Sudut Sejarah

Jejak Pengabdian Kyai Syamsul Huda Amir #1

Sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Mojokerto tidak bisa dilepaskan dari peran para kyai kampung yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pendidikan dan organisasi. Salah satu sosok sentral tersebut adalah Kyai Syamsul Huda Amir.

Kisah ini bermula di Desa Jatisari, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto. Tepat pada 2 Februari 1942, di tengah gejolak transisi kekuasaan dari kolonial Belanda ke pendudukan Jepang, lahir seorang bayi laki-laki. Ia adalah putra dari Kyai Amir, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Jowinong. Nama “Amir” yang melekat pada beliau bukan sekadar identitas, melainkan penghormatan terhadap garis keturunan pendidik. Pesantren Jowinong sendiri merupakan “kawah candradimuka” yang telah mencetak banyak dai di kawasan Mojokerto selatan, tepatnyadi kawasan Pacet dan sekitarnya. Hingga hari ini, estafet kepemimpinan pesantren tersebut diteruskan oleh cucu beliau, Gus Muhammad Rodli (Gus Mamak), menjaga api dakwah yang telah menyala selama puluhan tahun.

Sejak kecil, Kyai Syamsul Huda mendapatkan pendidikan agama langsung di bawah bimbingan ayahandanya. Sebagai putra kyai, Syamsul Huda muda tidak cepat berpuas diri. Beliau kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana, beliau menyerap langsung tradisi keilmuan yang diletakkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng, Syamsul Huda tidak hanya belajar kitab kuning (tafaqquh fiddin), tetapi juga belajar tentang nasionalisme dan kemandirian. Iklim Tebuireng yang kental dengan semangat perlawanan terhadap penjajahan dan penguatan jam’iyyah NU membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang disiplin, berwawasan luas, namun tetap rendah hati.

Sepulang dari Tebuireng sekitar tahun 1965, beliau diminta membantu mengajar oleh pendiri MI Hasyim Asy’ari Mojoroto, Petak, Pacet, Mojokerto. Pendiri madrasah tersebut datang langsung kepada Kyai Amir dan memohon agar salah satu putranya diizinkan membantu mengajar di lembaga pendidikan yang sedang dirintisnya. Permintaan itu disambut hangat oleh sang pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda. Maka diutuslah putranya yang baru pulang dari Tebuireng, Gus Syamsul Huda, untuk ikut mengabdi di lembaga pendidikan tersebut.

Dalam perkembangannya, Kyai Syamsul Huda tidak hanya mengajar di madrasah ibtidaiyah. Beliau juga terlibat dalam perintisan pendidikan lanjutan setelah sekolah dasar di Pacet, yaitu PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama) yang kemudian berkembang menjadi MTs Pacet Mojokerto. Tidak lama kemudian berdirilah pula Madrasah Aliyah Pacet, yang kini bersama MTs tersebut berada di bawah naungan Yayasan Surban Pacet.

diskon

Dedikasi dan kepribadian Kyai Syamsul Huda yang penuh pengabdian menarik perhatian pendiri MI Mojoroto. Akhirnya beliau berkenan menjadikan Kyai Syamsul Huda sebagai menantunya. Pada tahun 1969, beliau menikah dengan putri beliau, Ibu Nyai Tsanawiyah Syamsu. Pernikahan ini menjadi penyatuan dua kekuatan dakwah dalam membesarkan NU di Pacet. Jika Kyai Syamsul Huda bergerak di lini utama organisasi aktif dalam kegiatan NU baik secara kultural maupun struktural, Ibu Nyai Tsanawiyah menjadi motor penggerak Muslimat NU, menyentuh lapisan ibu-ibu pedesaan untuk sadar akan pentingnya pendidikan dan agama.

Pada tahun 1972, beliau mulai masuk dalam struktur organisasi NU. Masa itu bukanlah masa yang mudah. Pada era pemerintahan Soeharto, aktivitas organisasi sering mendapat pengawasan ketat dari aparat. Para tokoh NU kerap dipanggil, bahkan diinterogasi oleh pihak militer melalui Koramil di tingkat kecamatan. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis NU. Sikap NU yang independen dan tidak mudah terkooptasi oleh kekuasaan membuat organisasi ini kerap dipandang kritis oleh penguasa. Meski demikian, Kyai Syamsul Huda bersama sang istri tetap teguh berjuang, mengabdikan diri dalam pendidikan, dakwah, dan penguatan organisasi umat.

Perjalanan Kyai Syamsul Huda Amir adalah potret keteguhan seorang santri. Dari bilik pesantren di Jowinong hingga menghadapi moncong kekuasaan di Pacet, beliau membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu harus di panggung besar, melainkan di akar rumput melalui pendidikan yang berkelanjutan. Dari pengabdian yang panjang itulah, lahir banyak kader dan tokoh NU di kawasan Pacet yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.

Bersambung….

Imron Rosyadi

Seorang pria kelahiran bumi Majapahit, Mojokerto. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Pria yang akrab disapa Kaji Imron ini juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain sibuk berdagang, beliau juga aktif berkhidmah di MWC NU Pacet, Mojokerto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button