengemban amanah. Di era itu, aspal hanya tersedia di jalur provinsi, selebihnya adalah jalan makadam yang menantang.
Dengan ketelatenan luar biasa, beliau “ngopeni” (merawat) medan Pacet yang secara sosiokultural saat itu masih bisa dikatakan “gersang” nilai-nilai keislaman formal. “Veteran” GP Ansor ini tak segan berjalan kaki menyambangi 20 ranting. Jika jarak memungkinkan, beliau akan menunggangi “sepeda unta” merk Hima buatan Belanda. Sepeda Hima adalah salah satu merk sepeda klasik Belanda yang jarang dimiliki orang biasa saat itu, menambah kesan betapa seriusnya beliau mempersiapkan “kendaraan dakwah” untuk medan berat. Sepeda tua yang kokoh itu menjadi teman setia beliau dalam mengarungi jalanan curam demi mengonsolidasikan umat di masa awal kepengurusan MWC NU.
Tahun 1972 menjadi tonggak awal khidmat beliau di struktur NU. Karena kedalaman ilmu agamanya (kealiman), Kiai Syamsul Huda langsung diminta menjabat sebagai Rais Syuriah MWC NU Pacet. Beliau bersanding dengan H. Amir Sjoehadak sebagai Ketua Tanfidziyah, yang merupakan tokoh perintis MWC NU Pacet sejak tahun 1965.
Pembentukan jam’iyah NU di tingkat kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto memang tidak lepas dari tangan dingin Almaghfurlah KH Achyat Chalimi (Abah Yat). Beliau adalah pengasuh PP Sabilul Muttaqin sekaligus pimpinan laskar Hizbullah Mojokerto. Strategi Abah Yat saat itu adalah memanfaatkan jaringan mantan pimpinan Hizbullah di tiap kecamatan untuk menghidupkan NU. Di Pacet, tokoh Hizbullah yang menjadi motor penggerak adalah H. Amir Sjoehadak, yang kelak pada era 90-an kembali dipercaya memegang pucuk pimpinan Tanfidziyah.
Setelah hampir tiga dasawarsa mewakafkan hidupnya untuk NU, sebuah berita duka menyelimuti bumi Pacet. Pada sore hari setelah asar, sekitar pukul 15.30 WIB, tanggal 18 Februari 1994 (7 Ramadhan 1414 H), Kiai Syamsul Huda berpulang ke hadapan Sang Khaliq. Beliau wafat di bulan suci, mengakhiri perjalanan panjang khidmatnya dengan indah.
Catatan Penutup:
Narasi ini mungkin terlalu singkat untuk menggambarkan rihlah (perjalanan) khidmat beliau bagi NU dan umat Islam secara umum. Masih banyak jejak yang belum terungkap ke permukaan. Namun, perjalanan pengabdian Kiai Syamsul Huda adalah cermin ketulusan dalam berkhidmat—sunyi dari hingar-bingar, namun berdampak luas bagi peradaban.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan tekanan zaman, beliau tetap teguh menanamkan panji-panji Ahlussunnah wal Jama’ah di bumi Pacet. Warisan beliau bukan sekadar struktur organisasi yang kokoh, melainkan semangat juang dan keikhlasan yang akan selalu menjadi kompas bagi generasi penerus. Pengabdian sejati memang tak selalu tampak gemerlap, namun ia akan abadi dalam memori umat dan catatan sejarah.



